Feeds:
Posts
Comments

Jangan keburu ngeres dulu membaca judul kiriman saya kali ini. Judul ini berkaitan dengan lahan perparkiran di Jepang. Seperti yang selalu saya kemukakan, karena wilayahnya yang terbatas, orang Jepang memutar otak mereka lebih cepat daripada orang negeri mana pun untuk mengatasi keterbatasan lahan yang mereka miliki. Ya, karena keterbatasan lahan itulah, rumah-rumah di Jepang terkenal sangat mungil. Jangan bandingkan dengan rumah di Indonesia yang lebar-lebar. Tinggal di tempat tinggal dengan luas tanah 90-100 m2 di Jepang sudah merupakan kemewahan.

Karena sempitnya lahan, masalah parkir di Jepang juga sangat krusial. Susah sekali mencari tempat parkir di kota-kota besar seperti Yokohama atau Tokyo. Kalaupun ada, sangat mahal. Bisa juga sih kalau mau nekat parkir di pinggir jalan. Namun, jangan kaget kalau nanti dikenakan tilang oleh polisi dan harus merogoh kocek paling tidak 15,000 yen (kira-kira setara dengan 1,5 juta rupiah untuk kurs saat tulisan ini ditulis). Parkir sembarangan di lingkungan tempat tinggal pun harus hati-hati. Salah-salah diprotes tetangga, dan akhirnya jadi urusan polisi. Bahkan, kita juga harus hati-hati kalau parkir di depan toko atau apa saja di tepi jalan yang sebenarnya tidak ada tempat parkir.

Jadi, jangan harap kita bisa bebas memarkir mobil kita di sebarang tempat-meskipun di sekitar rumah sendiri-kalau itu bukan di tempat peruntukannya. Lalu, bagaimana jika di sebuah rumah ada yang memiliki lebih dari satu mobil? Tentu saja, kita tidak bisa memarkirnya secara konvensional baik paralel maupun seri sekaligus akibat terbatasnya lahan. Juga karena alasan mengganggu ketertiban umum, kita tidak bisa seenaknya menaruh mobil kedua di jalanan depan rumah seperti yang sering terlihat di Indonesia. Nah, untuk mengatasi kesulitan tersebut, beberapa rumah di Jepang menggunakan sistem parkir vertikal. Jadi, mobilnya diparkir paralel, tetapi bukan menyamping, melainkan ke atas. Mobil yang pertama diletakkan di lantai landasan pada alat parkir vertikal. Kemudian, dengan mesin penggerak lift yang sudah tersedia pada alat tersebut, mobil pertama itu diangkat. Lalu, bagaimana mobil kedua? Nah, mobil kedua bisa disimpan di ruang yang ada di bawah landasan yang sudah diangkat tadi. Sulit membayangkannya? Silakan lihat di dalam gambar di bawah ini.

09052009(2)


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

“Sebelum memulai cerita ringan di bawah ini, izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Adhe (cukup panggil dengan nickname saja), berdomisili di Bandar Lampung, bekerja sebagai “Tukang Buat Akte”, ibu dari 2 anak laki-laki, senang membaca dan juga menulis. Bermula dari perjumpaan dengan Totok dan Dauz, teman lama dari sebuah sekolah menengah di Jakarta, saya diajak serta untuk menjadi kontributor blog ini. Karena hobi saya sama dengan mereka, menulis dan menjeprat-jepret dengan kamera ponsel, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dan mengawalinya dengan tulisan yang berjudul ‘Belajar dari Kebun Jeruk’. Selamat membaca.”

Panas di penghujung bulan April begitu menyengat ketika saya menapaki jalan tanah yang biasa dilewati gerobak sapi. Hari itu saya membawa tiga puluhan nasi bungkus untuk pekerja di kebun jeruk. Jalan menuju kebun memang tidak selalu mulus. Naik turun, berkelok-kelok. Tidak semua jenis kendaraan bisa melintas masuk ke jalur ini, kecuali truk dan mobil bertipe off-road.

Dengan langkah pelan tetapi pasti, dan bermodalkan jilbab sebagai “payung” pelindung panas, sampai juga saya ke tengah kebun jeruk. Langsung terlihat “pemandangan” para buruh petik yang duduk kelelahan di bawah pohon kelapa. Ya, lokasi kebun jeruk itu bersebelahan sama kebun kelapa. Ada juga yang ngaso di bawah gubuk untuk berteduh.

Kata yang pertama terucap ketika bertemu mereka adalah “Maaf ya, Ibu dan Bapak udah lama nunggu, saya terlambat datang.” Iyalah, mereka memang duduk manis menunggu saya datang. Tentu saja bukan cuma saya yang dinanti-nanti, tetapi bingkisan nasi bungkus yang saya bawa. Saya paham betul mereka belum makan karena menunggu saya. Maafkan, seharusnya saya cepat-cepat berangkat tadi, tetapi karena masih ada urusan ya gimana lagi? “Nggak apa-apa, Bu. Kami juga masih ngaso kok. Ini juga ada minuman dan buah jeruk,” kata Pak Tukimin, salah seorang dari mereka membuyarkan rasa tidak nyaman saya.

