ATM Berjalan

Soal banyaknya ATM saya kira Indonesia tidak kalah dengan Jepang. Bahkan beberapa tahun silam, mencari ATM yang buka 365 hari setahun di Jepang sulit sekali. Beberapa tahun silam pada saat tahun baru antara tanggal 1 sampai dengan 4 semua ATM bank tutup. Akibatnya, pada penghujung tahun banyak orang mengantre di depan ATM untuk mengambil uang guna persiapan tahun baru. Fenomena seperti itu pernah didokumentasikan dalam salah satu scene film animasi Doraemon.

Kini setelah beberapa tahun ada perbaikan dalam hal waktu pelayanan ATM, yakni buka nyaris 365 hari setahun. Ya, nyaris karena beberapa bank menutup akses ke ATM-nya pada hari Minggu atau libur nasional. Pada hari biasa pun ATM Bank tidak bisa diakses setelah pukul 21.00; bahkan di beberapa lokasi–seperti kampus saya–sudah tutup tepat pada pukul 18.00. Mengapa demikian? Karena di luar jam layanan ATM bank, orang masih bisa mengambil uang lewat mesin ATM di convenient store&lt yang tersebar lebih banyak daripada ATM itu sendiri. Ini bedanya dengan di Indonesia yang dalam jarak 100 meter pun kita bisa menemukan ATM. Untuk mengambil uang di ATM convenient store tentu saja kita harus merogoh kocek ekstra, yakni sebesar 200 yen. Namun, kita bisa mengambilnya 24 jam sehari, 365 hari setahun!

Di wilayah-wilayah yang agak terpencil, bank Jepang sering menggunakan kontainer ATM yang dilengkapi antena satelit untuk melayani pelanggannya. Truk kontainer itu biasanya parkir di tempat tertentu pada hari dan jam tertentu. Ia akan berpindah lokasi melayani wilayah lain pada hari yang lain. Di dekat tempat saya, yang mungkin terpencil, kebetulan tidak ada ATM milik bank tempat saya mempunyai akun. Nah, jadi biasanya saya akan menanti truk kontainer seperti di bawah ini parkir di lapangan dekat rumah saya pada hari Selasa dan Jumat. Di luar hari itu saya harus pergi ke kampus atau tempat lain untuk mengambil uang.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Disiplin Baja

Dalam sebuah kesempatan berkunjung ke negeri tirai bambu paruh awal tahun ini, saya agak terperangah ketika melihat kamar kecil di BCIA (Beijing Central International Airport). Toilet itu ditunggui oleh seorang petugas kebersihan. Sebenarnya sampai di sini tidak aneh karena di Bandara Soekarno Hatta pun hal itu biasa: ada seorang petugas kebersihan yang berjaga-jaga di depan toilet. Yang membedakan adalah petugas kebersihan di Cina  mencantumkan semacam kartu pengenal di sebuah papan di dinding dekat pintu masuk toilet. Di papan itu ada tulisan agar pengguna toilet melaporkan nama pegawai ke nomor tertentu apabila tidak puas dengan pelayanan dan kebersihan toilet.

Soal pengawasan terhadap pelayanan di BCIA memang luar biasa. Di pintu pengecekan imigrasi pun ada semacam alat angket elektronik yang dapat menyampaikan tingkat kepuasan pengunjung terhadap pelayanan petugas imigrasi yang melayaninya. Ada beberapa tombol seingat saya yang mewakili penilaian “sangat memuaskan, memuaskan, dan tidak memuaskan”. Entah, “hukuman” apa yang menanti apabila para petugas kebersihan maupun imigrasi ini mendapat penilaian tidak baik dari pengunjung? Sayang saya tidak berani mengambil foto di bagian imigrasi karena ada banyak tentara di sana.

