Tahun Baru di Jepang

Lama sekali situs blog Mataponsel ini mati suri karena kontributornya sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Untuk mengawali tahun baru, dengan semangat baru kami mencoba mengaktifkan kembali situs blog berbasis foto ponsel ini. Sekalian juga, pengasuh situs Mataponsel ini mengucapkan Selamat Tahun Baru 2012!

Tahun baru di Jepang suasananya sebenarnya mirip dengan lebaran di Jepang. Ketika pergantian tahun ini, sekolah, perusahaan, bahkan pertokoan juga libur mulai dari dua hari sampai dua minggu, bergantung dari kebijakan masing-masing. Ketika saya datang ke Jepang di awal tahun 2000-an, saat-saat tahun baru adalah masa yang cukup menyulitkan. ATM tutup sekitar 5 hari dan toko-toko baru buka kembali pada tanggal 3 atau 4 Januari. Sementara itu, tidak banyak orang Jepang lalu-lalang di tempat-tempat umum. Jadi, ketika mengajak keluarga jalan-jalan pada tahun baru, alih-alih mendapatkan keramaian, justru mendapatkan kesulitan karena sulit mencari makanan. Namun, itu kisah dulu. Sekarang tahun baru di Jepang sudah agak lebih ramai. Beberapa department store bahkan sudah buka pada pagi hari tanggal 1 Januari. Begitu juga dengan restoran, terutama restoran berjaringan yang punya cabang di mana-mana.

Salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh orang Jepang pada tahun baru adalah hatsumoude (初詣) atau kunjungan pertama kali ke kuil pada tahun yang baru. Ini bisa dilakukan di kuil Buddha (お寺) atau kuil Shinto (神社). Pada gambar di bawah ini tampak kegiatan hatsumoude yang dilakukan oleh warga Jepang di kuil Buddha Soujiji (総持寺) di Tsurumi, Yokohama, Kanagawa. Sejak pagi hari mereka sudah berkunjung ke kuil untuk memohon doa keselamatan dan kesuksesan bagi mereka pada tahun yang baru.

Antrean pengunjung di kuil Soujiji, Tsurumi, Yokohama

Biasanya orang-orang juga mengambil kertas keberuntungan omikuji (御神籤) untuk mengetahui peruntungan mereka pada tahun baru ini. Jika ramalan pada kertas itu menunjukkan hal sebaliknya, atau ketidakberuntungan, kita harus mengikatkannya pada tempat yang sudah disediakan. Itu diharapkan dapat membuang kesialan yang kita terima. Nah, di samping menjalani kehidupan mereka yang sangat modern, orang-orang Jepang ternyata masih menjalankan juga kegiatan-kegiatan yang masih tradisional.

Deretan omikuji yang diikat karena isinya dianggap kurang menguntungkan

___________________________________________________________
(mataponsel–image captured by iPhone 3Gs with 2 MP built-in camera)

Advertisements

Titik Pengungsian Gempa

Bencana gempa dan tsunami berskala 9.0 Magnitudo yang melanda Jepang, 11 Maret 2011, pukul 02:46 waktu setempat memang luar biasa. Meninggalkan tidak saja ingatan traumatis pada sebagian besar orang Jepang yang tinggal di wilayah terkena dampak, namun juga krisis nuklir dan krisis energi listrik yang berkepanjangan. Beberapa hari lalu, bahkan Perdana Menteri Naoko Kan telah meminta Perusahaan Listrik Chubu (wilayah tengah Jepang) untuk menghentikan operasi PLTN Hamaoka di Shizuoka. Diketahui bahwa PLTN tersebut dibangun tepat di atas patahan yang akan terkena dampak apabila Gempa Tokai (wilayah pesisir timur Jepang) yang besar betul-betul datang sesuai dengan prediksi sejak tahun 1969.

Agar tidak kecolongan lagi, juga bersiap-siap terhadap gempa susulan yang masih terjadi serta kemungkinan terjadinya Gempa Tokai, pemerintah Jepang meminta warganya menyiapkan diri dengan baik. Warga diminta untuk menyiapkan peralatan darurat, termasuk helm, yang sewaktu-waktu bisa digunakan apabila gempa besar terjadi lagi dalam waktu dekat. Salah satu wujud kesiapan itu saya lihat pula pada pertokoan besar Ito Yokado yang bersama jaringan minimarket 7 eleven masuk ke dalam grup 7i. Di beberapa sudut terlihat tanda jishinhinanbasho (じしん避難場所) atau titik pengungsian gempa pada tiap lantai gedung Ito Yokado (lihat gambar di bawah). Tampaknya  semua orang betul-betul siap dengan kemungkinan gempa besar yang mungkin saja terjadi dalam waktu dekat.

