Udang Indonesia yang Berjaya

Nyaris dua bulan mataponsel tidak menyesuaikinikan situs webnya karena kami semua tenggelam dalam kesibukan. Alhamdulillah sekarang mulai sedikit bisa bernapas dan bisa kembali menyesuaikinikan mataponsel.

Jika berkesempatan jalan-jalan ke supermarket di Jepang dan mencari seafood, khususnya udang, sering tersembul rasa bangga karena sering sekali melihat udang produk dari Indonesia biasanya merajai harga dan kualitas udang di supermarket Jepun. Udang Indonesia, khususnya udang windu (Penaeus sp)–di sini dikenal dengan nama ブラック・タイガー・エビ (Black Tiger Ebi)–yang berukuran besar, berkualitas baik, dan berharga mahal biasanya datang dari Indonesia. Kalau yang berukuran sedang atau kecil biasanya datang dari Thailand atau Vietnam. Itu menunjukkan bahwa produk kita sebenarnya bisa berjaya.

Udang windu Indonesia yang terkenal di Jepang biasanya datang dari Papua. Jadi, di labelnya biasanya tertulis Black Tiger Ebi, Papua, Indonesia. Di situs wikipedia sendiri disebutkan bahwa udang windu atau black tiger shrimp ini sudah tidak dibudidayakan lagi karena banyak yang terkena penyakit udang yang ganas, yakni white spot atau bintik putih. Jadi, entahlah, dari mana pasokan udang windu yang merajai pasaran Jepang itu berasal? Yang jelas umumnya tertulis: インドネシア産 (produk Indonesia), seperti yang ada pada foto di atas yang diambil di sebuah swalayan besar di dekat tempat tinggal kami.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Konsumsi Ikan

Tak pelak lagi bagi kebanyakan orang di dunia, orang Jepang terkenal sebagai bangsa yang gemar mengonsumsi ikan. Jika melihat dari banyaknya restoran sushi, sashimi, atau segala macam produk makanan hasil laut, tentu hal itu akan menguatkan keyakinan yang sudah mendunia tersebut. Apalagi, kadang-kadang kita bisa menjumpai ikan utuh dengan berat ratusan ton yang dipajang di pojok swalayan di Jepang, seperti yang tampak pada gambar di bawah ini.

27082009

Namun, benarkah orang Jepang yang mengonsumsi ikan terbanyak di dunia? Untuk mengetahui hal itu, ternyata kita perlu melihat pelbagai informasi tentang ikan atau budaya akuatik serta konsumsinya di seluruh dunia. Ternyata, untuk tahun 2006 saja, tercatat total jumlah ikan/hewan akuatik tangkapan plus budidaya di dunia adalah 114 juta ton; dan sebanyak 110 juta ton diperuntukkan bagi konsumsi manusia. Cina menjadi negara yang paling banyak dalam hal hasil tangkapan ikan. Pada tahun 2007, tercatat sebanyak 17 juta ton ikan ditangkap oleh nelayan Cina dari pelbagai perairan di dunia. Produksi ikan Jepang memang terus menurun dari semula menyumbangkan 18% dari total tangkapan dunia pada tahun 1973 hingga hanya sekitar 7% pada tahun 1997.

Sementara itu, bagaimana dengan konsumsi ikan? Rata-rata konsumsi ikan penduduk dunia menurut hitungan FAO saat ini adalah 17,1 kg per kapita/tahun. Namun, menurut skenario kerusakan ekologi dunia, konsumsi itu akan terus menurun hingga 14.2 kg per kapita/tahun. Lalu, berapa konsumsi masyarakat Jepang per kapita/tahun? Ternyata sebesar 66 kg per kapita/tahun menurut data FAO 2003. Luar biasa memang jika dibandingkan dengan rata-rata dunia. Namun, pengonsumsi ikan terbanyak sedunia bukanlah orang Jepang, melainkan orang Maldives atau Maladewa. Mereka mengonsumsi ikan sebanyak 180 kg per kapita/tahun menurut data yang sama. Namun, jika dikalikan dengan populasi penduduk Maladewa yang hanya 300 ribu orang, tentu saja jumlahnya menjadi tidak signifikan apabila dibandingkan dengan populasi Jepang yang tahun ini mencapai 127 juta jiwa. Konsumsi ikan rakyat Cina hanya 25 kg per kapita/tahun. Namun, jumlahnya akan mengejutkan kalau dikalikan dengan populasinya yang mencapai 1,3 miliar orang. Oleh karena itu, tidak mengejutkan apabila FAO melaporkan bahwa sejak tahun 1997, warga Cina mengonsumsi 37% produk hewan akuatik dunia. Jadi?