Yang menarik, semua petugas, baik petugas kebersihan, imigrasi, kesehatan, militer ataupun bea cukai, semua menggunakan semacam papan nomor di dada sebagai pengganti papan nama. Entah kenapa. Barangkali itu maksudnya untuk memudahkan pengunjung dari negeri asing mengingat dan melaporkan mereka apabila ada masalah. Ya, sederet nomor memang lebih mudah daripada sederet huruf kanji. Namun, tetap saja, bagi saya nomor sebagai penunjuk jati diri berkesan agak “dingin” dan “seram” karena mengingatkan saya kepada narapidana di sebuah penjara yang menggunakan nomor sebagai pengganti nama.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

 

Cukur Bapori

Di zaman yang katanya super-modern ini, terkadang lucu dan aneh jika kita masih menemui sesuatu yang amat jauh dari modern dan bahkan sudah pantas jika dilabeli ‘kuna’. Namun seringkali pula kita merasa ada sesuatu yang menarik pada hal-hal yang sering pula dicap ‘ketinggalan zaman’ itu.

Ini saya alami ketika menjumpai tukang cukur keliling saat tengah jalan-jalan pagi di daerah Permata Hijau. Saya sempat berhenti beberapa saat untuk melacak ulang ‘tag’ dalam memori di kepala yang berisi gambaran terakhir saya melihat peristiwa serupa. Ternyata hasil pencarian berbunyi “the search failed to identify when such memory was last stored”, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bebas artinya: “Udah lama banget, Booow!“. Sebenarnya, selain tukang cukur keliling seperti ini, ada juga tukang cukur yang memilih tempat strategis di bawah kerindangan pohon dan menunggu pelanggan. Mereka dikenal dengan sebutan cukur Bapori alias ‘Bawah Pohon Rindang’.

Ya, saya sudah lupa kapan terakhir melihat tukang cukur keliling seperti ini. Tapi saya masih ingat jelas rupa kursi lipatnya, bentuk pisau cukur yang pegangannya terbuat dari plasti berwarna hitam atau putih, kerja trimmer yang masih manual, serta aroma sabun mandi yang dipakai mengerik saat merapikan cukuran. Semua berkelebat dalam benak saya begitu cepat. Anehnya, ada semacam kerinduan terselip untuk mengulanginya lagi. Sayang rambut saya masih pendek ketika menyaksikan ‘keajaiban mendadak’ itu.

Sesaat ingatan saya mengilas balik ke puluhan tahun silam. Ketika saya berusia 5 tahunan, Ayah saya suka memanggil tukang cukur keliling seperti ini. Dan saat itu momen mencukur rambut merpakan saat yang istimewa buat saya. Terutama ketika sang tukang cukur membersihkan cairan air sabun dengan pisau cukur setajam silet yang lebih dulu diasah di atas selembar kulit, entah kulit sapi atau
kerbau, supaya makin tajam. Saat itu biasanya teman-teman perempuan menyaksikan dengan seksama dan wajah yang waswas. Masih ingat perasaan bangga ketika saya bisa melewati tahap itu dengan tenang dan menunjukkan kepada mereka kalau saya ‘baik-baik saja’.

Saya tersentak dari lamunan saat gelak tawa anak-anak pecah mendengar canda salah seorang rekannya. Kembali saya menikmati atraksi yang sudah langka didapati di kota besar seperti Jakarta ini. Sambil menyaksikan tukang cukur serius bekerja dan pelanggannya terkantuk-kantuk ditingkahi derai tawa anak-anak yang mengelilinginya, saya berdoa. Doa sederhana entah untuk semua tukang cukur keliling seperti ini. Mudah-mudahan krisis ekonomi, krisis politik, dan seabrek krisis lain di negeri ini tidak membuat rambut jadi malas tumbuh. Karena jika itu terjadi, pasti makin sulit saya menemukan ‘atraksi kehidupan’ yang, meskipun sudah kuna, tapi sangat menarik sekaligus menyegarkan hidup ini.

___________________________________________________________

(mataponsel–image captured by iPhone 3G with 2 MP built-in camera)

Monumen Kesetiaan

Angin bertiup agak keras. Musim semi pun sudah mulai menua sehingga bunga-bunga sudah mulai melayu. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih sedikit. Seperti hari-hari biasa, Kamis pagi itu, Hidesaburo Ueno, professor di Fakultas Pertanian, Universitas Imperial Tokyo (sekarang Universitas Tokyo) berangkat menuju ke kampus setelah bermain-main sebentar dengan Hachi, anjing ras Akita, Jepang miliknya yang berusia 18 bulan. Dia memang hanya tinggal sendirian ditemani anjing itu di rumahnya di bilangan Shibuya, Tokyo. Oleh sebab itu, tak heran hubungan di antara kedua makhluk Tuhan itu begitu erat.

