Memilih siapa di antara yang enggak kita kenal, ya?

08042009Ada beberapa kelebihan dan sekaligus kekurangan bagi mereka yang tinggal di luar negeri berkenaan dengan Pemilihan Umum atau Pemilu 2009. Tak terkecuali bagi kami yang tinggal di Jepang. Kelebihannya adalah kami sudah mendapatkan surat suara dari PPLN Tokyo sejak dua atau tiga minggu sebelum pelaksanaan pemilu. Kami juga bebas menentukan untuk memilih yang kami suka secara lebih bebas dan personal. Bebas karena tidak terikat waktu dan tempat seperti saudara-saudara di Indonesia yang kudu datang ke TPS dan hanya pada hari Kamis, 9 April 2009, pada jam yang sudah ditentukan. Jangan harap kita mau diterima petugas ketika datang ke TPS pada jam 3 pagi, atau jam 5 sore.  Personal karena kami bisa memilihnya di rumah kami, di taman, di sekolah, di bangku Starbuck’s, dan bahkan di toilet (kalau mau).  

Lalu bagaimana menyampaikannya ke PPLN? Ya, lewat cara standar alias dikirim via pos. Barangkali di Pemilu 2014 sudah ditemukan cara baru, misalnya iPemilu. Para pemilih diberikan user/voter ID  (identitas pemilih) dan password (kode masuk). Kemudian, seperti tes TOEFL iBT, PPLN membuka kesempatan bagi semua WNI yang sedang berada di LN untuk memilih dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Hasil vote atau pilihan dikirim dan disimpan dalam bentuk PDF (sebagai bukti memilih) di dalam HD komputer si pemilih. Identitas pemilih yang sudah menunaikan kewajibannya langsung diblokir agar tidak bisa lagi mengakses i-Bilik Suara.  Akan tetapi, sebagaimana biasanya sebuah sistem, tetap saja ada lubang-lubang yang harus dicermati dan ditutup. Namun, enggak salahnya dicoba di masa mendatang.

Di antara kelebihan memilih di LN, ada juga kekurangannya. Kami tidak tahu banyak tentang siapa yang sebaiknya kami pilih karena kurangnya minimnya informasi dan sosialisasi. Ya maklum saja, mungkin sulit para caleg itu mempromosikan diri satu per satu kepada kami yang terpencar-pencar di luar negeri ini. Barangkali jejaring sosial semacam Facebook atau Friendster bisa dimanfaatkan sebenarnya. Bukan tidak ada caleg di pemilu sekarang yang sadar untuk memanfaatkan jejaring sosial itu, namun kebanyakan mereka berasal dari daerah pilihan lain; sementara daerah pilihan kami secara fait accompli sudah digariskan oleh KPU: Daerah Pemilihan II DKI Jakarta! Nah, mereka yang berasal dari daerah pemilihan ini lupa bahwa mereka tidak hanya dipilih oleh mereka yang tinggal di DKI Jakarta yang tentu saja well-informed, atau kadang-kadang malah sudah pada tahap over-informed. Jadi, banyak di antara mereka yang jarang memanfaatkan jejaring sosial.

Meskipun demikian, karena adanya kelebihan dalam soal waktu dan tempat bagi kami yang tinggal di LN, minimnya informasi bisa disiasati dengan melihat profil caleg lewat pelbagai sumber di internet. Alhasil, mahaguru Google-lah yang menjadi tumpuan kami. Lewat Google, Yahoo, atau search engine lain, kami dapat menjaring pelbagai latar informasi seputar target atau caleg. Namun, itu bagi mereka yang peduli. Bagi yang enggak, ngapain capek-capek nge-Google buat cari caleg? Mending cari yang lain …


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

2 thoughts on “Memilih siapa di antara yang enggak kita kenal, ya?”

  1. Hahaha. Bener pak. Saya juga ikutan pak Totok googling dulu sebelum nyentang caleg. Tapi kuatir juga kalo calegnya sangat aktif nge-fesbuk, ntar kepilih malah lupa tugasnya sbg wakil rakyat. hehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s