Feed on
Posts
Comments

Ke Gunung Aja!

Dari segi topografis, daratan Jepang memang diwarnai dengan dataran di beberapa wilayah dekat pesisir dan dengan lebih banyak pegunungan di wilayah yang lebih dalam. Oleh karena itu, lahan untuk mendirikan bangunan tempat tinggal menjadi lebih terbatas. Akibat situasi yang terbatas secara spasial itu, masyarakat Jepang terbiasa hidup di tempat yang sempit. Kesempitan itu tampak pada bangunan tempat tinggal mereka yang irit dan saling berimpit antara satu bangunan dengan bangunan lain.

Jadi, bagi masyarakat Jepang, terutama yang besar di perkotaan, berimpitan merupakan hal biasa. Akibatnya, berimpitan dalam transportasi umum, misalnya kereta, juga merupakan sesuatu yang wajar saja. Keterbatasan ruang dalam sarana umum itu akhirnya menciptakan adab umum yang mengharuskan tiap orang menghormati hak “ruang” orang lain. 

Mengenai crowded-nya kereta api di Tokyo dan sekitarnya pada jam-jam sibuk sudah pernah saya bahas pada artikel-artikel sebelumnya. Artikel kali ini saya buat karena saya tergelitik oleh iklan yang ada di stasiun subway Metro Tokyo yang beberapa kali saya lihat ketika saya pergi ke Tokyo tengah minggu ini. Iklan layanan masyarakat itu saya jepret dan muatnaikkan pada kiriman kali ini.

Dalam iklan yang saya muat di samping kiri ini, terlihat gambar seorang pemuda yang membawa banyak barang dan memanggul ransel di dalam kereta listrik. Pada iklan itu, terdapat tulisan 山でやろう。atau ‘Please do it on the Mountain’. Dalam adab naik angkutan umum di Jepang, kita tidak boleh semaunya menenteng bawaan kita tanpa memperhatikan kenyamanan penumpang lain. Jadi, jika membawa kereta bayi (baby stroller), kita harus melipatnya pada waktu kereta penuh. Jika kita membawa ransel, kita tidak boleh memanggulnya di punggung, melainkan harus menyimpannya di rak barang di atas tempat duduk, atau meletakkannya di depan dada kita. Jadi, dengan demikian, penumpang lain tidak akan terganggu. Maklum saja, pada jam-jam tertentu penumpang kereta harus berimpitan dan kadang-kadang tidak ada ruang cukup antarpenumpang. Jadi, sebaiknya kita menggunakan space sesuai dengan kebutuhan kita saja; tidak mengambil hak orang lain. Begitu kira-kira adab sopan santun berkereta di Jepang. Jadi, bagi mereka yang tidak mau tahu atau ingin melanggar adab sopan santun naik kereta listrik itu, pilihannya sudah jelas: ke gunung aja!


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Ke…mbali

Lebih dari sebulan Mataponsel tidak disesuaikinikan alias updating. Yah, karena ada masalah pelik yang harus saya selesaikan dan menyita waktu cukup banyak. Jadi, jangankan untuk memikirkan penelitian saya, untuk menulis kisah-kisah ringan lewat mataponsel pun jadi agak sulit. Namun, setelah sebulan lewat, kini saya mencoba menulis lagi.

Ada kata yang sangat tepat untuk mengambarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini. Apa kata itu? Kata tersebut adalah kembali. Yah, setelah tidak ada tulisan baru, kini mataponsel telah hadir kembali. Mataponsel yang sempat mati suri karena saya tinggalkan, sementara penulis tandem saya juga masih belum bisa mengaktualisasikan diri melalui tulisan-tulisannya yang humanis, telah kembali. Semuanya antara lain karena internet di rumah saya juga mulai tersambung kembali sore ini.

Sementara itu, pada awal minggu ini, bulan penuh berkah dan pahala, yakni Ramadhan, pun juga kembali menghampiri kita. Semua ibadah di bulan ini bagi umat Muslim sangat berarti untuk kembali ke fitrah mereka sebagai hamba Allah.