Hari itu, seperti juga pagi-pagi biasanya, ditemani Hachi, Profesor Ueno berangkat ke Stasiun Shibuya untuk naik kereta menuju kampus. Hachi—yang kemudian lebih dikenal dengan nama Hachiko(ハチ公)—ketika sang profesor pergi ke kampus biasanya akan bermain-main di sekitar stasiun. Kepala Stasiun Shibuya, Yoshikawa-san, sudah hafal betul. Dia sangat mengenal baik Prof. Ueno maupun Hachi. Jadi, biasanya dia sesekali mengawasi Hachi dari balik jendela kantornya.

Biasanya ketika jam menunjukkan pukul tiga kurang lima menit, Hachi sudah akan berdiri tegak menunggu tuannya dengan setia di tempat ketika tadi pagi sebelumnya mereka berpisah. Tepat pukul tiga sore, Prof. Ueno biasanya akan muncul dari balik gerbang stasiun. Namun, sore hari itu, 21 Mei 1925, Prof. Ueno tidak muncul. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Hachi dengan setia menunggu. Hingga kereta terakhir pukul sepuluh malam, Prof. Ueno tak kunjung tiba.

Yoshikawa-san, Kepala Stasiun Shibuya, yang berpikir barangkali Prof. Ueno tidak kembali naik kereta berupaya mengajak Hachi pulang. Namun, anjing itu keukeuh tidak mau pulang. Anjing itu tetap menunggu hingga hari berganti. Ternyata hari itu Prof. Ueno tidak mungkn kembali naik kereta. Dia telah meninggal mendadak di kampusnya akibat serangan stroke pada hari itu. Dan Hachi tidak mengetahuinya. Bagi Hachi, tuannya tetap belum kembali.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Bahkan, tahun berganti tahun. Hachi selalu menunggu tuannya di tempat sama pada pukul 14.55. Kembali pulang ketika tuannya tak kunjung muncul, namun tetap kembali di tempat yang sama pada keesokan harinya. Warga shibuya yang hampir tiap hari melihat anjing itu di depan Stasiun Shibuya menjadi jatuh simpati. Untuk menghormatinya, pada tahun 1934, masyarakat Shibuya membangun monumen untuk mengabadikan kesetiaan Hachi yang tak pernah luntur.

Pada hari Jumat, 8 Maret 1935, Hachi tak nampak di depan Stasiun Shibuya. Tentu saja itu mengundang pertanyaan bagi banyak orang. Ke mana perginya anjing setia itu? Ternyata sejak hari itu, Hachi memang tidak pernah datang lagi. Ia telah mati menyusul tuannya, Prof. Hidesaburo Ueno, yang telah 10 tahun meninggalkannya. Jasadnya kemudian dikremasi dan dimakamkan di tempat sama dengan Prof. Ueno di pemakaman elite Aoyama.

Patung Hachiko di depan Stasiun JR Shibuya
Patung Hachiko di depan Stasiun JR Shibuya

Kisah kesetiaan Hachi telah menginspirasi banyak orang yang kemudian mengabadikannya dalam bentuk lukisan, puisi, buku, dan film. Film Hachi (2009) yang dibintangi Richard Gere adalah salah satu karya yang mencoba mengangkat kisah anjing ras Akita itu ke dalam layar perak, namun dengan racikan Hollywood tentunya.

Hachiko memang hanya seekor anjing. Namun, kesetiaannya telah melampaui batas-batas dunianya dan menginspirasi ribuan orang yang hampir tiap minggu selalu berlalu lalang di depan patungnya di Shibuya. Monumen Hachiko memang menjadi tempat yang paling sering digunakan untuk janji bertemu di kawasan Stasiun Shibuya. Beberapa muda-mudi Jepang pun sering memadu janji setia di depan patung Hachiko. Seolah-olah Hachiko menjadi simbol bagi janji dan kesetiaan; tentu saja, sebuah kesetiaan yang tak lekang ditelan waktu.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Konsumsi Ikan

Tak pelak lagi bagi kebanyakan orang di dunia, orang Jepang terkenal sebagai bangsa yang gemar mengonsumsi ikan. Jika melihat dari banyaknya restoran sushi, sashimi, atau segala macam produk makanan hasil laut, tentu hal itu akan menguatkan keyakinan yang sudah mendunia tersebut. Apalagi, kadang-kadang kita bisa menjumpai ikan utuh dengan berat ratusan ton yang dipajang di pojok swalayan di Jepang, seperti yang tampak pada gambar di bawah ini.

