PAUD

Beberapa saat lalu saya mendengar dari sahabat saya yang baru saja kembali dari Jakarta bahwa kini di Jakarta sudah ada PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota. Mungkin pembiayaannya dibebankan pada Dana APBD khususnya anggaran pendidikan. Para peserta hanya dikenai biaya 1000 rupiah tiap kali datang untuk mengikuti pendidikan usia dini yang berlangsung kurang lebih 1,5 jam. Senang mendengarnya. Mudah-mudahan di daerah lain sudah ada pula model yang demikian.

Berbicara tentang pendidikan usia dini di tempat saya tinggal di Jepang, saya menjadi lebih tahu setelah anak saya masuk ke dalam sistem PAUD yang juga diselenggarakan oleh pemerintah kota. Sebenarnya di Jepang, PAUD yang diikuti oleh anak saya agak berbeda dengan PAUD yang umum ada di Jepang. Di Jepang, pemerintah kota menyelenggarakan hoikuen (保育園) atau kelompok bermain bagi anak-anak di bawah tiga tahun. Namun, untuk dapat memanfaatkan fasilitas kelompok bermain milik pemerintah ini, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain kedua orang tuanya harus bekerja atau punya kegiatan di luar rumah seperti sekolah, berdagang, dan lain-lain. Biayanya lumayan murah karena ditanggung pemerintah, namun untuk dapat menitipkan anak di sana, kita harus mengantre dan kadang-kadang harus siap untuk gagal. Ada solusi lain karena swasta pun menyelenggarakan program yang sama, namun biayanya cukup membuat kita merogoh kocek cukup dalam.

Nah, yang diikuti oleh anak saya adalah model PAUD untuk anak-anak dengan permasalahan khusus, misalnya keterlambatan berbicara, gangguan motoris, atau kesulitan untuk bersosialisasi. Kebetulan anak saya yang lahir di Jepang mengalami kegegaran bahasa karena terpapar dua bahasa di rumah dan di lingkungannya, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Akibatnya, agak cukup lama, dia baru dapat menghasilkan bunyi-bunyi berarti. Untuk menangani anak-anak dengan kebutuhan khusus tersebut, pemerintah kota di tempat kami menyediakan kelompok-kelompok yang didanai oleh pemerintah. Kelompok-kelompok tersebut dibagi menurut usia dan kebutuhan peserta, serta diberi nama seputar alam yang dekat dengan anak-anak, misalnya korisu (小リス)atau tupai kecil, himawari (ひまわり) atau bunga matahari, dan lain-lain. Saya bersyukur bahwa kesadaran PAUD pun mulai merambah Indonesia, khususnya di Jakarta, sesuai dengan informasi seorang sahabat saya. Itu artinya, mulai banyak yang peduli terhadap pendidikan anak usia dini di muka bumi ini.
___________________________________________________________
(mataponsel–image captured by iPhone 3Gs with 2 MP built-in camera)

Advertisements

4 thoughts on “PAUD”

  1. Bro…. PAUD sudah banyak didirikan di Indonesia, bahkan sudah masuk ke desa-desa. Buktinya di desa Natar, dekat kantorku, ada TK yang didalamnya menerima anak2 untuk ikut PAUD, biaya masuknya Rp. 1000/ siswa utk 1x masuk.

    Bahkan ibu2 PKK desa dengan koordinasi para PNS dari dinas P dan K membuat PAUD di lingkungan desa mereka. Aku sudah 2x membuat akta pendiriannya. So….PAUD sudah membudaya di sini tepatnya dalam 2 tahun terakhir ini.

  2. Betul Pak Totok, PAUD sudah mulai membudaya di Indonesia, hanya saja, belum spesifik seperti yang diikuti Firas. Dengan mengikuti PAUD, anak-anak yang akan masuk TK lebih mudah beradaptasi dengan kawan-kawannya.
    telat ya saya baca tulisan ini..he he..gomen ne..

  3. waduh apa kabar pak totok and teh indah..jadi kesinggung nih balik dari jepang KEIO Univ…..saya malah jadi pengajar calon guru-guru PAUD di Bandung hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s