Nah, secara kebetulan juga, akhir pekan lalu saya pun kembali ke Indonesia. Serba kebetulan memang. Yang lebih kebetulan lagi adalah saya naik pesawat yang singgah ke Bali. Dalam bahasa Jawa, bunyi /b/ pada Bali kadang-kadang diucapkan kandhel atau tebal sehingga terdengar seperti mBali. Bagi orang Jawa seperti saya, ketika mengucapkan “ke Bali”, akan terdengar seperti “kembali” (dari frase ke mBali). Jadi, lagi-lagi kata “kembali” mewarnai tulisan kali ini; meskipun yang terakhir ini terkesan maksa.

Ada yang menarik perhatian saya ketika singgah ke mBali di Bandara Ngurah Rai dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Salah satu ruang transit di Terminal Keberangkatan Luar Negeri Bandara Internasional Ngurah Rai disulap sedemikian rupa sehingga nyaris mirip salah satu sudut pertokoan dalam Bandara Changi, Singapura. Jika tidak percaya, silakan lihat hasil jepretan kamera ponsel saya. Deretan pertokoan yang menjual parfum, tas, minuman keras, dan barang-barang merk internasional berlokasi di dalam plaza yang berlantai keramik mewah, berukuran lebar, dan disusun diagonal. Semuanya menampilkan wajah pertokoan bandara bertaraf internasional. Wajar saja kalau banyak wisatawan asing yang datang ke pertokoan itu. Dulu pertokoan bandara di Ngurah Rai sama sekali sepi pengunjung karena mungkin tidak mempunyai daya tarik. Bangga saya melihat perubahan signifikan di Bali. Mudah-mudahan hal yang sama merembet ke tempat lain, terutama Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Saya senang melihat Indonesia perlahan-lahan menuju ke arah perbaikan.


 (mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Sekilas memang berbunyi mirip dengan kata dalam bahasa Indonesia; dan Nashi (梨) dalam bahasa Jepang juga mempunyai arti seputar makanan. Namun, kata itu digunakan untuk merujuk kepada buah pir (pear) dalam bahasa kita. Yang agak berbeda dengan buah pir dari negara lain, pir Jepang umumnya berbentuk bulat seperti apel, sementara buah pir dari negara lain berbentuk lonjong seperti tabung Erlenmeyer dengan bagian bawah lebih lebar daripada bagian atasnya.

Ada beberapa kultivar pir Jepang yang dikenal, namun secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis: akanashi (pir merah) yang umumnya berwarna kecoklat-coklatan dan aonashi (pir hijau) yang berwarna kehijau-hijauan.  Kousui (幸水) adalah varietas andalan dari jenis akanashi, sementara nijyuseiki (二十世紀) adalah kultivar aonashi yang paling terkenal. Musim berbuahnya pir Jepang adalah pada musim panas antara bulan Juni hingga September. Pada musim ini, ketika matahari terasa menyengat, menyantap pir Jepang yang berair dan manis memang terasa nikmat. Oleh karena itu, pada musim panas, banyak perkebunan yang menanam pir akan membuka kebun mereka bagi para pengunjung. Dengan membayar ongkos masuk sekian ribu yen, pengunjung dapat mengambil dan memetik sendiri buah pir sepuasnya. Namun, semuanya harus dihabiskan di areal perkebunan.

Di dekat tempat tinggal saya, ada beberapa perkebunan pir dan anggur. Pada akhir pekan bulan Agustus, kebun-kebun itu dipenuhi pengunjung yang ingin memetik dan menikmati kesegaran apel Jepang. Di antara kultivar pir Jepang, kousui memang yang paling banyak dijumpai karena memang rasanya yang paling manis dan segar.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Perjalanan panjang ke batas langit pun dimulai ketika kami mulai melewati Pos Keenam. Pos keenam ada di ketinggian sekitar 2400 meter dpl. Jalanan mulai menanjak meskipun belum terlampau terjal. Namun, vegetasi di sekeliling jalur pendakian pun mulai jarang. Hanya tumbuhan pendek, seperti rumput dan belukar saja, yang mendominasi. Sementara itu, tanahnya yang semula berwarna hitam menjadi sedikit demi sedikit merah bata berbatu-batu.

Jalur pendakian dari pos keenam ke pos ketujuh cukup lebar. Kira-kira lebarnya sekitar 3 sampai dengan 4 meter. Karena nyaris tidak adanya vegetasi, jika cuaca cerah, kita bisa melihat jalur pendakian menuju ke atas yang berjarak cukup jauh. Kadang-kadang pos atau kamp peristirahatan di tepi jalur pendakian terlihat dari bawah tempat kita mendaki. Terlihat betapa tingginya tempat yang akan kita tuju. Sampai pos ketujuh waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Jadi, jarak tempuh antara pos kelima sampai ke pos ketujuh sekitar 2 jam.

