It’s not the destination, but the journey. Pepatah ini saya kutip dari buku “The Naked Traveler” nya-Trinity, yang sangat saya gandrungi, bahwa traveling itu bukan semata-mata melihat keindahan alam yang kita datangi, melainkan juga nikmat dan susahnya kita selama dalam perjalanan itu sendiri. Itu adalah seninya traveling. Kita akan kaya dengan pengalaman yang tidak semua orang bisa sama memperolehnya. Catatanku kali ini, kurang lebih akan menunjukkan makna yang sama dengan pepatah itu.
Tanggal 25 Agustus 2010 yang lalu saya berkesempatan mengikuti Tour ke Anak Krakatau dalam rangka memeriahkan Festival Krakatau yang ke XX.
Sekilas saya terangkan sedikit informasi di seputar acara Festival Krakatau, yang telah diadakan sejak 20 tahun yang lalu ini. Tujuannya adalah untuk mengangkat dan memperkenalkan budaya, adat istiadat dan objek pariwisata di Propinsi Lampung. Tema tahun ini bertajuk Kemilau Sai Bumi Ruwa Jurai yang berarti ‘Kemilau satu wilayah dengan dua adat’. Rangkaian acaranya sudah dimulai sejak 9 Juni yang lalu dengan berbagai perlombaan, seperti festival band, festival lagu daerah dan pemilihan muli–mekhanai, seperti abang-none di Jakarta. Kunjungan wisata ke Gunung Anak Krakatau dihadiri 16 duta besar atau perwakilannya, antara lain Yunani, Brunei Darussalam, Filipina, Somalia, Belgia, Portugal, Rumania, Singapura, Peru, Seychelles, Polandia, Yaman, Libia, Arab Saudi, Argentina dan Cuba.
Tujuan dari acara ini sebenarnya sangat bagus dan ideal untuk mengangkat potensi pariwisata Lampung. Hanya saja promosi besar-besaran ini tidak diikuti oleh kesiapan Pemda Lampung dalam hal sarana maupun prasarana untuk menarik para wisatawan lokal maupun mancanegara datang berkunjung ke Lampung.
Contoh yang jelas-jelas ada di depan mata adalah banyaknya jalan-jalan akses ke daerah tujuan wisata yang dalam kondisi rusak parah, bahkan ada yang masih belum memiliki jalan yang representatif untuk dilalui secara nyaman. Contohnya, jika kita ingin menuju ke lokasi wisata Teluk Kiluan yang indah dan ada lumba-lumbanya, hanya ada jalan yang sangat memprihatinkan kondisinya. Kabarnya roda kendaraan yang kita pakai harus di ikat pakai rantai agar tidak slip di jalan. Sampai hari ini saya sendiri pun belum pernah sampai kesana. Ketika terakhir akan pergi ke sana, gagal lantaran terkendala cuaca hujan dan medan jalan yang berbukit. Sebenarnya ada dua jalan yang bisa mencapai ke Teluk Kiluan, yakni lewat desa Bawang di Kabupaten Pesawaran atau melalui Kota Agung di Kabupaten Tanggamus. Semoga pihak Pemda bisa memikirkan sarana dan prasarana transportasi ke seluruh daerah tujuan wisata di Propinsi Lampung. Sayang kalau hanya promosi, tetapi tidak diikuti oleh keseriusan dalam mengelola potensi wisata yang ada.
Salah satu daerah tujuan wisata yang cantik, tetapi masih belum maksimal diolah adalah Gunung Anak Krakatau yang menjadi tujuan wisata kali ini. Langsung aja ke acara tour-nya sendiri. Sebenarnya saya bisa ikut wisata karena jasa seorang teman yang menjadi pejabat di sebuah instansi di Lampung. Rombongan diharapkan berkumpul pada jam 9 pagi, namun nyatanya baru jam 11 siang bisa berangkat. Ternyata banyak acara seremonial yang mesti dilakukan terlebih dahulu.

Cruising tour dengan kapal Feri “Mustika Kencana” yang cukup nyaman dan penuh anekahiburan, termasuk live music, tentu saja menyenangkan. Para peserta ditempatkan di berbagai tempat mulai dari cabin ber-AC, ruang VIP, ruang theatre, ruang restorasi, serta ruang kelas 2 dan kelas 3 yang langsung mendapat fresh air alias udara terbuka dengan deretan kursi-kursi penumpang yang tersusun rapi di geladak kapal. Saya memilih duduk di sini karena rasanya justru nyaman dan bisa menikmati langsung udara dan suasana laut yang segar walau ada sedikit efek sampingannya, yakni masuk angin.
Para peserta wisata berasal dari berbagai kalangan, mulai dari para pejabat dan para dubes serta perwakilan negara-negara sahabat, jurnalis, rombongan PHRI dan ASITA, para putri pariwisata, muli dan mekhanai, pegawai dinas pariwisata dan dinas kehutanan, pemda dan pemprop, belum lagi peserta dari kalangan umum yang beragam asalnya mulai dari mahasiswa, pelajar sekolah, anak-anak, ibu-ibu rumah tangga, bahkan organisasi pemuda front pembela merah putih.
___________________________________________________________
(mataponsel–image captured by Blackberry Bold 9000 with 2 MP built-in camera)