Saya langsung merambah kebun jeruk yang ada di hadapan mata. Wah, banyak banget buahnya, sampai-sampai pohonnya tidak kuasa menahan berat dan agak doyong ke bawah. Aku melihat satu truk Fuso sedang memuat buah jeruk. Hilang sudah rasa penat akibat terik matahari Lampung karena senang melihat jeruk-jeruk bergelayutan di sana-sini.

20042009(012)

Saya tidak hanya melihat dan ikut memetik buah jeruk, tetapi juga menjeprat-jepret suasana kebun lewat kamera ponsel. Sempat juga berbincang-bincang dengan pembuat gula aren. Kenapa gula aren? Ya karena ada pondok pemrosesan gula aren di dekat lokasi kebun jeruk. Seorang ibu tekun mengaduk panci besar berisi air dari pohon kelapa aren. Rupanya cara mendapatkan air aren itu dengan meletakkan jerigen di atas pucuk pohon kelapa. Nah, air yang sudah tertampung di dalam jerigen itulah yang kemudian dimasak hingga kalis. Terakhir adonan aren itu dicetak dalam cetakan bambu yang bentuknya mirip cetakan kue putu.

Ketika saya tanya berapa harganya, si Ibu menjelaskan bahwa harganya Rp5.000 rupiah/kilo. Hmmm … lumayan murah. Jika harus bekerja membuat gula aren dalam kondisi udara yang panas dan berpeluh di sekitar tungku pemasak, rasanya nggak kebayang bahwa “kerja keras” seharian itu hanya menghasilkan sekian ribu rupiah. Tetapi itulah kehidupan wong cilik. Mereka tetap bisa mensyukuri apa yang mereka terima dari-Nya. Yah, kita memang harus banyak belajar dari wong cilik untuk menyikapi hidup secara arif dengan kesederhanaan hidup yang mereka lalui.

Si Ibu pembuat gula aren ini, agak malu saat saya potret dia sedang mengaduk air kelapa aren yang sedang mendidih. Dengan santai saya bilang, “Udah, Ibu gak usah malu. Berdiri aja di situ, biarkan saya mengambil foto ibu.” Dia lalu tersenyum geli mungkin sambil berpikir, “Tumben. Kok ibu ini mau memotret orang yang lagi buat gula aren.” Ternyata bukan hanya orang desa yang terbengong-bengong ketika berkunjung ke kota, orang kota pun ketika turun ke desa juga bisa menjadi terkagum-kagum.
pedagang aren

Sambil pulang di dalam kendaraan yang “adem”, saya memikirkan kembali betapa kerasnya orang-orang kecil dalam bekerja. Makin sering bersentuhan dengan kehidupan mereka, makin banyak hal bijak yang bisa kita peroleh.


(mataponsel-image captured by Nokia 6120 Classic, with 2MP built-in camera)

Hari ini saya coba membeli mangga produk Meksiko. Saya penasaran untuk mencoba rasa buah segarnya karena selama ini saya hanya mengonsumsi secara tak langsung lewat jus atau puding. Ternyata Meksiko adalah salah satu produsen mangga terbesar di dunia dan pemasok mangga terbanyak ke pasaran Amerika Serikat dan juga Jepang. Jika dulu sebelumnya pasaran mangga di Jepun dikuasai oleh Filipina, kini tercatat bahwa pemasok mangga terbesar di Jepang adalah Meksiko. Ironisnya, pohon mangga yang pertama kali masuk ke Meksiko pada abad 17 justru datang dari Filipina lewat tangan kolonis Spanyol.

Salah satu produk mangga andalan Meksiko adalah Tomy Atkins. Semula saya pikir mangga ini justru berasal dari Brazil karena saya menemukan mangga jenis ini yang berlabelkan Product of Brazil. Mangga Tomy Atkins berbentuk oval dengan kulit hijau semburat kemerahan ketika masak. Dagingnya berwarna oranye seperti mangga harumanis. Rasanya? Yummy. Seperti paduan mangga dermayu dan harumanis. Tak heran kalau dibandrol dengan harganya cukup mahal di Jepang. Sekitar 4 US dollar per biji. Makanya, hanya karena penasaran dan ingin membuat tulisan lanjutan tentang mangga, saya membeli dan mencicipinya. Ternyata rasanya enak. Namun, menurut saya, mangga Tomy Atkins ini masih sepupuan dengan mangga gincu dari Indramayu. Semburat merah kulitnya, juga rasanya yang campuran antara mangga dermayu dan harumanis.