27082009

Namun, benarkah orang Jepang yang mengonsumsi ikan terbanyak di dunia? Untuk mengetahui hal itu, ternyata kita perlu melihat pelbagai informasi tentang ikan atau budaya akuatik serta konsumsinya di seluruh dunia. Ternyata, untuk tahun 2006 saja, tercatat total jumlah ikan/hewan akuatik tangkapan plus budidaya di dunia adalah 114 juta ton; dan sebanyak 110 juta ton diperuntukkan bagi konsumsi manusia. Cina menjadi negara yang paling banyak dalam hal hasil tangkapan ikan. Pada tahun 2007, tercatat sebanyak 17 juta ton ikan ditangkap oleh nelayan Cina dari pelbagai perairan di dunia. Produksi ikan Jepang memang terus menurun dari semula menyumbangkan 18% dari total tangkapan dunia pada tahun 1973 hingga hanya sekitar 7% pada tahun 1997.

Sementara itu, bagaimana dengan konsumsi ikan? Rata-rata konsumsi ikan penduduk dunia menurut hitungan FAO saat ini adalah 17,1 kg per kapita/tahun. Namun, menurut skenario kerusakan ekologi dunia, konsumsi itu akan terus menurun hingga 14.2 kg per kapita/tahun. Lalu, berapa konsumsi masyarakat Jepang per kapita/tahun? Ternyata sebesar 66 kg per kapita/tahun menurut data FAO 2003. Luar biasa memang jika dibandingkan dengan rata-rata dunia. Namun, pengonsumsi ikan terbanyak sedunia bukanlah orang Jepang, melainkan orang Maldives atau Maladewa. Mereka mengonsumsi ikan sebanyak 180 kg per kapita/tahun menurut data yang sama. Namun, jika dikalikan dengan populasi penduduk Maladewa yang hanya 300 ribu orang, tentu saja jumlahnya menjadi tidak signifikan apabila dibandingkan dengan populasi Jepang yang tahun ini mencapai 127 juta jiwa. Konsumsi ikan rakyat Cina hanya 25 kg per kapita/tahun. Namun, jumlahnya akan mengejutkan kalau dikalikan dengan populasinya yang mencapai 1,3 miliar orang. Oleh karena itu, tidak mengejutkan apabila FAO melaporkan bahwa sejak tahun 1997, warga Cina mengonsumsi 37% produk hewan akuatik dunia. Jadi?


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Proyek Raksasa Hijau

Judul ini bukan merujuk kepada tokoh buto ijo dalam dunia kosmologis Jawa maupun tokoh Hulk yang merupakan jelmaan dalam dunia komik Amerika. Raksasa hijau dalam artikel ini merujuk kepada proyek patung robot super GUNDAM di Tokyo yang ditujukan untuk menyampaikan pesan lingkungan kepada warga tokyo. Jadi, “hijau” di sini tidak merujuk kepada warna, melainkan kepada lingkungan.

Hingga hari ini, robot GUNDAM dalam ukuran sebenarnya itu diperagakan di Taman Shiokaze Odaiba, Tokyo. Barangkali banyak di antara kita, terutama laki-laki dewasa maupun anak-anak, yang mengenal anime atau kartun Jepang GUNDAM. Anime ini merupakan karya Toshiyuki Tomino di bawah perusahaan animasi Sunrise. Pertama kali diudarakan lewat serial televisi bertajuk Mobile GUNDAM Suit pada 7 April 1979. Cerita aslinya versi tahun 1979 kemudian dikembangkan menjadi sekuel, prekuel, sempalan, dan bahkan latar waktu yang berbeda. GUNDAM pun menjadi sangat populer di luar dunia layar kaca dan layar lebar. Ia juga menjadi topik favorit di dunia game dan mainan. Di dalam industri mainan, BANDAI–salah satu perusahaan mainan terbesar di Jepang–memegang lisensi untuk memproduksi berbagai merchandise dari proyek GUNDAM.

