Feeds:
Posts
Comments

Angin bertiup agak keras. Musim semi pun sudah mulai menua sehingga bunga-bunga sudah mulai melayu. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih sedikit. Seperti hari-hari biasa, Kamis pagi itu, Hidesaburo Ueno, professor di Fakultas Pertanian, Universitas Imperial Tokyo (sekarang Universitas Tokyo) berangkat menuju ke kampus setelah bermain-main sebentar dengan Hachi, anjing ras Akita, Jepang miliknya yang berusia 18 bulan. Dia memang hanya tinggal sendirian ditemani anjing itu di rumahnya di bilangan Shibuya, Tokyo. Oleh sebab itu, tak heran hubungan di antara kedua makhluk Tuhan itu begitu erat.

Hari itu, seperti juga pagi-pagi biasanya, ditemani Hachi, Profesor Ueno berangkat ke Stasiun Shibuya untuk naik kereta menuju kampus. Hachi—yang kemudian lebih dikenal dengan nama Hachiko(ハチ公)—ketika sang profesor pergi ke kampus biasanya akan bermain-main di sekitar stasiun. Kepala Stasiun Shibuya, Yoshikawa-san, sudah hafal betul. Dia sangat mengenal baik Prof. Ueno maupun Hachi. Jadi, biasanya dia sesekali mengawasi Hachi dari balik jendela kantornya.

Biasanya ketika jam menunjukkan pukul tiga kurang lima menit, Hachi sudah akan berdiri tegak menunggu tuannya dengan setia di tempat ketika tadi pagi sebelumnya mereka berpisah. Tepat pukul tiga sore, Prof. Ueno biasanya akan muncul dari balik gerbang stasiun. Namun, sore hari itu, 21 Mei 1925, Prof. Ueno tidak muncul. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Hachi dengan setia menunggu. Hingga kereta terakhir pukul sepuluh malam, Prof. Ueno tak kunjung tiba.

Yoshikawa-san, Kepala Stasiun Shibuya, yang berpikir barangkali Prof. Ueno tidak kembali naik kereta berupaya mengajak Hachi pulang. Namun, anjing itu keukeuh tidak mau pulang. Anjing itu tetap menunggu hingga hari berganti. Ternyata hari itu Prof. Ueno tidak mungkn kembali naik kereta. Dia telah meninggal mendadak di kampusnya akibat serangan stroke pada hari itu. Dan Hachi tidak mengetahuinya. Bagi Hachi, tuannya tetap belum kembali.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Bahkan, tahun berganti tahun. Hachi selalu menunggu tuannya di tempat sama pada pukul 14.55. Kembali pulang ketika tuannya tak kunjung muncul, namun tetap kembali di tempat yang sama pada keesokan harinya. Warga shibuya yang hampir tiap hari melihat anjing itu di depan Stasiun Shibuya menjadi jatuh simpati. Untuk menghormatinya, pada tahun 1934, masyarakat Shibuya membangun monumen untuk mengabadikan kesetiaan Hachi yang tak pernah luntur.

Pada hari Jumat, 8 Maret 1935, Hachi tak nampak di depan Stasiun Shibuya. Tentu saja itu mengundang pertanyaan bagi banyak orang. Ke mana perginya anjing setia itu? Ternyata sejak hari itu, Hachi memang tidak pernah datang lagi. Ia telah mati menyusul tuannya, Prof. Hidesaburo Ueno, yang telah 10 tahun meninggalkannya. Jasadnya kemudian dikremasi dan dimakamkan di tempat sama dengan Prof. Ueno di pemakaman elite Aoyama.

Patung Hachiko di depan Stasiun JR Shibuya

Patung Hachiko di depan Stasiun JR Shibuya


Kisah kesetiaan Hachi telah menginspirasi banyak orang yang kemudian mengabadikannya dalam bentuk lukisan, puisi, buku, dan film. Film Hachi (2009) yang dibintangi Richard Gere adalah salah satu karya yang mencoba mengangkat kisah anjing ras Akita itu ke dalam layar perak, namun dengan racikan Hollywood tentunya.