Lain Meksiko, lain pula Malaysia. Pada bulan ini, Pemerintah Malaysia tampaknya tertarik untuk bermain dalam kancah permanggaan di Jepang. Memang pasaran mangga di Jepang menjanjikan. Akhir-akhir ini konsumsi mangga naik cukup signifikan di Jepang, terutama menjelang musim panas. Nah, yang membuat saya terkejut adalah berita bahwa Pemerintah Malaysia berniat untuk memasukkan harumanis ke Jepang. Pengetesan mangga harumanis pun telah dilakukan oleh Duta Besar Jepang untuk Malaysia. Perkebunan mangga harumanis nampaknya telah dikembangkan di negara bagian Perlis. Semula saya pikir harumanis hanya ada di Indonesia. Namun, perkiraan saya salah ternyata. Varietas mangga ini mungkin memang tersebar luas dari mulai semenanjung hingga ke wilayah Jawa dan Nusa Tenggara. Namun, lagi-lagi pemerintah kita kalah gesit dan ulet untuk memasarkan mangga meskipun varietas mangga kita melimpah ruah. Jadi, kalau sampai Malaysia berhasil meyakinkan Jepang untuk memasukkan harumanis, hmmmm …

31052009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Di Jepang, musim panas selain identik dengan yukata, festival, dan kembang api, juga identik dengan buah tropis, seperti semangka, nanas, dan sebagainya. Mengapa buah-buahan tropis? Mungkin karena buah-buahan tropis mempunyai kandungan air yang tinggi. Jadi, udara musim panas yang menyengat dan menyebabkan kerongkongan kering dapat dinetralisir dengan menyantap semangka potongan.

Di antara buah-buahan tropis, yang paling tersohor adalah mangga. Ya, mangga yang berair, manis dan legit memang menggoda di waktu-waktu panas. Karena kebanyakan mangga adalah buah impor, harga mangga tidak murah di Jepang. Bahkan mangga domestik dari Okinawa harganya lebih mahal daripada yang impor. Akibatnya, sangat jarang orang Jepang makan mangga potongan. Di restoran pun biasanya buah penutupnya kalau tidak semangka, ya melon.

Lalu, gimana caranya mangga cukup populer di Jepun sementara orang Jepang jarang makan mangga potongan? Ya, mereka mengonsumsi mangga olahan, misalnya es krim mangga, manisan mangga yang dikeringkan, jus mangga, dan sebagainya.  Banyaknya produk mangga olahan menjelang musim panas cukup mencolok untuk tidak menyebut mangga cukup populer di Jepang. Biasanya menjelang musim panas, produsen minuman mengeluarkan produk khusus musim panas. Umumnya produk minuman tersebut adalah yang beraroma mangga. Ada yang berupa jus atau sari buah mangga, atau rasa campuran (mixed fruit) misalnya mangga dan jeruk, mangga dan melon, dan sebagainya.

Kali ini saya tidak berbicara panjang lebar tentang produk mangga olahan, namun saya ingin berbincang tentang mangga beneran. Coba lihat gambar mangga nan menggiurkan di bawah ini.

16052009

Foto ini saya ambil ketika saya berkunjung ke Festival Thai pada 15-16 Mei yang lalu. Saya terkejut dengan begitu massifnya impor buah-buahan dari Thailand. Tidak hanya mangga, tetapi juga durian, manggis, dan buah naga. Namun, tentu saja, di antara semuanya mangga yang paling dinikmati. Sebelum ini, negara utama pengekspor mangga ke Jepang adalah Filipina dan Meksiko dengan jumlah 14.000 ton per tahun. Menurut saya, rasa mangga dari Filipina tidak begitu enak: tidak manis, sedikit asam dan kadang-kadang tawar. Untuk mangga Haden Meksiko saya belum pernah membeli buah segarnya karena mahal dan jarang. Namun, dalam bentuk olahan saya pernah merasakannya. Dan rasanya pun masih ada asamnya.

Sejak tahun 2004, Brazil mulai ikut bermain dengan memasok sekitar 5000 ton mangga jenis Tomy Atkins. Sayang, saya belum pernah mencobanya. Brazil mendapatkan izin ekspor setelah negosiasi panjang dengan Jepang. Pada tahun 2007, giliran India yang bisa meyakinkan Jepang tentang mangga andalannya: mangga Alphonso. Tidak tanggung-tanggung India melobi Jepang selama puluhan tahun! Saya pernah mencoba mangga Alphonso dan menurut saya masih kalah rasanya dengan mangga harum manis van Indonesia.

Pernah terbit harapan saya Pemerintah Indonesia mau melobi terus Departemen Pertanian Jepang untuk memasukkan produk pertanian Indonesia, khususnya mangga. Ya, kita punya varietas unggul mangga yang rasanya mengalahkan mangga Filipina, Meksiko, bahkan Alphonso. Sebut saja mangga manalagi, mangga indramayu, mangga situbondo, dan yang paling spektakuler rasanya menurut saya adalah mangga harum manis. Jadi, kalau mangga harum manis sampai masuk ke Jepang, pasti mangga dari negara lain lewat, begitu pikir saya.