___________________________________________________________
(mataponsel–image captured by iPhone 3Gs with 2 MP built-in camera)

Udang Indonesia yang Berjaya

Nyaris dua bulan mataponsel tidak menyesuaikinikan situs webnya karena kami semua tenggelam dalam kesibukan. Alhamdulillah sekarang mulai sedikit bisa bernapas dan bisa kembali menyesuaikinikan mataponsel.

Jika berkesempatan jalan-jalan ke supermarket di Jepang dan mencari seafood, khususnya udang, sering tersembul rasa bangga karena sering sekali melihat udang produk dari Indonesia biasanya merajai harga dan kualitas udang di supermarket Jepun. Udang Indonesia, khususnya udang windu (Penaeus sp)–di sini dikenal dengan nama ブラック・タイガー・エビ (Black Tiger Ebi)–yang berukuran besar, berkualitas baik, dan berharga mahal biasanya datang dari Indonesia. Kalau yang berukuran sedang atau kecil biasanya datang dari Thailand atau Vietnam. Itu menunjukkan bahwa produk kita sebenarnya bisa berjaya.

Udang windu Indonesia yang terkenal di Jepang biasanya datang dari Papua. Jadi, di labelnya biasanya tertulis Black Tiger Ebi, Papua, Indonesia. Di situs wikipedia sendiri disebutkan bahwa udang windu atau black tiger shrimp ini sudah tidak dibudidayakan lagi karena banyak yang terkena penyakit udang yang ganas, yakni white spot atau bintik putih. Jadi, entahlah, dari mana pasokan udang windu yang merajai pasaran Jepang itu berasal? Yang jelas umumnya tertulis: インドネシア産 (produk Indonesia), seperti yang ada pada foto di atas yang diambil di sebuah swalayan besar di dekat tempat tinggal kami.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Produk yang Berjaya Menembus Tirai Bambu

Di antara serbuan barang-barang buatan Cina, diam-diam sebenarnya ada barang negeri awak yang justru masuk ke Cina. Tak usahlah menyebut produk mie instant kita yang cukup digdaya di luar negeri: Indomie. Produk mie instant yang sempat heboh gara-gara ditarik dari supermarket di Taiwan beberapa bulan silam ini ternyata memang termasuk dalam daftar sedikit barang produk negeri sendiri yang mampu menembus Cina. Bahkan, untuk Indomie ini, produk mie instant ini begitu populernya di Nigeria dan beberapa negara Afrika lainnya hingga kemudian Indofood membuka pabrik di Afrika.

Nah, kali ini bukan bintangnya bukan Indomie, melainkan sebuah produk permen. Ketika berjalan-jalan ke sebuah supermarket di Cina, mata saya tertumbuk pada sebuah kaleng yang warnanya sangat familiar, didominasi warna hitam dan merah: Kopiko. Kelihatannya sepele, namun ide mengubah pola minum kopi menjadi pola mengkonsumsi kopi via permen. Sebuah ide yang cukup idealis, namun jika berhasil akan memberikan kontribusi besar terhadap masyarakat. Nah, jika Anda bertemu dengan kaleng hitam merah, dan tulisan kanji seperti di bawah ini, saya yakin Anda pasti yakin itu adalah produk “Kopiko”. Produk ini mampu berjaya karena ide memasukkan kopi sebagai aroma permen mungkin cukup unik. Nah, kita tunggu lagi produk negeri sendiri yang siap merangsek ke pasar dunia, terutama, pasar Cina.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Pemasyarakatan Kesadaran terhadap Bencana Gempa

Jepang, seperti juga Indonesia belakangan ini, adalah negeri yang sudah kenyang pengalaman dengan goyangan maut si kulit bumi, alias gempa. Oleh karena itu, Jepang berupaya terus memutakhirkan kemampuan teknologi dalam memprediksi, mengantisipasi, serta mengelola bencana gempa bumi. Syarat dan peraturan bangunan tahan-gempa telah secara ketat diberlakukan untuk semua jenis bangunan yang berdiri di Jepang sejak periode tertentu, terutama di wilayah-wilayah yang secara geologis potensial terhadap bencana gempa.

Ternyata, selain pendirian bangunan tahan gempa, pemerintah Jepang juga peduli terhadap penyebarluasan tentang informasi kegempaan. Mereka berupaya menyebarluaskan pengetahuan kegempaan terhadap masyarakat secara luas, terutama kepada anak-anak. Paling tidak itu yang saya lihat akhir Oktober lalu di sebuah festival kampung halaman atau furusato matsuri di wilayah kami.

Pemerintah kota di tempat kami tinggal mengirimkan satu unit truk simulator gempa dan satu tim ahli geologi untuk menjelaskan tentang gempa-gempa yang pernah tercatat muncul di Jepang, baik pola, kekuatan, maupun dampak kerusakannya. Kita bisa ikut “mengalami” bencana-bencana gempa itu melalui simulasi. Kepada anak-anak dan orang dewasa yang mencoba simulator itu diberikan petunjuk tentang keselamatan pada waktu gempa. Sebuah upaya yang mungkin patut diteladani oleh Indonesia yang kini mungkin juga menjadi langganan gempa. Tak perlu harus cepat dan dengan teknologi yang sama canggihnya, namun upaya penyebarluasan informasi itulah yang lebih penting dilakukan.