Hachiko memang hanya seekor anjing. Namun, kesetiaannya telah melampaui batas-batas dunianya dan menginspirasi ribuan orang yang hampir tiap minggu selalu berlalu lalang di depan patungnya di Shibuya. Monumen Hachiko memang menjadi tempat yang paling sering digunakan untuk janji bertemu di kawasan Stasiun Shibuya. Beberapa muda-mudi Jepang pun sering memadu janji setia di depan patung Hachiko. Seolah-olah Hachiko menjadi simbol bagi janji dan kesetiaan; tentu saja, sebuah kesetiaan yang tak lekang ditelan waktu.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Konsumsi Ikan

Tak pelak lagi bagi kebanyakan orang di dunia, orang Jepang terkenal sebagai bangsa yang gemar mengonsumsi ikan. Jika melihat dari banyaknya restoran sushi, sashimi, atau segala macam produk makanan hasil laut, tentu hal itu akan menguatkan keyakinan yang sudah mendunia tersebut. Apalagi, kadang-kadang kita bisa menjumpai ikan utuh dengan berat ratusan ton yang dipajang di pojok swalayan di Jepang, seperti yang tampak pada gambar di bawah ini.

27082009

Namun, benarkah orang Jepang yang mengonsumsi ikan terbanyak di dunia? Untuk mengetahui hal itu, ternyata kita perlu melihat pelbagai informasi tentang ikan atau budaya akuatik serta konsumsinya di seluruh dunia. Ternyata, untuk tahun 2006 saja, tercatat total jumlah ikan/hewan akuatik tangkapan plus budidaya di dunia adalah 114 juta ton; dan sebanyak 110 juta ton diperuntukkan bagi konsumsi manusia. Cina menjadi negara yang paling banyak dalam hal hasil tangkapan ikan. Pada tahun 2007, tercatat sebanyak 17 juta ton ikan ditangkap oleh nelayan Cina dari pelbagai perairan di dunia. Produksi ikan Jepang memang terus menurun dari semula menyumbangkan 18% dari total tangkapan dunia pada tahun 1973 hingga hanya sekitar 7% pada tahun 1997.

Sementara itu, bagaimana dengan konsumsi ikan? Rata-rata konsumsi ikan penduduk dunia menurut hitungan FAO saat ini adalah 17,1 kg per kapita/tahun. Namun, menurut skenario kerusakan ekologi dunia, konsumsi itu akan terus menurun hingga 14.2 kg per kapita/tahun. Lalu, berapa konsumsi masyarakat Jepang per kapita/tahun? Ternyata sebesar 66 kg per kapita/tahun menurut data FAO 2003. Luar biasa memang jika dibandingkan dengan rata-rata dunia. Namun, pengonsumsi ikan terbanyak sedunia bukanlah orang Jepang, melainkan orang Maldives atau Maladewa. Mereka mengonsumsi ikan sebanyak 180 kg per kapita/tahun menurut data yang sama. Namun, jika dikalikan dengan populasi penduduk Maladewa yang hanya 300 ribu orang, tentu saja jumlahnya menjadi tidak signifikan apabila dibandingkan dengan populasi Jepang yang tahun ini mencapai 127 juta jiwa. Konsumsi ikan rakyat Cina hanya 25 kg per kapita/tahun. Namun, jumlahnya akan mengejutkan kalau dikalikan dengan populasinya yang mencapai 1,3 miliar orang. Oleh karena itu, tidak mengejutkan apabila FAO melaporkan bahwa sejak tahun 1997, warga Cina mengonsumsi 37% produk hewan akuatik dunia. Jadi?


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Judul ini bukan merujuk kepada tokoh buto ijo dalam dunia kosmologis Jawa maupun tokoh Hulk yang merupakan jelmaan dalam dunia komik Amerika. Raksasa hijau dalam artikel ini merujuk kepada proyek patung robot super GUNDAM di Tokyo yang ditujukan untuk menyampaikan pesan lingkungan kepada warga tokyo. Jadi, “hijau” di sini tidak merujuk kepada warna, melainkan kepada lingkungan.

Hingga hari ini, robot GUNDAM dalam ukuran sebenarnya itu diperagakan di Taman Shiokaze Odaiba, Tokyo. Barangkali banyak di antara kita, terutama laki-laki dewasa maupun anak-anak, yang mengenal anime atau kartun Jepang GUNDAM. Anime ini merupakan karya Toshiyuki Tomino di bawah perusahaan animasi Sunrise. Pertama kali diudarakan lewat serial televisi bertajuk Mobile GUNDAM Suit pada 7 April 1979. Cerita aslinya versi tahun 1979 kemudian dikembangkan menjadi sekuel, prekuel, sempalan, dan bahkan latar waktu yang berbeda. GUNDAM pun menjadi sangat populer di luar dunia layar kaca dan layar lebar. Ia juga menjadi topik favorit di dunia game dan mainan. Di dalam industri mainan, BANDAI–salah satu perusahaan mainan terbesar di Jepang–memegang lisensi untuk memproduksi berbagai merchandise dari proyek GUNDAM.

