Musim panas? Ya, mangga.

Di Jepang, musim panas selain identik dengan yukata, festival, dan kembang api, juga identik dengan buah tropis, seperti semangka, nanas, dan sebagainya. Mengapa buah-buahan tropis? Mungkin karena buah-buahan tropis mempunyai kandungan air yang tinggi. Jadi, udara musim panas yang menyengat dan menyebabkan kerongkongan kering dapat dinetralisir dengan menyantap semangka potongan.

Di antara buah-buahan tropis, yang paling tersohor adalah mangga. Ya, mangga yang berair, manis dan legit memang menggoda di waktu-waktu panas. Karena kebanyakan mangga adalah buah impor, harga mangga tidak murah di Jepang. Bahkan mangga domestik dari Okinawa harganya lebih mahal daripada yang impor. Akibatnya, sangat jarang orang Jepang makan mangga potongan. Di restoran pun biasanya buah penutupnya kalau tidak semangka, ya melon.

Lalu, gimana caranya mangga cukup populer di Jepun sementara orang Jepang jarang makan mangga potongan? Ya, mereka mengonsumsi mangga olahan, misalnya es krim mangga, manisan mangga yang dikeringkan, jus mangga, dan sebagainya.  Banyaknya produk mangga olahan menjelang musim panas cukup mencolok untuk tidak menyebut mangga cukup populer di Jepang. Biasanya menjelang musim panas, produsen minuman mengeluarkan produk khusus musim panas. Umumnya produk minuman tersebut adalah yang beraroma mangga. Ada yang berupa jus atau sari buah mangga, atau rasa campuran (mixed fruit) misalnya mangga dan jeruk, mangga dan melon, dan sebagainya.

Kali ini saya tidak berbicara panjang lebar tentang produk mangga olahan, namun saya ingin berbincang tentang mangga beneran. Coba lihat gambar mangga nan menggiurkan di bawah ini.

16052009

Foto ini saya ambil ketika saya berkunjung ke Festival Thai pada 15-16 Mei yang lalu. Saya terkejut dengan begitu massifnya impor buah-buahan dari Thailand. Tidak hanya mangga, tetapi juga durian, manggis, dan buah naga. Namun, tentu saja, di antara semuanya mangga yang paling dinikmati. Sebelum ini, negara utama pengekspor mangga ke Jepang adalah Filipina dan Meksiko dengan jumlah 14.000 ton per tahun. Menurut saya, rasa mangga dari Filipina tidak begitu enak: tidak manis, sedikit asam dan kadang-kadang tawar. Untuk mangga Haden Meksiko saya belum pernah membeli buah segarnya karena mahal dan jarang. Namun, dalam bentuk olahan saya pernah merasakannya. Dan rasanya pun masih ada asamnya.

Sejak tahun 2004, Brazil mulai ikut bermain dengan memasok sekitar 5000 ton mangga jenis Tomy Atkins. Sayang, saya belum pernah mencobanya. Brazil mendapatkan izin ekspor setelah negosiasi panjang dengan Jepang. Pada tahun 2007, giliran India yang bisa meyakinkan Jepang tentang mangga andalannya: mangga Alphonso. Tidak tanggung-tanggung India melobi Jepang selama puluhan tahun! Saya pernah mencoba mangga Alphonso dan menurut saya masih kalah rasanya dengan mangga harum manis van Indonesia.

Pernah terbit harapan saya Pemerintah Indonesia mau melobi terus Departemen Pertanian Jepang untuk memasukkan produk pertanian Indonesia, khususnya mangga. Ya, kita punya varietas unggul mangga yang rasanya mengalahkan mangga Filipina, Meksiko, bahkan Alphonso. Sebut saja mangga manalagi, mangga indramayu, mangga situbondo, dan yang paling spektakuler rasanya menurut saya adalah mangga harum manis. Jadi, kalau mangga harum manis sampai masuk ke Jepang, pasti mangga dari negara lain lewat, begitu pikir saya.

Namun, harapan tinggal harapan. Bukan rahasia lagi kelincahan diplomat kita berdiplomasi mungkin termasuk paling rendah di Asia Tenggara. Makanya, saya kaget ketika Thailand berhasil meyakinkan Pemerintah Jepang untuk mengizinkan mangga Thailand masuk. Rasanya … hmmm … tidak jauh dengan mangga harum manis. Harganya pun bersaing dengan harga mangga negara lain. Meskipun harganya kira-kira 2 US dollar per biji, saya mulai melihat rak buah-buahan di supermarket Seiyu di dekat rumah saya mulai dipenuhi Mangga berlabel Product of Thailand. Ah, … seandainya itu harum manis.

17052009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

8 thoughts on “Musim panas? Ya, mangga.”

  1. bener bgt mas, tapi kok ampe sgitu susahnya yah ,asukin mangga ke jepang, mang takut ada virusnya apa? coba mereka lihat si manalagi, klo gak terjeran2 mereka, orang buahnya putih kok tapi manisnya minta ampun,…

    1. Nah, itu yang kudu dipikirkan teknologinya. Saya punya teman dari Fakultas Pertanian UGM yang sedang S3 di Jepang, coba nanti saya tanyakan. Mungkin memang perlu dukungan dan kemauan keras pemerintah untuk menembus pasar agro di Jepang dan Korea. Kita kalah dalam hal ini dengan Filipina dan Thailand.

  2. padahal buah kiwi yang asem bukan main di Indonesia laku. mosok manggan kita yang manis nggak laku ? mudah2an petani kita bisa berjaya di masa mendatang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s