Namun, harapan tinggal harapan. Bukan rahasia lagi kelincahan diplomat kita berdiplomasi mungkin termasuk paling rendah di Asia Tenggara. Makanya, saya kaget ketika Thailand berhasil meyakinkan Pemerintah Jepang untuk mengizinkan mangga Thailand masuk. Rasanya … hmmm … tidak jauh dengan mangga harum manis. Harganya pun bersaing dengan harga mangga negara lain. Meskipun harganya kira-kira 2 US dollar per biji, saya mulai melihat rak buah-buahan di supermarket Seiyu di dekat rumah saya mulai dipenuhi Mangga berlabel Product of Thailand. Ah, … seandainya itu harum manis.

17052009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Mengapa sebagian orang Jepang menanggapi BLT 2009 dengan negatif? Menurut mereka, jika dibandingkan dengan Indonesia, di Indonesia lebih jelas siapa yang dibantu. Lepas dari pelaksanaannya yang kadang amburadul, namun di Indonesia sasarannya lebih jelas: membantu mereka yang memang miskin dan paling menderita dalam situasi ekonomi sekarang. Di Jepang, BLT diberikan kepada semua penduduk asalkan mereka terdaftar sebagai penduduk. Terdaftar sebagai penduduk artinya mempunyai kartu keterangan jati diri atau meibunsyoumeisyo (名文証明書). Jadi, dari mulai CEO Toyota Motor International hingga para freeters (istilah untuk mereka yang tidak punya pekerjaan tetap dan lebih suka [atau terpaksa?] memilih pekerjaan sambilan); dari mulai bayi yang baru bisa membedakan warna gelap dan terang, hingga seorang kakek yang sudah tidak mampu berdiri lagi karena usianya, semuanya mendapat BLT atau teigakukyuufukin asalkan terdaftar.

Jika sasarannya untuk membantu penduduknya menghadapi krisis finansial, tentu saja alasannya agak sumir karena itu semua tergantung pada dari kelas mana penduduk itu berasal. Jika dia memang hanya berpendapatan di bawah 60 ribu yen tiap bulan, mungkin akan terbantu meskipun hanya sesaat. Namun, bagi seorang pemilik usaha kondominium di bilangan Roppongi, Tokyo, uang 12 ribu yen tidak berarti apa-apa karena hanya akan habis untuk ongkos satu kali makan siangnya saja. Terlebih lagi, jika dibandingkan di Indonesia yang jangka waktu pemberian BLT-nya berkala dan cukup panjang, BLT Jepang hanya diberikan satu kali. Jadi, efek membantu bagi mereka yang membutuhkan tentu tidak begitu signifikan; apalagi model mahasiswa dengan sangu pas-pasan semacam saya ini.

Persoalan lain lagi adalah, menurut rekan-rekan Jepang yang saya hubungi, karena yang mendapatkan hanyalah mereka yang sudah terdaftar dan punya kartu keterangan jatidiri, para tunawisma-yang biasanya tidak punya dukungan finansial cukup-justru tidak. Mengapa begitu? Para tunawisma di Jepang–yang notabene justru paling membutuhkan BLT dan perlu dibantu–kebanyakan tidak punya kartu jatidiri dan tidak terdaftar di pemerintah daerah mana pun. Jadi, artinya, mereka yang paling berada pada posisi paling bawah dalam struktur masyarakat Jepang dari sudut pandang ekonomi ini justru cuma bisa menggigit jari.

Lalu, dari mana pemerintah Jepang mendapatkan dana untuk BLT ini? Menurut sebuah sumber, itu diperoleh dari pajak masyarakat dan obligasi (surat utang) yang dikeluarkan pemerintah. Nah, oleh karena itu, kebijakan ini cukup banyak yang menentang. Mengapa untuk membantu pemerintah harus mengutang atau mengambil dana masyarakat? Artinya kan sama saja masyarakat dibantu dengan uang mereka sendiri? Jadi, beberapa teman Jepang saya berpendapat: mengapa kalau mau membantu masyarakat tidak diturunkan saja pajak pendapat atau pajak barang non-mewah untuk periode selama krisis atau resesi ini? Jawaban sih sudah pasti: mana ada pemerintah, terutama negara maju, yang mau kehilangan pendapatan melalui pajak? Ya enggak, Uz?

09052009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

03052009Di Indonesia masalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) menuai komentar baik yang positif maupun yang negatif. Ada yang mengomentari dengan “Lebih baik memberikan ‘alat pancing’ daripada ‘ikan’-nya.” Ada yang mencurigai incumbent sengaja memanfaatkan BLT sebagai strategi kampanye. Dan juga pendapat lain yang riuh rendah.