Ada banyak versi kepanjangan dari GUNDAM. Di antaranya adalah Generation Unsubdued Nuclear Drive Assault Module, General Purpose Utility Non-Discontinuity Augmentation Maneuvering Weapon System, Gigantic Unilateral Numerous Dominating Ammunition, dan Gunnery United Nuclear Duetrion Advanced Maneuver System. GUNDAM merupakan salah satu ikon budaya modern urban Jepang yang populer. Pasukan Bela Diri Jepang menggunakan istilah ini untuk sistem persenjataan yang dikembangkannya. Departemen Pemadam Kebakaran Jepang juga menggunakan GUNDAM untuk mempromosikan sistem pemadaman kebakaran di masa mendatang.

Menurut serialnya, GUNDAM merupakan perangkat robotik multiguna yang tergabung dalam Federasi Bumi (Chikyū Renpō, 地球連邦). Pada umumnya perangkat GUNDAM mempunyai nama tertentu seperti RX-178 Gundam Mk-II, MSZ-006 Zeta Gundam, dan LM312V04 Victory Gundam. Karakter GUNDAM yang ditegakkan di Taman Shiokaze Odaiba adalah HG GUNDAM RX-78. Ukurannya disesuaikan dengan proporsi ukuran nyatanya, yakni setinggi 18 meter.

Seperti yang saya kemukakan di awal, proyek mewujudkan raksasa ini merupakan salah satu kampanye Go Green yang dicanangkan oleh kumpulan perusahaan Jepang kepada masyarakat urban di Jepang, khususnya di wilayah Tokyo. Proyek ini bertujuan untuk mengajak kaum muda dan anak-anak untuk lebih mencintai lingkungannya. Selain pendirian patung raksasa, proyek ini juga diwarnai dengan pelbagai kegiatan lain seperti konser musik dan kegiatan pembersihan lingkungan di sekitar Odaiba, Tokyo. Selain untuk pesan lingkungan, proyek GUNDAM hijau ini juga ditujukan sebagai dukungan terhadap pencalonan Tokyo sebagai tempat penyelenggaraan Olimpiade pada 2016. Nah, bagi yang tidak sempat menyaksikannya sendiri, saya tampilkan gambar patung raksasa RX-78 yang amat memesona di bawah ini.

15082009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Semula saya tidak pernah memperhatikan untuk apa sebenarnya tanda berbentuk segitiga terbalik di jendela pada bangunan-bangunan bertingkat di Jepang. Saya kira itu hanya sebuah tanda untuk menunjukkan arah bagi pembersih gedung tinggi untuk memasang sebuah alat atau tangga. Maklum saja, tanda seperti itu tidak ada di jenis rumah flat semacam rumah saya yang rata-rata hanya berlantai 2. Biasanya tanda segitiga merah terbalik itu ada di apartemen berlantai 3 atau lebih.

Saya baru sadar arti tanda tersebut ketika mengantar teman saya pindah ke sebuah apartemen baru di dekat rumah saya. Ketika diperhatikan dengan cermat ternyata tanda merah tersebut adalah stiker atau seal dari Dinas Pemadam Kebakaran kota setempat. Ada cap dinas kebakaran di balik stiker tersebut. Ternyata tanda segitiga merah tersebut merupakan petunjuk bagi petugas pemadam untuk masuk ketika sedang terjadi kebakaran di gedung tinggi. Mereka bisa masuk ke dalam gedung dengan jalan memecahkan kaca jendela tersebut. Pemberian tanda tersebut juga tidak sembarangan, melainkan sudah memperhitungkan lay out bangunannya.

