Monumen Kesetiaan

Angin bertiup agak keras. Musim semi pun sudah mulai menua sehingga bunga-bunga sudah mulai melayu. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih sedikit. Seperti hari-hari biasa, Kamis pagi itu, Hidesaburo Ueno, professor di Fakultas Pertanian, Universitas Imperial Tokyo (sekarang Universitas Tokyo) berangkat menuju ke kampus setelah bermain-main sebentar dengan Hachi, anjing ras Akita, Jepang miliknya yang berusia 18 bulan. Dia memang hanya tinggal sendirian ditemani anjing itu di rumahnya di bilangan Shibuya, Tokyo. Oleh sebab itu, tak heran hubungan di antara kedua makhluk Tuhan itu begitu erat.

Hari itu, seperti juga pagi-pagi biasanya, ditemani Hachi, Profesor Ueno berangkat ke Stasiun Shibuya untuk naik kereta menuju kampus. Hachi—yang kemudian lebih dikenal dengan nama Hachiko(ハチ公)—ketika sang profesor pergi ke kampus biasanya akan bermain-main di sekitar stasiun. Kepala Stasiun Shibuya, Yoshikawa-san, sudah hafal betul. Dia sangat mengenal baik Prof. Ueno maupun Hachi. Jadi, biasanya dia sesekali mengawasi Hachi dari balik jendela kantornya.

Biasanya ketika jam menunjukkan pukul tiga kurang lima menit, Hachi sudah akan berdiri tegak menunggu tuannya dengan setia di tempat ketika tadi pagi sebelumnya mereka berpisah. Tepat pukul tiga sore, Prof. Ueno biasanya akan muncul dari balik gerbang stasiun. Namun, sore hari itu, 21 Mei 1925, Prof. Ueno tidak muncul. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Hachi dengan setia menunggu. Hingga kereta terakhir pukul sepuluh malam, Prof. Ueno tak kunjung tiba.

Yoshikawa-san, Kepala Stasiun Shibuya, yang berpikir barangkali Prof. Ueno tidak kembali naik kereta berupaya mengajak Hachi pulang. Namun, anjing itu keukeuh tidak mau pulang. Anjing itu tetap menunggu hingga hari berganti. Ternyata hari itu Prof. Ueno tidak mungkn kembali naik kereta. Dia telah meninggal mendadak di kampusnya akibat serangan stroke pada hari itu. Dan Hachi tidak mengetahuinya. Bagi Hachi, tuannya tetap belum kembali.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Bahkan, tahun berganti tahun. Hachi selalu menunggu tuannya di tempat sama pada pukul 14.55. Kembali pulang ketika tuannya tak kunjung muncul, namun tetap kembali di tempat yang sama pada keesokan harinya. Warga shibuya yang hampir tiap hari melihat anjing itu di depan Stasiun Shibuya menjadi jatuh simpati. Untuk menghormatinya, pada tahun 1934, masyarakat Shibuya membangun monumen untuk mengabadikan kesetiaan Hachi yang tak pernah luntur.

Pada hari Jumat, 8 Maret 1935, Hachi tak nampak di depan Stasiun Shibuya. Tentu saja itu mengundang pertanyaan bagi banyak orang. Ke mana perginya anjing setia itu? Ternyata sejak hari itu, Hachi memang tidak pernah datang lagi. Ia telah mati menyusul tuannya, Prof. Hidesaburo Ueno, yang telah 10 tahun meninggalkannya. Jasadnya kemudian dikremasi dan dimakamkan di tempat sama dengan Prof. Ueno di pemakaman elite Aoyama.

Patung Hachiko di depan Stasiun JR Shibuya
Patung Hachiko di depan Stasiun JR Shibuya

Kisah kesetiaan Hachi telah menginspirasi banyak orang yang kemudian mengabadikannya dalam bentuk lukisan, puisi, buku, dan film. Film Hachi (2009) yang dibintangi Richard Gere adalah salah satu karya yang mencoba mengangkat kisah anjing ras Akita itu ke dalam layar perak, namun dengan racikan Hollywood tentunya.

Hachiko memang hanya seekor anjing. Namun, kesetiaannya telah melampaui batas-batas dunianya dan menginspirasi ribuan orang yang hampir tiap minggu selalu berlalu lalang di depan patungnya di Shibuya. Monumen Hachiko memang menjadi tempat yang paling sering digunakan untuk janji bertemu di kawasan Stasiun Shibuya. Beberapa muda-mudi Jepang pun sering memadu janji setia di depan patung Hachiko. Seolah-olah Hachiko menjadi simbol bagi janji dan kesetiaan; tentu saja, sebuah kesetiaan yang tak lekang ditelan waktu.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

8 thoughts on “Monumen Kesetiaan”

  1. Wahhhh..Saya baru mendengar Cerita Hachiko sekarang nich Pak Totok…
    Sungguh memang sangat mengisnpirasi sekali, apalagi pada tahun itu saya yakin sikap orang2 Jepang masih banyak yang angkuh, dengan adanya Kisah Hachi ini bisa menginspirasi mereka juga tentunya…

    Nice writing…
    Salam kenal lagi dari saya yang sudah sangat lama tidak berkunjung ke sini dan salam semangat selalu…

    NB: Owh iya, Blog ANda ini sudah saya pasang sejak pertama kali saya menemukannya, tahun 2008 yang lalu Pada Categori Link Happy Live in Japan…Alangkah bahagianya jika Blog saya juga bisa tetap diam di sini 🙂

  2. Terima kasih, Mas Joko sudah mampir kembali ke blog kami. Kadang2 saya juga suka melihat2 blog Mas Joko yang berbicara tentang social worker. Keep writing ya Mas tentang bidang itu. Baiklah, blog Mas Joko akan saya masukkan ke dalam blog roll kami ya. Sering2 mampir lagi yaa …

  3. Duuuh…..begitu menyentuh kisah Hachiko ini, sorry ya..blum berpartisipasi nih bro….jadi malu kalo ingat blum kirim artikel nih. hehehe….

    1. Berdoa aja ya film Hachi masuk ke Indonesia. Dulu zaman saya kecil film2 anjing seperti Lassie dan Benji masuk kok ke Indonesia. Cuma sekarang ini memang jarang film anak-anak masuk ke Indonesia kecuali kartun.

  4. anjing bisa setia kenapa manusia ga bisa??sepuluh tahun merupakan hampir seumur hidup bagi anjing tapi hachiko tetap setia menunggu majikannya sampai ajal menjemputnya,,,hal ini bisa menjadi inspirasi buat aku untuk tetap setia menanti seseorang walaupun sangat sulit untuk mendapatkan kepastian separti yang kualami sekarang..ku harus tetap setia menanti dia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s