Ternyata di Jepang, negeri yang termasuk maju dan merupakan kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia, ada juga kebijakan sejenis BLT  untuk menghadapi krisis dan resesi ekonomi yang meluluhlantakkan nyaris seluruh industri berbasis teknologinya. Foto di atas memperlihatkan amplop dan surat edaran pemerintah Jepang kepada penduduk tentang kebijakan tersebut.

Ada yang pro dan kontra juga soal BLT yang dalam bahasa Jepang disebut teigakukyuufukin (定格給付金)  ini. Namun, yang menarik penerima BLT bukan hanya warga negara Jepang. Kami, penduduk asing, pun mendapatkannya asalkan sudah terdaftar sebagai penduduk sementara Jepang per 1 Februari 2009. Yang lebih menarik lagi, tidak hanya orang miskin atau di bawah garis kemiskinan, tetapi semua penduduk Jepang, baik warga asli maupun pendatang, yang tercatat dalam registrasi di kantor kependudukan.

Jadi, hampir seluruh penduduk Jepang dari 0 tahun hingga usia lanjut mendapatkan jatah uang subsidi krisis ekonomi dengan jumlah beragam. Uang subsidi sebesar 12.000 yen diberikan kepada mereka yang berusia di antara 18 dan 64 tahun. Di luar usia produktif itu, pemerintah Jepang menghadiahi warganya dengan uang bantuan sebesar 20.000 yen. Nah, silakan dikurskan sendiri berapa jumlah uang bantuan tersebut. Uang tersebut tentu saja tidak terlalu besar apabila digunakan untuk hidup di Jepang, terutama di wilayah Tokyo dan sekitarnya–yang menurut sebuah survei tahun 2009 kini menduduki posisi kota termahal di muka bumi. Namun, pemerintah Jepang berharap agar bantuan tersebut dapat membantu meringankan beban penduduk Jepang dalam menghadapi krisis finansial 2009.

Bagaimana tanggapan orang Jepang tentang hal itu? Ternyata tanggapan orang Jepang terhadap BLT atau teigakukyuufukin cukup beragam. Namun, yang mengagetkan, tidak semua orang Jepang cukup senang menerima bantuan tersebut. Bahkan mantan Perdana Menteri Jepang Koizumi termasuk yang tidak setuju. Dalam rapat pemutusan kebijakan bantuan tersebut, Koizumi walk-out dari rapat. Sebagian rekan Jepang yang saya hubungi juga menganggap itu adalah kebijakan paling bodoh yang pernah diambil oleh pemerintah Jepang.

Lalu, apa alasan orang Jepang yang tidak senang dengan kebijakan ini? Silakan lihat di bagian kedua dari tulisan bersambung ini.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

08042009Ada beberapa kelebihan dan sekaligus kekurangan bagi mereka yang tinggal di luar negeri berkenaan dengan Pemilihan Umum atau Pemilu 2009. Tak terkecuali bagi kami yang tinggal di Jepang. Kelebihannya adalah kami sudah mendapatkan surat suara dari PPLN Tokyo sejak dua atau tiga minggu sebelum pelaksanaan pemilu. Kami juga bebas menentukan untuk memilih yang kami suka secara lebih bebas dan personal. Bebas karena tidak terikat waktu dan tempat seperti saudara-saudara di Indonesia yang kudu datang ke TPS dan hanya pada hari Kamis, 9 April 2009, pada jam yang sudah ditentukan. Jangan harap kita mau diterima petugas ketika datang ke TPS pada jam 3 pagi, atau jam 5 sore.  Personal karena kami bisa memilihnya di rumah kami, di taman, di sekolah, di bangku Starbuck’s, dan bahkan di toilet (kalau mau).  

Lalu bagaimana menyampaikannya ke PPLN? Ya, lewat cara standar alias dikirim via pos. Barangkali di Pemilu 2014 sudah ditemukan cara baru, misalnya iPemilu. Para pemilih diberikan user/voter ID  (identitas pemilih) dan password (kode masuk). Kemudian, seperti tes TOEFL iBT, PPLN membuka kesempatan bagi semua WNI yang sedang berada di LN untuk memilih dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Hasil vote atau pilihan dikirim dan disimpan dalam bentuk PDF (sebagai bukti memilih) di dalam HD komputer si pemilih. Identitas pemilih yang sudah menunaikan kewajibannya langsung diblokir agar tidak bisa lagi mengakses i-Bilik Suara.  Akan tetapi, sebagaimana biasanya sebuah sistem, tetap saja ada lubang-lubang yang harus dicermati dan ditutup. Namun, enggak salahnya dicoba di masa mendatang.

