Siapa bilang Jepun tak kenal BLT? (2)

Mengapa sebagian orang Jepang menanggapi BLT 2009 dengan negatif? Menurut mereka, jika dibandingkan dengan Indonesia, di Indonesia lebih jelas siapa yang dibantu. Lepas dari pelaksanaannya yang kadang amburadul, namun di Indonesia sasarannya lebih jelas: membantu mereka yang memang miskin dan paling menderita dalam situasi ekonomi sekarang. Di Jepang, BLT diberikan kepada semua penduduk asalkan mereka terdaftar sebagai penduduk. Terdaftar sebagai penduduk artinya mempunyai kartu keterangan jati diri atau meibunsyoumeisyo (名文証明書). Jadi, dari mulai CEO Toyota Motor International hingga para freeters (istilah untuk mereka yang tidak punya pekerjaan tetap dan lebih suka [atau terpaksa?] memilih pekerjaan sambilan); dari mulai bayi yang baru bisa membedakan warna gelap dan terang, hingga seorang kakek yang sudah tidak mampu berdiri lagi karena usianya, semuanya mendapat BLT atau teigakukyuufukin asalkan terdaftar.

Jika sasarannya untuk membantu penduduknya menghadapi krisis finansial, tentu saja alasannya agak sumir karena itu semua tergantung pada dari kelas mana penduduk itu berasal. Jika dia memang hanya berpendapatan di bawah 60 ribu yen tiap bulan, mungkin akan terbantu meskipun hanya sesaat. Namun, bagi seorang pemilik usaha kondominium di bilangan Roppongi, Tokyo, uang 12 ribu yen tidak berarti apa-apa karena hanya akan habis untuk ongkos satu kali makan siangnya saja. Terlebih lagi, jika dibandingkan di Indonesia yang jangka waktu pemberian BLT-nya berkala dan cukup panjang, BLT Jepang hanya diberikan satu kali. Jadi, efek membantu bagi mereka yang membutuhkan tentu tidak begitu signifikan; apalagi model mahasiswa dengan sangu pas-pasan semacam saya ini.

Persoalan lain lagi adalah, menurut rekan-rekan Jepang yang saya hubungi, karena yang mendapatkan hanyalah mereka yang sudah terdaftar dan punya kartu keterangan jatidiri, para tunawisma-yang biasanya tidak punya dukungan finansial cukup-justru tidak. Mengapa begitu? Para tunawisma di Jepang–yang notabene justru paling membutuhkan BLT dan perlu dibantu–kebanyakan tidak punya kartu jatidiri dan tidak terdaftar di pemerintah daerah mana pun. Jadi, artinya, mereka yang paling berada pada posisi paling bawah dalam struktur masyarakat Jepang dari sudut pandang ekonomi ini justru cuma bisa menggigit jari.

Lalu, dari mana pemerintah Jepang mendapatkan dana untuk BLT ini? Menurut sebuah sumber, itu diperoleh dari pajak masyarakat dan obligasi (surat utang) yang dikeluarkan pemerintah. Nah, oleh karena itu, kebijakan ini cukup banyak yang menentang. Mengapa untuk membantu pemerintah harus mengutang atau mengambil dana masyarakat? Artinya kan sama saja masyarakat dibantu dengan uang mereka sendiri? Jadi, beberapa teman Jepang saya berpendapat: mengapa kalau mau membantu masyarakat tidak diturunkan saja pajak pendapat atau pajak barang non-mewah untuk periode selama krisis atau resesi ini? Jawaban sih sudah pasti: mana ada pemerintah, terutama negara maju, yang mau kehilangan pendapatan melalui pajak? Ya enggak, Uz?

09052009


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

One thought on “Siapa bilang Jepun tak kenal BLT? (2)”

  1. Numpang comment lagi neh…
    Gue pikir BLT yang dilakukan oleh Pemr.Jepang maupun Indonesia, punya base yg sama….Tujuan Politik.

    Walau effek nya bikin ‘happy’ bagi yang menerimaanya, tapi buat ‘yang mengamati’ ada kesan…ngebantu tapi nggak mendidik.

    Terlepas dari Pro dan kontra…soal BLT, rasanya emang sulit buat ‘Kebijakan’ politik yang pro-kerakyatan. Salah pelaksanaannya…bukan sanjungan yang dibuat tapi caci maki yang di terima.

    Seneng baca ‘artikel2 di blog mataponsel’, tadinya gue gak mudeng kenapa dinamai ‘mataponsel’, kini…aku baru mudeng ‘saat baca artikel Nduzz ttg helm cebanan’ itu. Duh…namanya juga emak2…sukur aja gak sampe gaptek tenanan, hehehe….
    Artikel2 yang di tulis disini diawali dengan ‘Foto dari ponsel’ kalian ber 2 ya…hm..kreatif, gue juga gitu..suka nulis berdasarkan ‘foto’ yang gue ambil dari camera digital ato ponsel gue.

    Hehehehe…kek nya comment gue dah melenceng jauh dari tema BLT nih..

    Yo..wiss..kulo pamit!
    Arigatou…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s