Dari pos ketujuh ke pos kedelapan, perjuangan berat pun dimulai. Selain jaraknya cukup jauh, jalur pendakiannya pun makin terjal. Dari pos ketujuh menuju ke pos delapan, posisi jalur pendakian pun sudah berada di atas batas awan. Ketinggiannya pun sudah berada antara 2700 sampai dengan 3200 mdpl.  Jadi, suhu pun mulai turun, sehingga saya yang semula hanya mengenakan kaos lengan pendek merasa perlu memakai jaket pelapis. Suhu di sekitarnya pada waktu itu pun kira-kira sudah berada di bawah lima belas derajat celsius.

Mendekati pos ke delapan, oksigen pun makin menipis. Banyak di antara pendaki yang memakai spray oksigen untuk membantu napas yang kadang-kadang tersengal. Karena tidak membawa semprotan oksigen, saya pun terpaksa harus membantu pernapasan melalui mulut karena sebagian hidung saya sedang pilek. Rasanya kadang-kadang sesak napas karena terlalu sedikitnya oksigen yang bisa kita hirup. Sekitar pukul delapan kita baru sampai di penginapan di hachigoume atau pos kedelapan. Penginapan itu terletak pada posisi kira-kira 3200 mdpl. Sekilas dari luar, penginapan itu nyaris seperti bangunan berbentuk barak yang panjangnya 50 meter dan lebarnya 10 meter. Siapa sangka bahwa ruang di dalamnya bisa menampung sekitar 1000 orang. Lalu, masih ada sebuah ruang ukuran 8 x 10 meter untuk menampung 40 orang menyantap makanan karena selain berfungsi sebagai penginapan, bangunan bernama Hakuunsou (白雲荘) itu juga berfungsi sebagai rumah makan dan warung barang-barang keperluan pendaki. Pada tengah malam, ruang untuk makan pun disulap menjadi tempat tidur.

Setelah makan malam sekitar jam sembilan, kami mendapat kesempatan tidur di lantai dua. Di semua tempat di “hotel” itu, tempat tidur menyerupai rak bertingkat dua. Malam itu, kami tidur di rak paling bawah; untuk masuk pun kami harus menundukkan kepala, berjongkok, lalu merangkak karena ruang antara rak bawah dan atas hanya sekitar 70 cm. Tiap rak terbagi lagi atas beberapa slot dan tiap slot harus dijejali empat orang. Jadi, kami tidur pun harus berdempet-dempetan; nyaris tidak ada ruang untuk bergerak. Dalam suasana normal, pasti kami sulit tidur dalam kondisi seperti itu. Namun, karena lelah setelah mendaki selama 7 jam, tak terasa kami pun terlelap menikmati waktu istirahat yang disediakan.

Kira-kira pukul dua belas kami dibangunkan. Ternyata kami harus segera berangkat lagi ke puncak. Setelah berkemas-kemas, kami segera meninggalkan penginapan. Betapa terkejutnya kami karena sudah ada ribuan pendaki menuju ke puncak malam itu. Senter yang mereka pegang ketika mendaki membuat iring-iringan pendaki itu mirip sekali ular naga berkelap-kelip merayapi punggung gunung. Suhu dingin pun mulai menusuk sehingga kami harus mengenakan jaket tebal penahan dingin. Ketika mulai merayapi dinding Gunung Fuji menuju ke puncak, langkah kami sering kali harus terhenti karena terlalu padatnya jalan menuju ke puncak. Selain itu, tekstur jalur pendakian yang semula tanah berbatu-batu, kini nyaris didominasi oleh batu cadas. Jadi, kadang-kadang kami pun harus memanjat batu-batu terjal, sehingga dibutuhkan kehati-hatian yang ekstra, apalagi waktu itu matahari belum terbit.