Di antara kelebihan memilih di LN, ada juga kekurangannya. Kami tidak tahu banyak tentang siapa yang sebaiknya kami pilih karena kurangnya minimnya informasi dan sosialisasi. Ya maklum saja, mungkin sulit para caleg itu mempromosikan diri satu per satu kepada kami yang terpencar-pencar di luar negeri ini. Barangkali jejaring sosial semacam Facebook atau Friendster bisa dimanfaatkan sebenarnya. Bukan tidak ada caleg di pemilu sekarang yang sadar untuk memanfaatkan jejaring sosial itu, namun kebanyakan mereka berasal dari daerah pilihan lain; sementara daerah pilihan kami secara fait accompli sudah digariskan oleh KPU: Daerah Pemilihan II DKI Jakarta! Nah, mereka yang berasal dari daerah pemilihan ini lupa bahwa mereka tidak hanya dipilih oleh mereka yang tinggal di DKI Jakarta yang tentu saja well-informed, atau kadang-kadang malah sudah pada tahap over-informed. Jadi, banyak di antara mereka yang jarang memanfaatkan jejaring sosial.

Meskipun demikian, karena adanya kelebihan dalam soal waktu dan tempat bagi kami yang tinggal di LN, minimnya informasi bisa disiasati dengan melihat profil caleg lewat pelbagai sumber di internet. Alhasil, mahaguru Google-lah yang menjadi tumpuan kami. Lewat Google, Yahoo, atau search engine lain, kami dapat menjaring pelbagai latar informasi seputar target atau caleg. Namun, itu bagi mereka yang peduli. Bagi yang enggak, ngapain capek-capek nge-Google buat cari caleg? Mending cari yang lain …


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Dalam beberapa hari mendatang, Indonesia akan menjalani pesta demokrasi yang cukup akbar. Dampaknya sudah bisa kita rasakan bahkan sejak tahun lalu. Pohon, tembok, pagar, body kendaraan nyaris semua ruang publik telah berubah menjadi arena bagi para calon (baik legislatif maupun eksekutif) untuk berperang image, bermain kata, dan juga berlomba-lomba menunjukkan siapa yang paling “wah”. Protes beberapa warga yang merasa ruang pemandangan publiknya terampas seolah-olah diabaikan oleh para pehura-hura politik yang terus saja melahap semua tempat yang masih kosong dari reklame politik. Ketidakpedulian ini mungkin juga disebabkan oleh keriuhan pesta politik lima tahunan yang sejak dulu memang selalu tidak lepas dari keingarbingaran yang kadang-kadang lepas kendali.

Lalu, bagaimana di Jepang? Di Jepang, pemilihan tingkat nasional diadakan hanya untuk badan legislatif nasional  (国会: kokkai), yakni untuk memilih anggota majelis tinggi (主議員: shugi-in), tiap empat tahun, dan anggota majelis rendah (参議員: sangi-in), tiap tiga tahun. Nah, hampir sama dengan Indonesia, pada tahun ini, sekitar bulan September akan diadakan pemilihan anggota majelis tinggi. Biasanya pemilihan diadakan pada hari libur, dan bukan hari yang diliburkan. Misalnya, hari Minggu.

Kemudian, yang juga berbeda adalah keikutsertaan masyarakat terhadap pesta demokrasi tersebut. Di Indonesia terlihat begitu gegap gempita, sementara di Jepang–paling tidak selama saya tinggal di sini–terlihat begitu santai dan nyaris seperti tidak ada perhelatan apa-apa. Kalaupun tiba masa kampanye, biasanya para jurkam dan caleg akan berkampanye di spot yang sudah ditentukan, misalnya di depan stasiun kereta tempat berkumpulnya ribuan bahkan jutaan manusia. Namun, pemandangan yang sering terlihat adalah bahwa mereka yang kampanye asyik bercuap-cuap, sementara mereka yang berlalu-lalang tetap saja berlalu cepat-cepat sambil sesekali memperhatikan layar ponsel mereka: tidak peduli. Ya, tingkat partisipasi politik, terutama di kalangan orang muda, di negara-negara maju–seperti Jepang misalnya–memang relatif rendah. Bagi mereka–terutama yang berasal dari kelas menengah–asalkan tidak berpengaruh besar terhadap hajat hidup mereka, siapa pun yang terpilih tidak ada masalah.

Yang sangat berbeda lagi adalah poster dan tempat menaruh poster. Saya perhatikan di Indonesia hampir semua ruang publik yang kosong tidak luput dari poster caleg dan atribut partai. Mulai pagar pembatas jalan tol hingga batang pohon di tepi jalan semuanya menjadi ruang pamer reklame politik. Ukurannya pun tidak terbatas. Dari mulai ukuran A4 sampai ukuran satu lapangan tenis (kalau mampu atau ada uang), semuanya hayuk aja!