31072009

Jadi, ketika dalam keadaan darurat, petugas pemadam tidak perlu lagi bingung menentukan lewat pintu mana mereka harus masuk ke dalam gedung. Biasanya pada jendela dengan tanda segitiga tersebut tidak boleh diletakkan barang-barang mebel besar yang bisa menghalangi masuknya petugas pemadam dalam kondisi darurat. Ketika tahu arti tanda tersebut, saya menjadi kagum terhadap manajemen bencana yang diterapkan di Jepang. Mereka selalu menyiapkan diri sebelumnya karena bagaimana pun kapan terjadinya bencana tidak dapat ditebak.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Saya jadi teringat lagu dari masa kecil saya itu ketika hadir di International Tokyo Toys Show yang digelar di Tokyo Big Sight, salah satu arena eksibisi terbesar di Jepang, sejak 16 sampai 19 Juli 2009. Saya teringat lagu itu bukan lantaran “mainan” biasanya dimonopoli oleh anak-anak, namun karena saya melihat sebuah mainan yang baru kali ini saya lihat. Karena Jepang menjadi salah satu garis depan dalam bidang inovasi teknologi dan industri mainan, saya tak heran ketika mengetahui bahwa mainan jenis baru ini dikembangkan oleh salah satu perusahaan mainan Jepang besar, Takaratomy.

Apakah mainan baru tersebut? Mainan tersebut dinamakan Aero Spider Lazer. Sebuah inovasi baru dari mainan R/C (radio control) yang menggunakan laser. Dengan dibimbing oleh laser, wahana yang berupa mobil masa depan dengan tiga pasang roda itu mampu merayapi dinding, dan bahkan langit-langit. Tak heran jika mainan tersebut dinamai Aero Spider Laser karena mengingatkan kita pada sang manusia laba-laba, Spiderman. Tertarik untuk membelinya? Mungkin harus menunggu beberapa bulan sejak sekarang karena mainan ini baru dipasarkan kepada umum pada bulan November 2009. Informasinya bisa dilihat pada situs Takaratomy.

19072009

Dengan munculnya mainan baru seperti ini, barangkali kita hanya tinggal menunggu dalam beberapa tahun lagi untuk menyaksikan sepeda motor atau mobil dalam ukuran sesungguhnya yang dapat merayap di dinding. Jika hal itu terjadi, banyak hal bermanfaat sebenarnya bisa kita peroleh. Misalnya, pembersihan kaca di gedung-gedung pencakar langit atau jembatan gantung yang tinggi tidak perlu lagi menggunakan tenaga manusia karena wahana dengan teknologi ini bisa merayap hingga ke puncak bangunan tertinggi. Lebih aman dan tidak berisiko menyebabkan kematian pada pekerjanya. Yah, kadang-kadang, apa yang ditemukan pada dunia mainan memang bisa diterapkan untuk kepentingan yang lebih luas.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Jangan keburu ngeres dulu membaca judul kiriman saya kali ini. Judul ini berkaitan dengan lahan perparkiran di Jepang. Seperti yang selalu saya kemukakan, karena wilayahnya yang terbatas, orang Jepang memutar otak mereka lebih cepat daripada orang negeri mana pun untuk mengatasi keterbatasan lahan yang mereka miliki. Ya, karena keterbatasan lahan itulah, rumah-rumah di Jepang terkenal sangat mungil. Jangan bandingkan dengan rumah di Indonesia yang lebar-lebar. Tinggal di tempat tinggal dengan luas tanah 90-100 m2 di Jepang sudah merupakan kemewahan.

Karena sempitnya lahan, masalah parkir di Jepang juga sangat krusial. Susah sekali mencari tempat parkir di kota-kota besar seperti Yokohama atau Tokyo. Kalaupun ada, sangat mahal. Bisa juga sih kalau mau nekat parkir di pinggir jalan. Namun, jangan kaget kalau nanti dikenakan tilang oleh polisi dan harus merogoh kocek paling tidak 15,000 yen (kira-kira setara dengan 1,5 juta rupiah untuk kurs saat tulisan ini ditulis). Parkir sembarangan di lingkungan tempat tinggal pun harus hati-hati. Salah-salah diprotes tetangga, dan akhirnya jadi urusan polisi. Bahkan, kita juga harus hati-hati kalau parkir di depan toko atau apa saja di tepi jalan yang sebenarnya tidak ada tempat parkir.