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Musim panas? Masih tentang mangga

Hari ini saya coba membeli mangga produk Meksiko. Saya penasaran untuk mencoba rasa buah segarnya karena selama ini saya hanya mengonsumsi secara tak langsung lewat jus atau puding. Ternyata Meksiko adalah salah satu produsen mangga terbesar di dunia dan pemasok mangga terbanyak ke pasaran Amerika Serikat dan juga Jepang. Jika dulu sebelumnya pasaran mangga di Jepun dikuasai oleh Filipina, kini tercatat bahwa pemasok mangga terbesar di Jepang adalah Meksiko. Ironisnya, pohon mangga yang pertama kali masuk ke Meksiko pada abad 17 justru datang dari Filipina lewat tangan kolonis Spanyol.

Salah satu produk mangga andalan Meksiko adalah Tomy Atkins. Semula saya pikir mangga ini justru berasal dari Brazil karena saya menemukan mangga jenis ini yang berlabelkan Product of Brazil. Mangga Tomy Atkins berbentuk oval dengan kulit hijau semburat kemerahan ketika masak. Dagingnya berwarna oranye seperti mangga harumanis. Rasanya? Yummy. Seperti paduan mangga dermayu dan harumanis. Tak heran kalau dibandrol dengan harganya cukup mahal di Jepang. Sekitar 4 US dollar per biji. Makanya, hanya karena penasaran dan ingin membuat tulisan lanjutan tentang mangga, saya membeli dan mencicipinya. Ternyata rasanya enak. Namun, menurut saya, mangga Tomy Atkins ini masih sepupuan dengan mangga gincu dari Indramayu. Semburat merah kulitnya, juga rasanya yang campuran antara mangga dermayu dan harumanis.

Lain Meksiko, lain pula Malaysia. Pada bulan ini, Pemerintah Malaysia tampaknya tertarik untuk bermain dalam kancah permanggaan di Jepang. Memang pasaran mangga di Jepang menjanjikan. Akhir-akhir ini konsumsi mangga naik cukup signifikan di Jepang, terutama menjelang musim panas. Nah, yang membuat saya terkejut adalah berita bahwa Pemerintah Malaysia berniat untuk memasukkan harumanis ke Jepang. Pengetesan mangga harumanis pun telah dilakukan oleh Duta Besar Jepang untuk Malaysia. Perkebunan mangga harumanis nampaknya telah dikembangkan di negara bagian Perlis. Semula saya pikir harumanis hanya ada di Indonesia. Namun, perkiraan saya salah ternyata. Varietas mangga ini mungkin memang tersebar luas dari mulai semenanjung hingga ke wilayah Jawa dan Nusa Tenggara. Namun, lagi-lagi pemerintah kita kalah gesit dan ulet untuk memasarkan mangga meskipun varietas mangga kita melimpah ruah. Jadi, kalau sampai Malaysia berhasil meyakinkan Jepang untuk memasukkan harumanis, hmmmm …

31052009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Musim panas? Ya, mangga.

Di Jepang, musim panas selain identik dengan yukata, festival, dan kembang api, juga identik dengan buah tropis, seperti semangka, nanas, dan sebagainya. Mengapa buah-buahan tropis? Mungkin karena buah-buahan tropis mempunyai kandungan air yang tinggi. Jadi, udara musim panas yang menyengat dan menyebabkan kerongkongan kering dapat dinetralisir dengan menyantap semangka potongan.