Di Jepang, semuanya diatur sedemikian rupa. Tidak semua ruang publik bisa ditempeli poster caleg dan jumlahnya pun tidak bisa semena-mena. Tidak pernah saya lihat satu poster yang sama ditempelkan di lokasi sama atau berdekatan lebih daripada 2 lembar. Jadi, ruang publik tidak tertutupi semua oleh poster caleg. Kemudian, ukuran pun sudah ditentukan tidak boleh lebih dari A1 (594 × 841 mm).  Lebih daripada itu, pemasang poster akan berurusan dengan pihak kepolisian. Isi poster pun biasanya hanya berupa foto si calon, motto atau slogan (biasanya hanya satu frase atau satu kalimat), dan nama partai. Jadi, tidak ada informasi misalnya si caleg adalah keturunan atau orang tua si fulan, gelar akademis caleg, dst.  Contohnya bisa dilihat pada dua contoh poster di bawah ini.

13022009
130220092
Jika kita perhatikan, kedua contoh poster di atas amat simpel alias sederhana, namun justru berkelas. Nah, poster yang sederhana dan simpel itu hanya berfungsi sebagai pengingat atau drill agar calon pemilih bisa mengingat kembali nama calon. Mengapa “mengingat kembali”? Ya, karena biasanya para calon legislatif tersebut biasanya sudah sering berhubungan dengan masyarakat melalui aktivitas sosial, politik dan lain-lainnya. Nama dan sepak-terjang mereka paling tidak sudah dikenal oleh konstituennya. Jadi, mungkin sulit ditemukan caleg karbitan di Jepang yang–misalnya–selama ini berdagang kain dan membuka toko kelontong, namun ketika giliran musim nyaleg tiba, lalu coba-coba mengadu nasib dengan ikut undian pileg (pemilihan legislatif).  Nah, jadi sudah betul-betul kenalkah Anda dengan caleg pilihan Anda? Ingat, waktu pergi ke TPS sudah makin dekat lho!


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

05022009

Jika melihat gambar di atas, kita mungkin bertanya-tanya ada apa di balik pintu sana? Tirai kain atau noren (暖簾) itu bertuliskan dansei onsen (男(性)温(泉)) yang menunjukkan bahwa pintu itu menuju ke onsen untuk laki-laki. Lalu, apakah onsen itu? Onsen dalam arti sebenarnya adalah sumber air panas atau hot springs. Namun, kini kata onsen lebih sering digunakan untuk mengacu kepada fasilitas pemandian air panas yang tersedia di hotel, inn, atau penginapan di sekitar sumber air panas. Sebagai negara yang terletak di wilayah pegunungan yang aktif, tentu saja terdapat ratusan hingga ribuan sumber air panas nyaris di seluruh Jepang.

Onsen menjadi salah satu pusat daya tarik dalam dunia pariwisata di Jepang, khususnya bagi kalangan wisatawan domestik. Secara tradisional, onsen telah digunakan sebagai tempat pemandian umum sejak berabad-abad silam. Meskipun demikian, berbicara tentang tempat pemandian umum, memang ada pulayang bernama sentou (銭湯). Agar tidak membingungkan, sentou biasanya adalah tempat pemandian umum yang terletak di kota atau desa  yang jauh dari sumber air panas. Pada masa silam, memang kelihatannya keberadaan kamar mandi di rumah bukanlah hal yang umum. Jadi, banyak orang Jepang yang pergi ke sentou atau onsen untuk mandi. Namun, sejak pertengahan abad kedua puluh, jumlah sentou pun makin lama makin berkurang.

Meskipun demikian, sebenarnya tidak ada aturan ketat mengenai pembedaan onsen dari sentou karena kadang-kadang sentou bisa juga disebut onsen jika air mandinya bersumber dari mata air panas. Pada era teknologi modern, lebih sulit lagi membedakan sentou dengan onsen karena ada onsen terkenal yang bernama Ouedo Onsen Monogatari (大江戸温泉物語) di Odaiba, Tokyo, yang dari posisinya terletak sangat jauh dari sumber air panas di pegunungan karena berada di tepian Teluk Tokyo. Semula saya ragu dari mana mereka mendatangkan air panasnya karena mereka mengklaim bahwa air mandinya adalah air panas alami. Namun, ternyata, itu benar. Berkat kemajuan teknologi, air mandinya diambil dari sumber mata air yang terletak 1400 meter di bawah tanah Teluk Tokyo!

Ada beberapa jenis dan bentuk onsen, termasuk di dalamnya onsen luar-ruang, rotenburo atau notenburo (露天風呂 atau 野天風呂), dan onsen dalam-ruang. Fasilitas pemandian onsen baik yang dikelola oleh publik, misalnya oleh kotapraja, maupun oleh swasta (uchiyu = 内湯) biasanya dijalankan sebagai bagian dari hotel atau penginapan tradisional Jepang (ryoukan (旅館)).  Biasanya onsen ditemukan di wilayah pegunungan atau luar kota. Oleh sebab itu, ia menjadi daya tarik yang kuat di antara wisatawan domestik, baik pasangan muda, keluarga, kelompok mahasiswa, atau rombongan karyawan yang ingin melepaskan diri dari kepenatan hidup sehari-hari.