Ada banyak versi kepanjangan dari GUNDAM. Di antaranya adalah Generation Unsubdued Nuclear Drive Assault Module, General Purpose Utility Non-Discontinuity Augmentation Maneuvering Weapon System, Gigantic Unilateral Numerous Dominating Ammunition, dan Gunnery United Nuclear Duetrion Advanced Maneuver System. GUNDAM merupakan salah satu ikon budaya modern urban Jepang yang populer. Pasukan Bela Diri Jepang menggunakan istilah ini untuk sistem persenjataan yang dikembangkannya. Departemen Pemadam Kebakaran Jepang juga menggunakan GUNDAM untuk mempromosikan sistem pemadaman kebakaran di masa mendatang.

Menurut serialnya, GUNDAM merupakan perangkat robotik multiguna yang tergabung dalam Federasi Bumi (Chikyū Renpō, 地球連邦). Pada umumnya perangkat GUNDAM mempunyai nama tertentu seperti RX-178 Gundam Mk-II, MSZ-006 Zeta Gundam, dan LM312V04 Victory Gundam. Karakter GUNDAM yang ditegakkan di Taman Shiokaze Odaiba adalah HG GUNDAM RX-78. Ukurannya disesuaikan dengan proporsi ukuran nyatanya, yakni setinggi 18 meter.

Seperti yang saya kemukakan di awal, proyek mewujudkan raksasa ini merupakan salah satu kampanye Go Green yang dicanangkan oleh kumpulan perusahaan Jepang kepada masyarakat urban di Jepang, khususnya di wilayah Tokyo. Proyek ini bertujuan untuk mengajak kaum muda dan anak-anak untuk lebih mencintai lingkungannya. Selain pendirian patung raksasa, proyek ini juga diwarnai dengan pelbagai kegiatan lain seperti konser musik dan kegiatan pembersihan lingkungan di sekitar Odaiba, Tokyo. Selain untuk pesan lingkungan, proyek GUNDAM hijau ini juga ditujukan sebagai dukungan terhadap pencalonan Tokyo sebagai tempat penyelenggaraan Olimpiade pada 2016. Nah, bagi yang tidak sempat menyaksikannya sendiri, saya tampilkan gambar patung raksasa RX-78 yang amat memesona di bawah ini.

15082009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Pintu Masuk Darurat

Semula saya tidak pernah memperhatikan untuk apa sebenarnya tanda berbentuk segitiga terbalik di jendela pada bangunan-bangunan bertingkat di Jepang. Saya kira itu hanya sebuah tanda untuk menunjukkan arah bagi pembersih gedung tinggi untuk memasang sebuah alat atau tangga. Maklum saja, tanda seperti itu tidak ada di jenis rumah flat semacam rumah saya yang rata-rata hanya berlantai 2. Biasanya tanda segitiga merah terbalik itu ada di apartemen berlantai 3 atau lebih.

Saya baru sadar arti tanda tersebut ketika mengantar teman saya pindah ke sebuah apartemen baru di dekat rumah saya. Ketika diperhatikan dengan cermat ternyata tanda merah tersebut adalah stiker atau seal dari Dinas Pemadam Kebakaran kota setempat. Ada cap dinas kebakaran di balik stiker tersebut. Ternyata tanda segitiga merah tersebut merupakan petunjuk bagi petugas pemadam untuk masuk ketika sedang terjadi kebakaran di gedung tinggi. Mereka bisa masuk ke dalam gedung dengan jalan memecahkan kaca jendela tersebut. Pemberian tanda tersebut juga tidak sembarangan, melainkan sudah memperhitungkan lay out bangunannya.