Di antara buah-buahan tropis, yang paling tersohor adalah mangga. Ya, mangga yang berair, manis dan legit memang menggoda di waktu-waktu panas. Karena kebanyakan mangga adalah buah impor, harga mangga tidak murah di Jepang. Bahkan mangga domestik dari Okinawa harganya lebih mahal daripada yang impor. Akibatnya, sangat jarang orang Jepang makan mangga potongan. Di restoran pun biasanya buah penutupnya kalau tidak semangka, ya melon.

Lalu, gimana caranya mangga cukup populer di Jepun sementara orang Jepang jarang makan mangga potongan? Ya, mereka mengonsumsi mangga olahan, misalnya es krim mangga, manisan mangga yang dikeringkan, jus mangga, dan sebagainya.  Banyaknya produk mangga olahan menjelang musim panas cukup mencolok untuk tidak menyebut mangga cukup populer di Jepang. Biasanya menjelang musim panas, produsen minuman mengeluarkan produk khusus musim panas. Umumnya produk minuman tersebut adalah yang beraroma mangga. Ada yang berupa jus atau sari buah mangga, atau rasa campuran (mixed fruit) misalnya mangga dan jeruk, mangga dan melon, dan sebagainya.

Kali ini saya tidak berbicara panjang lebar tentang produk mangga olahan, namun saya ingin berbincang tentang mangga beneran. Coba lihat gambar mangga nan menggiurkan di bawah ini.

16052009

Foto ini saya ambil ketika saya berkunjung ke Festival Thai pada 15-16 Mei yang lalu. Saya terkejut dengan begitu massifnya impor buah-buahan dari Thailand. Tidak hanya mangga, tetapi juga durian, manggis, dan buah naga. Namun, tentu saja, di antara semuanya mangga yang paling dinikmati. Sebelum ini, negara utama pengekspor mangga ke Jepang adalah Filipina dan Meksiko dengan jumlah 14.000 ton per tahun. Menurut saya, rasa mangga dari Filipina tidak begitu enak: tidak manis, sedikit asam dan kadang-kadang tawar. Untuk mangga Haden Meksiko saya belum pernah membeli buah segarnya karena mahal dan jarang. Namun, dalam bentuk olahan saya pernah merasakannya. Dan rasanya pun masih ada asamnya.

Sejak tahun 2004, Brazil mulai ikut bermain dengan memasok sekitar 5000 ton mangga jenis Tomy Atkins. Sayang, saya belum pernah mencobanya. Brazil mendapatkan izin ekspor setelah negosiasi panjang dengan Jepang. Pada tahun 2007, giliran India yang bisa meyakinkan Jepang tentang mangga andalannya: mangga Alphonso. Tidak tanggung-tanggung India melobi Jepang selama puluhan tahun! Saya pernah mencoba mangga Alphonso dan menurut saya masih kalah rasanya dengan mangga harum manis van Indonesia.

Pernah terbit harapan saya Pemerintah Indonesia mau melobi terus Departemen Pertanian Jepang untuk memasukkan produk pertanian Indonesia, khususnya mangga. Ya, kita punya varietas unggul mangga yang rasanya mengalahkan mangga Filipina, Meksiko, bahkan Alphonso. Sebut saja mangga manalagi, mangga indramayu, mangga situbondo, dan yang paling spektakuler rasanya menurut saya adalah mangga harum manis. Jadi, kalau mangga harum manis sampai masuk ke Jepang, pasti mangga dari negara lain lewat, begitu pikir saya.

Namun, harapan tinggal harapan. Bukan rahasia lagi kelincahan diplomat kita berdiplomasi mungkin termasuk paling rendah di Asia Tenggara. Makanya, saya kaget ketika Thailand berhasil meyakinkan Pemerintah Jepang untuk mengizinkan mangga Thailand masuk. Rasanya … hmmm … tidak jauh dengan mangga harum manis. Harganya pun bersaing dengan harga mangga negara lain. Meskipun harganya kira-kira 2 US dollar per biji, saya mulai melihat rak buah-buahan di supermarket Seiyu di dekat rumah saya mulai dipenuhi Mangga berlabel Product of Thailand. Ah, … seandainya itu harum manis.

17052009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)