Sekitar pukul setengah empat, ufuk timur pun mulai memerah. Namun, sang surya baru betul-betul menampakkan diri sekitar pukul setengah lima. Hampir semua orang menghentikan langkah menjelang detik-detik terbitnya matahari. Sinar pertamanya yang menyilaukan mata membuat banyak orang Jepang berteriak 眩しい (mabushii) atau ’silau’. Datangnya sinar matahari membuat suhu di sekitar kami sedikit demi sedikit mulai merambat naik. Kemudian, kami semua meneruskan perjalanan ke atap negeri. Setelah melewati batu-batuan cadas yang terjal di jalur pendakian, sekitar pukul setengah tujuh pagi kami menginjakkan kaki di Puncak Fuji (富士山頂) di ketinggian 3776 mdpl. Dari tempat penginapan kami, dibutuhkan sekitar enam jam untuk mencapai puncak. Perjalanan melelahkan, tetapi sekaligus menyenangkan karena kami bisa menyaksikan jutaan awan putih yang bergulung-gulung di bawah kami. Biasanya gulungan awan-awan itu berada di atas kami. Ya, kami memang sedang berada di atap negeri Sakura.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Berkat jasa baik rekan Jepang saya, akhirnya saya berkesempatan berkunjung ke atap negeri samurai. Meskipun sudah sejak sekian tahun lalu saya ingin berkunjung ke Gunung Fuji (富士山) , kunjungan ke gunung yang dikeramatkan oleh masyarakat Jepang itu baru terwujud hari Sabtu minggu lalu. Berbicara mengenai Gunung Fuji, saat datang ke Jepang pertama kali saya kaget juga sewaktu mendengar orang-orang Jepang menggunakan istilah “Fujisan” tinimbang “Fujiyama”. Saya kira sufiks -san pada Fuji-san digunakan untuk menghormati gunung keramat itu; sama seperti -san pada Morishita-san atau Suzuki-san. Ternyata, -san pada Fuji-san bukan honorifiks, melainkan memang cara baca China (音読み) untuk yama ‘gunung’ dalam bahasa Jepang. Jadi, 富士山 cenderung dibaca fu-ji-san daripada fu-ji-ya-ma.

Kini kita kembali ke inti pembicaraan semula, yakni kunjungan ke Gunung Fuji. Secara geografis, Gunung Fuji terletak di antara dua prefektur, yakni Yamanashi dan Shizuoka. Keduanya ada di wilayah yang disebut Jepang Timur. Gunung Fuji dibuka untuk pendakian mulai awal bulan Juli sampai akhir Agustus, namun semuanya bergantung pada cuaca karena sampai awal Juli pun kadang-kadang masih ada salju di sekitar jalur pendakian. Untuk kasus tahun ini, Gunung Fuji dibuka untuk pendakian antara 18 Juli hingga 31 Agustus. Pada musim pendakian, ratusan ribu pendaki menyerbu gunung ini dan sepertiganya adalah orang asing. Pada hari saya mendaki, ada sekitar 10.000 orang yang melakukan pendakian hingga ke Puncak Fuji. Tak heran terjadi kemacetan di jalur pendakian akibat berjejalnya jumlah manusia di sana.

Seperti kebanyakan orang, kami memulai pendakian dari pos kelima (五合目 atau gogome) di Kawaguchiko, Yamanashi. Pos pendakian ini adalah pos yang paling populer digunakan sebagai titik awal pendakian. Posisi Pos ke-5 Kawaguchiko ini berada pada ketinggian 2300 dpl. Sebenarnya masih ada tiga pos kelima lainnya yang tersebar di lereng Gunung Fuji. Ketiga pos tersebut terletak di Prefektur Shizuoka. Untuk mencapai Pos Kelima Kawaguchiko dari Tokyo, kita bisa menggunakan jasa bus ekspres dari Stasiun Shinjuku. Dari pos kelima, kami berangkat pukul satu siang menuju ke tempat peristirahatan di pos kedelapan (八合目) melalui pos keenam dan ketujuh. Dari pos kelima ke pos keenam kami melewati hutan vegetasi yang rindang dan hijau. Perjalanan dari pos kelima ke pos keenam ditempuh dalam waktu sekitar 50 menit. Dari sini, perjalanan yang sesungguhnya ke atap negeri dimulai.


 (mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Hari ini saya pikir dampak unjuk rasa para nelayan masih berimbas pada perdagangan dan stok ikan di Jepang. Makanya saya agak ragu-ragu ketika teman saya mengajak pergi makan siang ke sebuah restoran ikan terkenal dekat kampus saya, Marutaka. Namun, ternyata keraguan saya segera sirna ketika melihat restoran yang berlokasi di sebuah rumah bergaya rumah kayu di Amerika Utara itu penuh dengan orang yang makan siang. Kami pun terpaksa harus menunggu sekitar sepuluh sampai lima belas menit.

