Museum Lampung (2)

Puas dilantai bawah, aku naik ke atas. Saat aku naik ada beberapa remaja putra yang turun dari ruang atas, tampaknya rombongan terakhir yang keluar dari ruangan. Sebelumnya ada satu rombongan siswa sekolah yang berkunjung ke museum. Selain aku, ada seorang ibu dan anak perempuannya yang kurang lebih berumur 10 tahun sedang melihat-lihat dan mencatat literatur yang tertempel di benda-benda milik museum, si ibu tampak sabar menunggui anaknya menyelesaikan tugas sekolahnya. Aku tersenyum melihatnya.

Saat mengamati benda-benda penting dan bersejarah ini, ada satu hal yang sebenarnya cukup mengganggu, sampai aku sampaikan ke petugas jaga museum. “Bu, saya ada usul buat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Tolong ditambah petugas kebersihan di museum ini, sayang sekali banyak benda-benda antik yang penuh debu, sayangkan kalau banyak debu kesannya seperti tidak terawat”.

Ibu petugas loket itu hanya diam, dia tidak bisa berkomentar. Pikirnya, “Wong aku aja pegawai honorer, bagaimana mau kasih usul ke kepala dinas? Yang ada nanti malah dipecat dari status honorer?”

Beginilah nasib museum yang ada di daerah. Walau aku tidak bisa memukul rata bahwa semua museum di daerah lain juga penuh debu. Aku juga berpikir, dengan retribusi tiket yang sangat murah itu saja masih jarang pengunjung apalagi kalau mau dimahalkan? Tentu saja, perawatan sebuah gedung museum beserta segala isi yang berada di dalamnya, tentu sangatlah mahal. Ah, mengkhayal untuk merawat museum, lha banyak sekolah mau rubuh aja tidak diurus, apalagi mau mengurus satu museum?

Saya jadi teringat dengan satu kata bijak “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau meghargai sejarahnya”. Apakah kita sudah cukup berusaha dalam melakukannya? Wallahu’alam …
___________________________________________________________
(mataponsel–image captured by BlackBerry Bold 9000 with 2 MP built-in camera)

Advertisements

Author: mataponsel

The things around us seen and told through the lenses of our cellphones

2 thoughts on “Museum Lampung (2)”

  1. Joe, terimakasih untuk komentarnya. Kebetulan yang posting untuk artikel ini adalah ‘Ibu’ bukan Bapak. Namanya Ibu Adhe. Sudah sejak beberapa bulan lalu beliau menjadi kontributor artikel di mataponsel. Mengisi kekosongan karena saya dan Totok sedang (sok) sibuk. Terima kasih untuk komentarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s