___________________________________________________________
(mataponsel–image captured by iPhone 3Gs with 2 MP built-in camera)

Pom Listrik, Pom Masa Depan

Dalam beberapa bulan belakangan ini mulai sering terlihat pemandangan baru di stasiun pom di dekat rumah. Apa pemandangan baru tersebut? Pemandangan baru itu adalah adanya mobil-mobil bermesin hybrid semacam Toyota Prius atau mobil-mobil bertenaga listrik seperti Mitsubishi i MiEV. Dalam gambar di bawah ini tampak mobil Mitsubishi i MiEV yang mungil dan berdesain futuristik sedang dicas ulang tenaga listriknya. Memang sejak diluncurkan pertama kali pada Juli 2009 di Jepang, mobil listrik besutan pabrikan Mitsubishi inilah yang biasanya menguasai pom listrik di seantero Jepang.

Dulu sebelum Mitsubishi MiEV ini dipasarkan, pom listrik yang sudah mulai muncul di Jepang sekitar tahun 2008 nyaris selalu kosong karena mobil hybrid yang digadang-gadang menjadi pelanggan pom listrik ini ternyata lebih mengandalkan mesin bensin daripada mesin listriknya. Jadi, pom pengecasan listrik yang beberapa sudah menghiasi pom bensin ini hanya menjadi hiasan semata. Namun, sekarang, dengan kehadiran mobil bermesin 100% listrik seperti Mitsubishi MiEV ini beberapa kali saya lihat pom pengecasan listrik mulai terpakai.

Mobil MiEV versi produksi ini diklaim dapat berlari hingga 130 km per jam. Untuk versi yang dipasarkan di Jepang, MiEV mampu menempuh hingga jarak 160 km dengan sebuah pak baterai ion lithium 16 kWh yang terisi penuh. Lalu, kira-kira berapa lama waktu yang digunakan untuk mengecas mobil bertenaga listrik ini? Menurut sebuah situs otomotif, Mitsubishi MiEV ini menerapkan konsep quick charge atau cas cepat. Hanya dalam waktu 20 menit, pak baterai ion lithium 16 kWh dapat terisi 80%. Selain tenaga listrik yang lebih murah dan terbarukan, mobil listrik semacam ini mempunyai andil dalam menurunkan karbon monoksida sebagai hasil pembakaran mesin bensin atau diesel. Nah, jika mobil semacam ini mulai memenuhi jalanan di ibukota, mungkin langit di Jakarta akan kembali biru seperti 50 tahun lalu.

___________________________________________________________
(mataponsel–image captured by iPhone 3Gs with 2 MP built-in camera)

Museum Lampung (2)

Puas dilantai bawah, aku naik ke atas. Saat aku naik ada beberapa remaja putra yang turun dari ruang atas, tampaknya rombongan terakhir yang keluar dari ruangan. Sebelumnya ada satu rombongan siswa sekolah yang berkunjung ke museum. Selain aku, ada seorang ibu dan anak perempuannya yang kurang lebih berumur 10 tahun sedang melihat-lihat dan mencatat literatur yang tertempel di benda-benda milik museum, si ibu tampak sabar menunggui anaknya menyelesaikan tugas sekolahnya. Aku tersenyum melihatnya.

Saat mengamati benda-benda penting dan bersejarah ini, ada satu hal yang sebenarnya cukup mengganggu, sampai aku sampaikan ke petugas jaga museum. “Bu, saya ada usul buat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Tolong ditambah petugas kebersihan di museum ini, sayang sekali banyak benda-benda antik yang penuh debu, sayangkan kalau banyak debu kesannya seperti tidak terawat”.

Ibu petugas loket itu hanya diam, dia tidak bisa berkomentar. Pikirnya, “Wong aku aja pegawai honorer, bagaimana mau kasih usul ke kepala dinas? Yang ada nanti malah dipecat dari status honorer?”

Beginilah nasib museum yang ada di daerah. Walau aku tidak bisa memukul rata bahwa semua museum di daerah lain juga penuh debu. Aku juga berpikir, dengan retribusi tiket yang sangat murah itu saja masih jarang pengunjung apalagi kalau mau dimahalkan? Tentu saja, perawatan sebuah gedung museum beserta segala isi yang berada di dalamnya, tentu sangatlah mahal. Ah, mengkhayal untuk merawat museum, lha banyak sekolah mau rubuh aja tidak diurus, apalagi mau mengurus satu museum?

Saya jadi teringat dengan satu kata bijak “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau meghargai sejarahnya”. Apakah kita sudah cukup berusaha dalam melakukannya? Wallahu’alam …
___________________________________________________________
(mataponsel–image captured by BlackBerry Bold 9000 with 2 MP built-in camera)