31072009

Jadi, ketika dalam keadaan darurat, petugas pemadam tidak perlu lagi bingung menentukan lewat pintu mana mereka harus masuk ke dalam gedung. Biasanya pada jendela dengan tanda segitiga tersebut tidak boleh diletakkan barang-barang mebel besar yang bisa menghalangi masuknya petugas pemadam dalam kondisi darurat. Ketika tahu arti tanda tersebut, saya menjadi kagum terhadap manajemen bencana yang diterapkan di Jepang. Mereka selalu menyiapkan diri sebelumnya karena bagaimana pun kapan terjadinya bencana tidak dapat ditebak.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Cicak, cicak di dinding …

Saya jadi teringat lagu dari masa kecil saya itu ketika hadir di International Tokyo Toys Show yang digelar di Tokyo Big Sight, salah satu arena eksibisi terbesar di Jepang, sejak 16 sampai 19 Juli 2009. Saya teringat lagu itu bukan lantaran “mainan” biasanya dimonopoli oleh anak-anak, namun karena saya melihat sebuah mainan yang baru kali ini saya lihat. Karena Jepang menjadi salah satu garis depan dalam bidang inovasi teknologi dan industri mainan, saya tak heran ketika mengetahui bahwa mainan jenis baru ini dikembangkan oleh salah satu perusahaan mainan Jepang besar, Takaratomy.

Apakah mainan baru tersebut? Mainan tersebut dinamakan Aero Spider Lazer. Sebuah inovasi baru dari mainan R/C (radio control) yang menggunakan laser. Dengan dibimbing oleh laser, wahana yang berupa mobil masa depan dengan tiga pasang roda itu mampu merayapi dinding, dan bahkan langit-langit. Tak heran jika mainan tersebut dinamai Aero Spider Laser karena mengingatkan kita pada sang manusia laba-laba, Spiderman. Tertarik untuk membelinya? Mungkin harus menunggu beberapa bulan sejak sekarang karena mainan ini baru dipasarkan kepada umum pada bulan November 2009. Informasinya bisa dilihat pada situs Takaratomy.

19072009

Dengan munculnya mainan baru seperti ini, barangkali kita hanya tinggal menunggu dalam beberapa tahun lagi untuk menyaksikan sepeda motor atau mobil dalam ukuran sesungguhnya yang dapat merayap di dinding. Jika hal itu terjadi, banyak hal bermanfaat sebenarnya bisa kita peroleh. Misalnya, pembersihan kaca di gedung-gedung pencakar langit atau jembatan gantung yang tinggi tidak perlu lagi menggunakan tenaga manusia karena wahana dengan teknologi ini bisa merayap hingga ke puncak bangunan tertinggi. Lebih aman dan tidak berisiko menyebabkan kematian pada pekerjanya. Yah, kadang-kadang, apa yang ditemukan pada dunia mainan memang bisa diterapkan untuk kepentingan yang lebih luas.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Mau di bawah atau di atas, yang mana lebih nyaman?

Jangan keburu ngeres dulu membaca judul kiriman saya kali ini. Judul ini berkaitan dengan lahan perparkiran di Jepang. Seperti yang selalu saya kemukakan, karena wilayahnya yang terbatas, orang Jepang memutar otak mereka lebih cepat daripada orang negeri mana pun untuk mengatasi keterbatasan lahan yang mereka miliki. Ya, karena keterbatasan lahan itulah, rumah-rumah di Jepang terkenal sangat mungil. Jangan bandingkan dengan rumah di Indonesia yang lebar-lebar. Tinggal di tempat tinggal dengan luas tanah 90-100 m2 di Jepang sudah merupakan kemewahan.

Karena sempitnya lahan, masalah parkir di Jepang juga sangat krusial. Susah sekali mencari tempat parkir di kota-kota besar seperti Yokohama atau Tokyo. Kalaupun ada, sangat mahal. Bisa juga sih kalau mau nekat parkir di pinggir jalan. Namun, jangan kaget kalau nanti dikenakan tilang oleh polisi dan harus merogoh kocek paling tidak 15,000 yen (kira-kira setara dengan 1,5 juta rupiah untuk kurs saat tulisan ini ditulis). Parkir sembarangan di lingkungan tempat tinggal pun harus hati-hati. Salah-salah diprotes tetangga, dan akhirnya jadi urusan polisi. Bahkan, kita juga harus hati-hati kalau parkir di depan toko atau apa saja di tepi jalan yang sebenarnya tidak ada tempat parkir.