Biasanya, di onsen memang dipisahkan antara ruang mandi laki-laki dan perempuan (seperti yang ditunjukkan pada foto di atas). Sebelum masuk ke ruang pemandian, tiap orang biasanya harus menanggalkan semua busananya dan hanya membawa keperluan mandi seperti sikat gigi, pasta gigi, dan handuk kecil karena semuanya, termasuk sabun dan sampo telah disediakan. Di dalam ruang pemandian, biasanya ada tiga atau lebih kolam air panas untuk berendam, serta beberapa tempat untuk berbilas, berkeramas, dan lain-lain. Selain itu, kadang-kadang ada pula tempat untuk mandi uap. Biasanya orang Jepang, sebelum dan sesudah masuk kolam pemandian, mencuci atau membilas tubuh mereka.

Karena berendam di onsen umumnya dilakukan secara bugil, orang Jepang sering menyebut kegiatan itu “pergaulan bugil” hadaka no tsukiai (裸の付き合い). Ya, biasanya di ruang onsen itu mereka menghabiskan waktu berendam dan mengobrol ke sana kemari melepaskan penat setelah bekerja atau belajar di kota-kota besar.

Biasanya keberadaan onsen ditandai dengan kanji yu (湯)-yang berarti air panas-atau hiragana yu (ゆ) untuk memudahkan anak-anak mengenalinya. Nah, tertarik pergi ke onsen?


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

helm-100001

Rasanya pantas juga meminjam salah satu slogan dagang kota Jogja yakni “Neverending Asia” untuk kota Jakarta dan penduduknya. Kalau dalam posting sebelumnya saya mengungkap kreativitas pengendara kendaraan bermotor di Jakarta dan sekitarnya, sekarang saya menyoroti hal yang sepertinya sama pada pedagang asongannya. Mudah-mudahan foto di atas cukup jelas dan mudah-mudahan Anda juga tidak menderita katarak. Anda betul sekali jika menebak pedagang kaki lima yang berjualan helm. Saya seharusnya berdiskusi dulu dengan Totok perihal mana yang baku, ‘helm’ atau ‘helmet’. Untuk sementara kita pakai helm saja ya?

Yang mungkin membuat Anda takjub dan mungkin setengah tidak percaya adalah harganya. Yap, harga yang dibanderol untuk setiap helm cuma Rp 10.000 alias ce ban. Fantastis bukan? Saya sendiri, yang belum pernah mengamati lebih cermat serta memegang helm seperti itu, hampir-hampir tidak percaya. Pertanyaan dalam hati saya adalah: berapa ongkos produksinya ya?

Di zaman serba sulit seperti ini memang sukar, kalau tidak bisa disebut mustahil, memahami fenomena-fenomena yang ajaib seperti ini. Saat orang terpaksa memakai ulang tas plastik kresek, bukan lantaran sudah sadar lingkungan tetapi karena lambat laun harga bijih plastik yang naik terus, memang sulit memahami harga jual helm itu. Tambahan lagi jika memakai latar definisi fungsi helm yang saya kutip dari sebuah kamus yakni: ”a hard or padded protective hat, various types of which are worn by soldiers, police officers, firefighters, motorcyclists, athletes, and others”. Rasanya, harga Rp10.000 untuk sebuah pelindung kepala itu semakin ajaib saja. Syukur saya tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan jawabannya.

Beberapa hari lalu, ketika melintas dengan Spark kesayangan, saya melihat sesuatu teronggok di ‘separator’ (Tok, istilah ini sudah banyak dipakai pegawai dinas tata kota, lho!) jalan. Setelah saya amati ternyata benda tersebut adalah helm Rp10.000 yang ajaib itu! Dalam kondisi pecah berantakan, memang sulit menerka benda apa itu awalnya. Kelihatan sekali ketebalan plastiknya hanya berbeda tipis dengan plastik botol kemasan air mineral. Tampak pula tidak ada bantalan dalam yang melindungi bagian dalam helm.

Tiga hari kemudian setelah kejadian itu, saya sempat melihat lagi benda yang sama hanya beda warna, juga dalam kondisi yang hampir serupa. Juga di beberapa hari berikutnya. Sontak kekaguman saya berubah jadi sebal. Buat saya keselamatan berkendara itu sangat penting dan tidak bisa dikompromikan, karena nyawa taruhannya. Buat saya kreativitas harga jual yang ditawarkan pedagang helm kaki lima itu benar-benar kreativitas yang, mohon maaf, bodoh. Dan memang semestinya dari awal sudah saya tulis judul yang lebih tepat untuk artikel ini: Helm Super Konyol Made in Indonesia!


(mataponsel–image captured by Nokia 7610 with 1 MP built-in camera)

Older Posts »