Jadi, jangan harap kita bisa bebas memarkir mobil kita di sebarang tempat-meskipun di sekitar rumah sendiri-kalau itu bukan di tempat peruntukannya. Lalu, bagaimana jika di sebuah rumah ada yang memiliki lebih dari satu mobil? Tentu saja, kita tidak bisa memarkirnya secara konvensional baik paralel maupun seri sekaligus akibat terbatasnya lahan. Juga karena alasan mengganggu ketertiban umum, kita tidak bisa seenaknya menaruh mobil kedua di jalanan depan rumah seperti yang sering terlihat di Indonesia. Nah, untuk mengatasi kesulitan tersebut, beberapa rumah di Jepang menggunakan sistem parkir vertikal. Jadi, mobilnya diparkir paralel, tetapi bukan menyamping, melainkan ke atas. Mobil yang pertama diletakkan di lantai landasan pada alat parkir vertikal. Kemudian, dengan mesin penggerak lift yang sudah tersedia pada alat tersebut, mobil pertama itu diangkat. Lalu, bagaimana mobil kedua? Nah, mobil kedua bisa disimpan di ruang yang ada di bawah landasan yang sudah diangkat tadi. Sulit membayangkannya? Silakan lihat di dalam gambar di bawah ini.

09052009(2)


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

“Sebelum memulai cerita ringan di bawah ini, izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Adhe (cukup panggil dengan nickname saja), berdomisili di Bandar Lampung, bekerja sebagai “Tukang Buat Akte”, ibu dari 2 anak laki-laki, senang membaca dan juga menulis. Bermula dari perjumpaan dengan Totok dan Dauz, teman lama dari sebuah sekolah menengah di Jakarta, saya diajak serta untuk menjadi kontributor blog ini. Karena hobi saya sama dengan mereka, menulis dan menjeprat-jepret dengan kamera ponsel, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dan mengawalinya dengan tulisan yang berjudul ‘Belajar dari Kebun Jeruk’. Selamat membaca.”

Panas di penghujung bulan April begitu menyengat ketika saya menapaki jalan tanah yang biasa dilewati gerobak sapi. Hari itu saya membawa tiga puluhan nasi bungkus untuk pekerja di kebun jeruk. Jalan menuju kebun memang tidak selalu mulus. Naik turun, berkelok-kelok. Tidak semua jenis kendaraan bisa melintas masuk ke jalur ini, kecuali truk dan mobil bertipe off-road.

Dengan langkah pelan tetapi pasti, dan bermodalkan jilbab sebagai “payung” pelindung panas, sampai juga saya ke tengah kebun jeruk. Langsung terlihat “pemandangan” para buruh petik yang duduk kelelahan di bawah pohon kelapa. Ya, lokasi kebun jeruk itu bersebelahan sama kebun kelapa. Ada juga yang ngaso di bawah gubuk untuk berteduh.

Kata yang pertama terucap ketika bertemu mereka adalah “Maaf ya, Ibu dan Bapak udah lama nunggu, saya terlambat datang.” Iyalah, mereka memang duduk manis menunggu saya datang. Tentu saja bukan cuma saya yang dinanti-nanti, tetapi bingkisan nasi bungkus yang saya bawa. Saya paham betul mereka belum makan karena menunggu saya. Maafkan, seharusnya saya cepat-cepat berangkat tadi, tetapi karena masih ada urusan ya gimana lagi? “Nggak apa-apa, Bu. Kami juga masih ngaso kok. Ini juga ada minuman dan buah jeruk,” kata Pak Tukimin, salah seorang dari mereka membuyarkan rasa tidak nyaman saya.

Saya langsung merambah kebun jeruk yang ada di hadapan mata. Wah, banyak banget buahnya, sampai-sampai pohonnya tidak kuasa menahan berat dan agak doyong ke bawah. Aku melihat satu truk Fuso sedang memuat buah jeruk. Hilang sudah rasa penat akibat terik matahari Lampung karena senang melihat jeruk-jeruk bergelayutan di sana-sini.

20042009(012)

Saya tidak hanya melihat dan ikut memetik buah jeruk, tetapi juga menjeprat-jepret suasana kebun lewat kamera ponsel. Sempat juga berbincang-bincang dengan pembuat gula aren. Kenapa gula aren? Ya karena ada pondok pemrosesan gula aren di dekat lokasi kebun jeruk. Seorang ibu tekun mengaduk panci besar berisi air dari pohon kelapa aren. Rupanya cara mendapatkan air aren itu dengan meletakkan jerigen di atas pucuk pohon kelapa. Nah, air yang sudah tertampung di dalam jerigen itulah yang kemudian dimasak hingga kalis. Terakhir adonan aren itu dicetak dalam cetakan bambu yang bentuknya mirip cetakan kue putu.