Jadi, jangan harap kita bisa bebas memarkir mobil kita di sebarang tempat-meskipun di sekitar rumah sendiri-kalau itu bukan di tempat peruntukannya. Lalu, bagaimana jika di sebuah rumah ada yang memiliki lebih dari satu mobil? Tentu saja, kita tidak bisa memarkirnya secara konvensional baik paralel maupun seri sekaligus akibat terbatasnya lahan. Juga karena alasan mengganggu ketertiban umum, kita tidak bisa seenaknya menaruh mobil kedua di jalanan depan rumah seperti yang sering terlihat di Indonesia. Nah, untuk mengatasi kesulitan tersebut, beberapa rumah di Jepang menggunakan sistem parkir vertikal. Jadi, mobilnya diparkir paralel, tetapi bukan menyamping, melainkan ke atas. Mobil yang pertama diletakkan di lantai landasan pada alat parkir vertikal. Kemudian, dengan mesin penggerak lift yang sudah tersedia pada alat tersebut, mobil pertama itu diangkat. Lalu, bagaimana mobil kedua? Nah, mobil kedua bisa disimpan di ruang yang ada di bawah landasan yang sudah diangkat tadi. Sulit membayangkannya? Silakan lihat di dalam gambar di bawah ini.

09052009(2)


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Musim panas? Masih tentang mangga

Hari ini saya coba membeli mangga produk Meksiko. Saya penasaran untuk mencoba rasa buah segarnya karena selama ini saya hanya mengonsumsi secara tak langsung lewat jus atau puding. Ternyata Meksiko adalah salah satu produsen mangga terbesar di dunia dan pemasok mangga terbanyak ke pasaran Amerika Serikat dan juga Jepang. Jika dulu sebelumnya pasaran mangga di Jepun dikuasai oleh Filipina, kini tercatat bahwa pemasok mangga terbesar di Jepang adalah Meksiko. Ironisnya, pohon mangga yang pertama kali masuk ke Meksiko pada abad 17 justru datang dari Filipina lewat tangan kolonis Spanyol.

Salah satu produk mangga andalan Meksiko adalah Tomy Atkins. Semula saya pikir mangga ini justru berasal dari Brazil karena saya menemukan mangga jenis ini yang berlabelkan Product of Brazil. Mangga Tomy Atkins berbentuk oval dengan kulit hijau semburat kemerahan ketika masak. Dagingnya berwarna oranye seperti mangga harumanis. Rasanya? Yummy. Seperti paduan mangga dermayu dan harumanis. Tak heran kalau dibandrol dengan harganya cukup mahal di Jepang. Sekitar 4 US dollar per biji. Makanya, hanya karena penasaran dan ingin membuat tulisan lanjutan tentang mangga, saya membeli dan mencicipinya. Ternyata rasanya enak. Namun, menurut saya, mangga Tomy Atkins ini masih sepupuan dengan mangga gincu dari Indramayu. Semburat merah kulitnya, juga rasanya yang campuran antara mangga dermayu dan harumanis.

Lain Meksiko, lain pula Malaysia. Pada bulan ini, Pemerintah Malaysia tampaknya tertarik untuk bermain dalam kancah permanggaan di Jepang. Memang pasaran mangga di Jepang menjanjikan. Akhir-akhir ini konsumsi mangga naik cukup signifikan di Jepang, terutama menjelang musim panas. Nah, yang membuat saya terkejut adalah berita bahwa Pemerintah Malaysia berniat untuk memasukkan harumanis ke Jepang. Pengetesan mangga harumanis pun telah dilakukan oleh Duta Besar Jepang untuk Malaysia. Perkebunan mangga harumanis nampaknya telah dikembangkan di negara bagian Perlis. Semula saya pikir harumanis hanya ada di Indonesia. Namun, perkiraan saya salah ternyata. Varietas mangga ini mungkin memang tersebar luas dari mulai semenanjung hingga ke wilayah Jawa dan Nusa Tenggara. Namun, lagi-lagi pemerintah kita kalah gesit dan ulet untuk memasarkan mangga meskipun varietas mangga kita melimpah ruah. Jadi, kalau sampai Malaysia berhasil meyakinkan Jepang untuk memasukkan harumanis, hmmmm …

31052009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)