Dalam posting sebelumnya saya pernah membahas salah satu menu andalan Marutaka, yakni donburi. Kali ini, saya ingin mencicipi masakan ikan lain yang masuk dalam subgenre yakizakana atau ikan bakar. Ada beberapa macam style cara membakar ikan di Jepang. Style yang paling sering dijumpai adalah shioyaki (塩焼き), tenbi (天火), dan kamanieru (釜煮える). Shioyaki tergolong sebagai teknik memasak paling kuno di Jepang. Ikan diasinkan terlebih dulu, dan baru dibakar di atas bara api. Di Jepang, ada pula cara memanggang ikan dengan bara api di atas. Teknik ini disebut dengan nama tenbi. Biasanya untuk tenbi ini ikan diberi bumbu, misalnya miso (味噌) atau ponzu (ポン酢), terlebih dulu selama beberapa jam, baru kemudian dipanggang di bawah bara api, atau di zaman modern ini bisa lakukan di dalam oven. Kemudian, teknik ketiga adalahkamanieru. Teknik ini menggunakan kama (釜) atau kendhil untuk merebus bahan makanan.

Saya tidak begitu suka shioyaki karena teknik membakar yaki (焼き) juga dikenal di Indonesia. Biasanya daging ikan menjadi lebih keras dan kering. Dengan teknik ini, ikan bakar di Indonesia terasa lebih lezat di lidah saya. Hari ini saya juga tidak ingin mencoba ikan dibakar dengan teknik tenbi karena biasanya ikan juga terasa lebih kering. Jadi, saya ingin mencicipi ikan yang dipanggang dengan teknik kamanieru. Sebenarnya tidak cocok jika pada kamanieru digunakan kata dipanggang karena yang lebih cocok sebenarnya adalah direbus. Ikan yang sudah dibumbui dan direndam dalam miso kemudian diletakkan ke dalam kama untuk direbus. Ketika masak, ikan yang matang tidak begitu keras dan disajikan paling tidak dengan sedikit kuah miso. Lihat saja contoh pada gambar di bawah ini. Nama hidangannya adalah Kampachi Kamani. Kampachi adalah bagian kepala ikan. Kamani berasal dari kata kama ‘kendhil’ dan nieru ‘merebus’. Belahan kepala ikan yang sudah dibumbui dengan miso “dipanggang” dengan kendhil. Bagaimana rasanya? Wah, rasanya bisa sampai ke ubun-ubun. Nah, mau coba?


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Kemarin, hari Selasa, 15 Juli, teman-teman saya para mahasiswa dari Indonesia berkesempatan mencoba kaitenzushi atau restoran sushi putar dalam perjalanan mereka kembali ke apartemen dari kampus. Mereka heran ketika menu sushi yang biasanya beragam pada hari itu seolah-olah sepakat untuk seragam. Ada apa ini? Tentu saja mereka bertanya-tanya.

Namun, ternyata mereka tidak sendirian karena ada banyak juga orang Jepang yang kecele. Mereka kecele ketika pergi membeli ikan di supermarket. Harga ikan tiba-tiba meninggi dan stok ikan pun menjadi terbatas. Ada beberapa jenis ikan yang biasanya selalu tidak pernah absen di gerai penjualan ikan justru tidak “hadir” pada hari itu.

Kenapa tiba-tiba ikan menghilang? Ternyata, pada hari Selasa kemarin nelayan di seluruh Jepang melakukan unjuk rasa dengan tidak melaut. Mereka melakukan unjuk rasa untuk mengungkapkan protes mereka terhadap melambungnya harga bahan bakar minyak. Menurut BBC, sekitar 200.000 kapal nelayan tetap bersandar dan tidak melaut sejak dini hari Selasa kemarin. Kenaikan harga BBM sekitar tiga kali dalam kurun waktu setahun telah memukul industri perikanan laut di Jepang. Kenaikan harga itu telah membuat ongkos melaut menjadi berlipat-lipat.