Ketika saya tanya berapa harganya, si Ibu menjelaskan bahwa harganya Rp5.000 rupiah/kilo. Hmmm … lumayan murah. Jika harus bekerja membuat gula aren dalam kondisi udara yang panas dan berpeluh di sekitar tungku pemasak, rasanya nggak kebayang bahwa “kerja keras” seharian itu hanya menghasilkan sekian ribu rupiah. Tetapi itulah kehidupan wong cilik. Mereka tetap bisa mensyukuri apa yang mereka terima dari-Nya. Yah, kita memang harus banyak belajar dari wong cilik untuk menyikapi hidup secara arif dengan kesederhanaan hidup yang mereka lalui.

Si Ibu pembuat gula aren ini, agak malu saat saya potret dia sedang mengaduk air kelapa aren yang sedang mendidih. Dengan santai saya bilang, “Udah, Ibu gak usah malu. Berdiri aja di situ, biarkan saya mengambil foto ibu.” Dia lalu tersenyum geli mungkin sambil berpikir, “Tumben. Kok ibu ini mau memotret orang yang lagi buat gula aren.” Ternyata bukan hanya orang desa yang terbengong-bengong ketika berkunjung ke kota, orang kota pun ketika turun ke desa juga bisa menjadi terkagum-kagum.
pedagang aren

Sambil pulang di dalam kendaraan yang “adem”, saya memikirkan kembali betapa kerasnya orang-orang kecil dalam bekerja. Makin sering bersentuhan dengan kehidupan mereka, makin banyak hal bijak yang bisa kita peroleh.


(mataponsel-image captured by Nokia 6120 Classic, with 2MP built-in camera)

Hari ini saya coba membeli mangga produk Meksiko. Saya penasaran untuk mencoba rasa buah segarnya karena selama ini saya hanya mengonsumsi secara tak langsung lewat jus atau puding. Ternyata Meksiko adalah salah satu produsen mangga terbesar di dunia dan pemasok mangga terbanyak ke pasaran Amerika Serikat dan juga Jepang. Jika dulu sebelumnya pasaran mangga di Jepun dikuasai oleh Filipina, kini tercatat bahwa pemasok mangga terbesar di Jepang adalah Meksiko. Ironisnya, pohon mangga yang pertama kali masuk ke Meksiko pada abad 17 justru datang dari Filipina lewat tangan kolonis Spanyol.

Salah satu produk mangga andalan Meksiko adalah Tomy Atkins. Semula saya pikir mangga ini justru berasal dari Brazil karena saya menemukan mangga jenis ini yang berlabelkan Product of Brazil. Mangga Tomy Atkins berbentuk oval dengan kulit hijau semburat kemerahan ketika masak. Dagingnya berwarna oranye seperti mangga harumanis. Rasanya? Yummy. Seperti paduan mangga dermayu dan harumanis. Tak heran kalau dibandrol dengan harganya cukup mahal di Jepang. Sekitar 4 US dollar per biji. Makanya, hanya karena penasaran dan ingin membuat tulisan lanjutan tentang mangga, saya membeli dan mencicipinya. Ternyata rasanya enak. Namun, menurut saya, mangga Tomy Atkins ini masih sepupuan dengan mangga gincu dari Indramayu. Semburat merah kulitnya, juga rasanya yang campuran antara mangga dermayu dan harumanis.

Lain Meksiko, lain pula Malaysia. Pada bulan ini, Pemerintah Malaysia tampaknya tertarik untuk bermain dalam kancah permanggaan di Jepang. Memang pasaran mangga di Jepang menjanjikan. Akhir-akhir ini konsumsi mangga naik cukup signifikan di Jepang, terutama menjelang musim panas. Nah, yang membuat saya terkejut adalah berita bahwa Pemerintah Malaysia berniat untuk memasukkan harumanis ke Jepang. Pengetesan mangga harumanis pun telah dilakukan oleh Duta Besar Jepang untuk Malaysia. Perkebunan mangga harumanis nampaknya telah dikembangkan di negara bagian Perlis. Semula saya pikir harumanis hanya ada di Indonesia. Namun, perkiraan saya salah ternyata. Varietas mangga ini mungkin memang tersebar luas dari mulai semenanjung hingga ke wilayah Jawa dan Nusa Tenggara. Namun, lagi-lagi pemerintah kita kalah gesit dan ulet untuk memasarkan mangga meskipun varietas mangga kita melimpah ruah. Jadi, kalau sampai Malaysia berhasil meyakinkan Jepang untuk memasukkan harumanis, hmmmm …

