Mau di bawah atau di atas, yang mana lebih nyaman?

Jangan keburu ngeres dulu membaca judul kiriman saya kali ini. Judul ini berkaitan dengan lahan perparkiran di Jepang. Seperti yang selalu saya kemukakan, karena wilayahnya yang terbatas, orang Jepang memutar otak mereka lebih cepat daripada orang negeri mana pun untuk mengatasi keterbatasan lahan yang mereka miliki. Ya, karena keterbatasan lahan itulah, rumah-rumah di Jepang terkenal sangat mungil. Jangan bandingkan dengan rumah di Indonesia yang lebar-lebar. Tinggal di tempat tinggal dengan luas tanah 90-100 m2 di Jepang sudah merupakan kemewahan.

Karena sempitnya lahan, masalah parkir di Jepang juga sangat krusial. Susah sekali mencari tempat parkir di kota-kota besar seperti Yokohama atau Tokyo. Kalaupun ada, sangat mahal. Bisa juga sih kalau mau nekat parkir di pinggir jalan. Namun, jangan kaget kalau nanti dikenakan tilang oleh polisi dan harus merogoh kocek paling tidak 15,000 yen (kira-kira setara dengan 1,5 juta rupiah untuk kurs saat tulisan ini ditulis). Parkir sembarangan di lingkungan tempat tinggal pun harus hati-hati. Salah-salah diprotes tetangga, dan akhirnya jadi urusan polisi. Bahkan, kita juga harus hati-hati kalau parkir di depan toko atau apa saja di tepi jalan yang sebenarnya tidak ada tempat parkir.

Jadi, jangan harap kita bisa bebas memarkir mobil kita di sebarang tempat-meskipun di sekitar rumah sendiri-kalau itu bukan di tempat peruntukannya. Lalu, bagaimana jika di sebuah rumah ada yang memiliki lebih dari satu mobil? Tentu saja, kita tidak bisa memarkirnya secara konvensional baik paralel maupun seri sekaligus akibat terbatasnya lahan. Juga karena alasan mengganggu ketertiban umum, kita tidak bisa seenaknya menaruh mobil kedua di jalanan depan rumah seperti yang sering terlihat di Indonesia. Nah, untuk mengatasi kesulitan tersebut, beberapa rumah di Jepang menggunakan sistem parkir vertikal. Jadi, mobilnya diparkir paralel, tetapi bukan menyamping, melainkan ke atas. Mobil yang pertama diletakkan di lantai landasan pada alat parkir vertikal. Kemudian, dengan mesin penggerak lift yang sudah tersedia pada alat tersebut, mobil pertama itu diangkat. Lalu, bagaimana mobil kedua? Nah, mobil kedua bisa disimpan di ruang yang ada di bawah landasan yang sudah diangkat tadi. Sulit membayangkannya? Silakan lihat di dalam gambar di bawah ini.

09052009(2)


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

1 thought on “Mau di bawah atau di atas, yang mana lebih nyaman?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s