Ribuan nelayan kemarin melakukan unjuk rasa di kota-kota utama di Jepang. Sebenarnya, unjuk rasa para nelayan di Jepang merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Menurut mereka, ini terjadi karena mereka sudah tidak tahan dengan kenaikan bahan makanan dan bahan bakar minyak. Ya, memang harga beberapa makanan dan minuman di supermarket Jepang sejak beberapa bulan terakhir memang mengalami kenaikan antara 10-30%. Semuanya itu terjadi lantaran harga minyak membubung tinggi. Krisis minyak dunia ini ternyata memang tidak hanya ditanggung oleh satu per satu individu, melainkan nyaris oleh seluruh penduduk dunia. Jadi, berdoalah supaya energi pengganti bahan bakar fosil cepat datang sehingga ikan laut tetap ada di pasaran.

 


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Musim panas di Jepang biasanya mulai terasa pada pertengahan bulan Juli, setelah musim hujan atau tsuyu (梅雨) telah usai pada minggu-minggu awal Juli. Musim panas di Jepang biasanya juga identik dengan pelbagai festival baik yang berskala lokal, nasional hingga internasional. Pada saat festival itu pula biasanya kita banyak melihat pria dan wanita menggunakan yukata, sebuah pakaian tradisional Jepang yang umumnya terbuat dari bahan katun, meskipun ada juga yang terbuat dari bahan campuran sintetis seperti poliester. Bentuknya, bagi mereka yang tidak mengenal betul pakaian tradisional Jepang, selintas mirip dengan kimono. Namun, yukata bukanlah kimono.

Yukata (浴衣) atau dahulu disebut yukata-bira (湯帷子) sebenarnya adalah pakaian yang digunakan sebelum atau setelah mandi. Dari segi makna, yukatabira berasal dari dua komponen, yaitu yu (’air panas’ atau ‘mandi’) dan katabira (’baju lapisan dalam’). Setelah Zaman Edo, masyarakat Jepang suka menggunakan yukata sebagai pakaian tidur. Memakai yukata di ruang publik kala itu masih dianggap tidak sopan. Namun, dalam perkembangan berikutnya, yukata mulai digunakan sebagai pakaian untuk berjalan-jalan atau bersantai-santai pada musim panas. Meskipun ada juga yukata untuk laki-laki, yukata umumnya identik dengan wanita. Yukata untuk laki-laki, biasanya berwarna dasar gelap seperti hitam, cokelat tua, atau biru tua. Untuk perempuan, berlaku pula aturan umum seperti pada kimono, yakni makin tua usia si pemakai, makin gelap warna yukatanya. Corak yang populer untuk wanita biasanya adalah–tentu saja–corak bunga, corak ikan koki, corak abstrak, dan lain-lain. Yukata untuk anak-anak biasanya bercorak meriah dan kadang-kadang berhiaskan karakter kartun terkenal.

Jika melihat seseorang memakai yukata, biasanya di dekat-dekat sana ada keramaian atau festival. Foto yang diambil oleh rekan peblog Fithra Faisal Hastiadi di atas menampilkan dua gadis yang mengenakan yukata sedang menikmati jajanan dalam Festival Shonan-Tabata di Hiratsuka. Perlengkapan standar yukata, selain baju yukata, biasanya terdiri atas obi (ikat pinggang), geta (sandal kayu tradisional Jepang), tas serut, dan uchiwa (kipas berbentuk bulat dengan satu pegangan). Cara memakai yukata yang tepat tidak begitu jelas. Biasanya sisi kiri yukata diselempangkan menutupi sisi kanannya. Baru kemudian memakai obi untuk mengikat yukata agar tidak terbuka lepas. Sebelum mengenakan yukata, biasa seorang perempuan mengenakan satu baju pelapis yang disebut hadajuban. Sebagai pelapis biasanya digunakan rok dalam panjang berwarna putih atau warna lain yang polos. Rok ini biasanya disebut sosoyuke.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Akhir pekan lalu, hanya dengan pemberitahuan yang singkat, tiba-tiba Menteri Komunikasi dan Informatika Prof. Dr. Mohammad Nuh datang berkunjung ke kampus kami yang terletak di daerah pertanian 55 km di selatan kota Tokyo di dekat sebuah teluk yang menghadapi Lautan Pasifik. Tak ayal hal itu membuat banyak orang panik. Ya, maklum saja, karena Pak Nuh sekarang adalah seorang menteri meskipun beliau juga merupakan teman baik salah seorang profesor di kampus kami. Jadi, acara kunjungan pribadi pun kemudian harus ditanggapi dengan sebuah protokoler khusus; apalagi jika rencana pribadi itu tercium oleh pihak kedutaan.