31052009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Di Jepang, musim panas selain identik dengan yukata, festival, dan kembang api, juga identik dengan buah tropis, seperti semangka, nanas, dan sebagainya. Mengapa buah-buahan tropis? Mungkin karena buah-buahan tropis mempunyai kandungan air yang tinggi. Jadi, udara musim panas yang menyengat dan menyebabkan kerongkongan kering dapat dinetralisir dengan menyantap semangka potongan.

Di antara buah-buahan tropis, yang paling tersohor adalah mangga. Ya, mangga yang berair, manis dan legit memang menggoda di waktu-waktu panas. Karena kebanyakan mangga adalah buah impor, harga mangga tidak murah di Jepang. Bahkan mangga domestik dari Okinawa harganya lebih mahal daripada yang impor. Akibatnya, sangat jarang orang Jepang makan mangga potongan. Di restoran pun biasanya buah penutupnya kalau tidak semangka, ya melon.

Lalu, gimana caranya mangga cukup populer di Jepun sementara orang Jepang jarang makan mangga potongan? Ya, mereka mengonsumsi mangga olahan, misalnya es krim mangga, manisan mangga yang dikeringkan, jus mangga, dan sebagainya.  Banyaknya produk mangga olahan menjelang musim panas cukup mencolok untuk tidak menyebut mangga cukup populer di Jepang. Biasanya menjelang musim panas, produsen minuman mengeluarkan produk khusus musim panas. Umumnya produk minuman tersebut adalah yang beraroma mangga. Ada yang berupa jus atau sari buah mangga, atau rasa campuran (mixed fruit) misalnya mangga dan jeruk, mangga dan melon, dan sebagainya.

Kali ini saya tidak berbicara panjang lebar tentang produk mangga olahan, namun saya ingin berbincang tentang mangga beneran. Coba lihat gambar mangga nan menggiurkan di bawah ini.

16052009

Foto ini saya ambil ketika saya berkunjung ke Festival Thai pada 15-16 Mei yang lalu. Saya terkejut dengan begitu massifnya impor buah-buahan dari Thailand. Tidak hanya mangga, tetapi juga durian, manggis, dan buah naga. Namun, tentu saja, di antara semuanya mangga yang paling dinikmati. Sebelum ini, negara utama pengekspor mangga ke Jepang adalah Filipina dan Meksiko dengan jumlah 14.000 ton per tahun. Menurut saya, rasa mangga dari Filipina tidak begitu enak: tidak manis, sedikit asam dan kadang-kadang tawar. Untuk mangga Haden Meksiko saya belum pernah membeli buah segarnya karena mahal dan jarang. Namun, dalam bentuk olahan saya pernah merasakannya. Dan rasanya pun masih ada asamnya.

Sejak tahun 2004, Brazil mulai ikut bermain dengan memasok sekitar 5000 ton mangga jenis Tomy Atkins. Sayang, saya belum pernah mencobanya. Brazil mendapatkan izin ekspor setelah negosiasi panjang dengan Jepang. Pada tahun 2007, giliran India yang bisa meyakinkan Jepang tentang mangga andalannya: mangga Alphonso. Tidak tanggung-tanggung India melobi Jepang selama puluhan tahun! Saya pernah mencoba mangga Alphonso dan menurut saya masih kalah rasanya dengan mangga harum manis van Indonesia.

Pernah terbit harapan saya Pemerintah Indonesia mau melobi terus Departemen Pertanian Jepang untuk memasukkan produk pertanian Indonesia, khususnya mangga. Ya, kita punya varietas unggul mangga yang rasanya mengalahkan mangga Filipina, Meksiko, bahkan Alphonso. Sebut saja mangga manalagi, mangga indramayu, mangga situbondo, dan yang paling spektakuler rasanya menurut saya adalah mangga harum manis. Jadi, kalau mangga harum manis sampai masuk ke Jepang, pasti mangga dari negara lain lewat, begitu pikir saya.

