Siapa bilang Jepun tak kenal BLT? (1)

03052009Di Indonesia masalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) menuai komentar baik yang positif maupun yang negatif. Ada yang mengomentari dengan “Lebih baik memberikan ‘alat pancing’ daripada ‘ikan’-nya.” Ada yang mencurigai incumbent sengaja memanfaatkan BLT sebagai strategi kampanye. Dan juga pendapat lain yang riuh rendah.

Ternyata di Jepang, negeri yang termasuk maju dan merupakan kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia, ada juga kebijakan sejenis BLT  untuk menghadapi krisis dan resesi ekonomi yang meluluhlantakkan nyaris seluruh industri berbasis teknologinya. Foto di atas memperlihatkan amplop dan surat edaran pemerintah Jepang kepada penduduk tentang kebijakan tersebut.

Ada yang pro dan kontra juga soal BLT yang dalam bahasa Jepang disebut teigakukyuufukin (定格給付金)  ini. Namun, yang menarik penerima BLT bukan hanya warga negara Jepang. Kami, penduduk asing, pun mendapatkannya asalkan sudah terdaftar sebagai penduduk sementara Jepang per 1 Februari 2009. Yang lebih menarik lagi, tidak hanya orang miskin atau di bawah garis kemiskinan, tetapi semua penduduk Jepang, baik warga asli maupun pendatang, yang tercatat dalam registrasi di kantor kependudukan.

Jadi, hampir seluruh penduduk Jepang dari 0 tahun hingga usia lanjut mendapatkan jatah uang subsidi krisis ekonomi dengan jumlah beragam. Uang subsidi sebesar 12.000 yen diberikan kepada mereka yang berusia di antara 18 dan 64 tahun. Di luar usia produktif itu, pemerintah Jepang menghadiahi warganya dengan uang bantuan sebesar 20.000 yen. Nah, silakan dikurskan sendiri berapa jumlah uang bantuan tersebut. Uang tersebut tentu saja tidak terlalu besar apabila digunakan untuk hidup di Jepang, terutama di wilayah Tokyo dan sekitarnya–yang menurut sebuah survei tahun 2009 kini menduduki posisi kota termahal di muka bumi. Namun, pemerintah Jepang berharap agar bantuan tersebut dapat membantu meringankan beban penduduk Jepang dalam menghadapi krisis finansial 2009.

Bagaimana tanggapan orang Jepang tentang hal itu? Ternyata tanggapan orang Jepang terhadap BLT atau teigakukyuufukin cukup beragam. Namun, yang mengagetkan, tidak semua orang Jepang cukup senang menerima bantuan tersebut. Bahkan mantan Perdana Menteri Jepang Koizumi termasuk yang tidak setuju. Dalam rapat pemutusan kebijakan bantuan tersebut, Koizumi walk-out dari rapat. Sebagian rekan Jepang yang saya hubungi juga menganggap itu adalah kebijakan paling bodoh yang pernah diambil oleh pemerintah Jepang.

Lalu, apa alasan orang Jepang yang tidak senang dengan kebijakan ini? Silakan lihat di bagian kedua dari tulisan bersambung ini.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s