Namun, suasana kunjungan Pak Nuh yang semula agak formal tersebut mendadak sontak berubah ketika seorang profesor yang dijuluki Mr. Gadget, karena kegemarannya menemukan alat-alat berbentuk mini dengan harga terjangkau, mendapat giliran untuk menjamu Pak Menteri dengan presentasinya. Dari dalam tasnya, Profesor Takefuji–begitu beliau sering disapa–mengeluarkan pernak-pernik kecil yang berfungsi macam-macam, misalnya webserver mini, pembangkit listrik mini, dan lain-lain. Saking tertariknya, Pak Nuh pun sampai beranjak dari tempat duduknya yang posisinya berhadap-hadapan dengan tuan rumah mendekati Sang Maestro Gadget. Sang Maestro menunjukkan temuannya yang berupa pembangkit listrik tenaga jejakan langkah kaki yang dipasang di stasiun-stasiun terkemuka di Tokyo untuk menghidupkan mesin tiket dan lampu penerang. Asal tahu saja bahwa Sang Maestro pulalah yang pertama kali mengusulkan prototipe ponsel berkamera yang awalnya dikembangkan oleh Mitsubishi, namun kini marak dan menyebar ke seluruh dunia. Salah satunya kemudian digenggam oleh para penulis mataponsel untuk mengabadikan kisah-kisah menarik di seputar kita.


 (mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Dua minggu lamanya saya tidak menyesuaikinikan mataponsel karena belakangan ini saya memang dihinggapi stres nan pelik. Namun, bukan berarti itu menyurutkan semangat saya untuk mengeblog di mataponsel. Kali ini saya ingin bercerita tentang kunjungan saya sekeluarga ke pameran mainan yang bertajuk “International Tokyo Toys Show 2008″ di gedung eksibisi terkemuka Tokyo Big Sight di Odaiba, Tokyo. Pameran mainan ini menunjukkan bahwa bisnis mainan bagi Jepang bukanlah sekadar masalah fantasi, tetapi sebuah bisnis yang menjanjikan. Pameran ini dilangsungkan sejak 19 Juni hingga hari ini 22 Juni. Pameran hanya terbuka bagi publik pada akhir pekan 21 dan 22 Juni. Hari-hari lainnya diperuntukkan bagi pengunjung dan peserta bisnis yang ingin bertransaksi atau melakukan investasi. Pameran ini tidak hanya diikuti oleh perusahaan mainan Jepang, tetapi juga oleh perusahaan mainan dari negara lain.

Ini adalah kali kedua saya datang ke pameran ini. Yang selalu membuat saya kagum adalah kemampuan panitia pameran dalam mengelola pengunjung yang dari tahun ke tahun terus membludak. Jumlah pengunjung yang melebihi belasan ribu orang dalam sehari diatur sedemikian rupa arusnya, sehingga tidak terjadi kemacetan dan kemampatan di dalam. Oleh karena itu, tak heran apabila di gerai-gerai produsen mainan terkemuka seperti Bandai, Takara Tomi, Sega, Konami, dan Tamiya, pengunjung harus rela mengantre minimal 30 menit untuk sekadar dapat masuk melihat booth atau ruang pamer mereka. Gerai-gerai tersebut ada yang berada di lantai 1 dan ada pula yang terletak di lantai 4. Di luar gerai tersebut, ada dua buah panggung utama tempat ajang para produsen menampilkan acara andalan mereka. Pada umumnya, di panggung tersebut tiap produsen menampilkan tokoh-tokoh andalan mereka, seperti Pokemon, Geki-Ranger, dan sebagainya. Saya melihat keseriusan orang-orang Jepang dalam menjual mainan ini. Ya, mainan di Jepang memang bukan hanya ditujukan kepada anak-anak, melainkan juga kepada orang-orang dewasa yang mempunyai hobi khusus. Mereka juga sadar bahwa industri mainan Jepang pun berkembang berkat meluasnya pengaruh anime, game, dan komik Jepang ke seluruh penjuru dunia. Jadi, sekali lagi, bisnis mainan ternyata tidak main-main.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Older Posts »