Namun, harapan tinggal harapan. Bukan rahasia lagi kelincahan diplomat kita berdiplomasi mungkin termasuk paling rendah di Asia Tenggara. Makanya, saya kaget ketika Thailand berhasil meyakinkan Pemerintah Jepang untuk mengizinkan mangga Thailand masuk. Rasanya … hmmm … tidak jauh dengan mangga harum manis. Harganya pun bersaing dengan harga mangga negara lain. Meskipun harganya kira-kira 2 US dollar per biji, saya mulai melihat rak buah-buahan di supermarket Seiyu di dekat rumah saya mulai dipenuhi Mangga berlabel Product of Thailand. Ah, … seandainya itu harum manis.

17052009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Mengapa sebagian orang Jepang menanggapi BLT 2009 dengan negatif? Menurut mereka, jika dibandingkan dengan Indonesia, di Indonesia lebih jelas siapa yang dibantu. Lepas dari pelaksanaannya yang kadang amburadul, namun di Indonesia sasarannya lebih jelas: membantu mereka yang memang miskin dan paling menderita dalam situasi ekonomi sekarang. Di Jepang, BLT diberikan kepada semua penduduk asalkan mereka terdaftar sebagai penduduk. Terdaftar sebagai penduduk artinya mempunyai kartu keterangan jati diri atau meibunsyoumeisyo (名文証明書). Jadi, dari mulai CEO Toyota Motor International hingga para freeters (istilah untuk mereka yang tidak punya pekerjaan tetap dan lebih suka [atau terpaksa?] memilih pekerjaan sambilan); dari mulai bayi yang baru bisa membedakan warna gelap dan terang, hingga seorang kakek yang sudah tidak mampu berdiri lagi karena usianya, semuanya mendapat BLT atau teigakukyuufukin asalkan terdaftar.

Jika sasarannya untuk membantu penduduknya menghadapi krisis finansial, tentu saja alasannya agak sumir karena itu semua tergantung pada dari kelas mana penduduk itu berasal. Jika dia memang hanya berpendapatan di bawah 60 ribu yen tiap bulan, mungkin akan terbantu meskipun hanya sesaat. Namun, bagi seorang pemilik usaha kondominium di bilangan Roppongi, Tokyo, uang 12 ribu yen tidak berarti apa-apa karena hanya akan habis untuk ongkos satu kali makan siangnya saja. Terlebih lagi, jika dibandingkan di Indonesia yang jangka waktu pemberian BLT-nya berkala dan cukup panjang, BLT Jepang hanya diberikan satu kali. Jadi, efek membantu bagi mereka yang membutuhkan tentu tidak begitu signifikan; apalagi model mahasiswa dengan sangu pas-pasan semacam saya ini.

Persoalan lain lagi adalah, menurut rekan-rekan Jepang yang saya hubungi, karena yang mendapatkan hanyalah mereka yang sudah terdaftar dan punya kartu keterangan jatidiri, para tunawisma-yang biasanya tidak punya dukungan finansial cukup-justru tidak. Mengapa begitu? Para tunawisma di Jepang–yang notabene justru paling membutuhkan BLT dan perlu dibantu–kebanyakan tidak punya kartu jatidiri dan tidak terdaftar di pemerintah daerah mana pun. Jadi, artinya, mereka yang paling berada pada posisi paling bawah dalam struktur masyarakat Jepang dari sudut pandang ekonomi ini justru cuma bisa menggigit jari.

Lalu, dari mana pemerintah Jepang mendapatkan dana untuk BLT ini? Menurut sebuah sumber, itu diperoleh dari pajak masyarakat dan obligasi (surat utang) yang dikeluarkan pemerintah. Nah, oleh karena itu, kebijakan ini cukup banyak yang menentang. Mengapa untuk membantu pemerintah harus mengutang atau mengambil dana masyarakat? Artinya kan sama saja masyarakat dibantu dengan uang mereka sendiri? Jadi, beberapa teman Jepang saya berpendapat: mengapa kalau mau membantu masyarakat tidak diturunkan saja pajak pendapat atau pajak barang non-mewah untuk periode selama krisis atau resesi ini? Jawaban sih sudah pasti: mana ada pemerintah, terutama negara maju, yang mau kehilangan pendapatan melalui pajak? Ya enggak, Uz?

09052009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Older Posts »