Poster Caleg Jepang

Dalam beberapa hari mendatang, Indonesia akan menjalani pesta demokrasi yang cukup akbar. Dampaknya sudah bisa kita rasakan bahkan sejak tahun lalu. Pohon, tembok, pagar, body kendaraan nyaris semua ruang publik telah berubah menjadi arena bagi para calon (baik legislatif maupun eksekutif) untuk berperang image, bermain kata, dan juga berlomba-lomba menunjukkan siapa yang paling “wah”. Protes beberapa warga yang merasa ruang pemandangan publiknya terampas seolah-olah diabaikan oleh para pehura-hura politik yang terus saja melahap semua tempat yang masih kosong dari reklame politik. Ketidakpedulian ini mungkin juga disebabkan oleh keriuhan pesta politik lima tahunan yang sejak dulu memang selalu tidak lepas dari keingarbingaran yang kadang-kadang lepas kendali.

Lalu, bagaimana di Jepang? Di Jepang, pemilihan tingkat nasional diadakan hanya untuk badan legislatif nasional  (国会: kokkai), yakni untuk memilih anggota majelis tinggi (主議員: shugi-in), tiap empat tahun, dan anggota majelis rendah (参議員: sangi-in), tiap tiga tahun. Nah, hampir sama dengan Indonesia, pada tahun ini, sekitar bulan September akan diadakan pemilihan anggota majelis tinggi. Biasanya pemilihan diadakan pada hari libur, dan bukan hari yang diliburkan. Misalnya, hari Minggu.

Kemudian, yang juga berbeda adalah keikutsertaan masyarakat terhadap pesta demokrasi tersebut. Di Indonesia terlihat begitu gegap gempita, sementara di Jepang–paling tidak selama saya tinggal di sini–terlihat begitu santai dan nyaris seperti tidak ada perhelatan apa-apa. Kalaupun tiba masa kampanye, biasanya para jurkam dan caleg akan berkampanye di spot yang sudah ditentukan, misalnya di depan stasiun kereta tempat berkumpulnya ribuan bahkan jutaan manusia. Namun, pemandangan yang sering terlihat adalah bahwa mereka yang kampanye asyik bercuap-cuap, sementara mereka yang berlalu-lalang tetap saja berlalu cepat-cepat sambil sesekali memperhatikan layar ponsel mereka: tidak peduli. Ya, tingkat partisipasi politik, terutama di kalangan orang muda, di negara-negara maju–seperti Jepang misalnya–memang relatif rendah. Bagi mereka–terutama yang berasal dari kelas menengah–asalkan tidak berpengaruh besar terhadap hajat hidup mereka, siapa pun yang terpilih tidak ada masalah.

Yang sangat berbeda lagi adalah poster dan tempat menaruh poster. Saya perhatikan di Indonesia hampir semua ruang publik yang kosong tidak luput dari poster caleg dan atribut partai. Mulai pagar pembatas jalan tol hingga batang pohon di tepi jalan semuanya menjadi ruang pamer reklame politik. Ukurannya pun tidak terbatas. Dari mulai ukuran A4 sampai ukuran satu lapangan tenis (kalau mampu atau ada uang), semuanya hayuk aja!

Di Jepang, semuanya diatur sedemikian rupa. Tidak semua ruang publik bisa ditempeli poster caleg dan jumlahnya pun tidak bisa semena-mena. Tidak pernah saya lihat satu poster yang sama ditempelkan di lokasi sama atau berdekatan lebih daripada 2 lembar. Jadi, ruang publik tidak tertutupi semua oleh poster caleg. Kemudian, ukuran pun sudah ditentukan tidak boleh lebih dari A1 (594 × 841 mm).  Lebih daripada itu, pemasang poster akan berurusan dengan pihak kepolisian. Isi poster pun biasanya hanya berupa foto si calon, motto atau slogan (biasanya hanya satu frase atau satu kalimat), dan nama partai. Jadi, tidak ada informasi misalnya si caleg adalah keturunan atau orang tua si fulan, gelar akademis caleg, dst.  Contohnya bisa dilihat pada dua contoh poster di bawah ini.

13022009
130220092
Jika kita perhatikan, kedua contoh poster di atas amat simpel alias sederhana, namun justru berkelas. Nah, poster yang sederhana dan simpel itu hanya berfungsi sebagai pengingat atau drill agar calon pemilih bisa mengingat kembali nama calon. Mengapa “mengingat kembali”? Ya, karena biasanya para calon legislatif tersebut biasanya sudah sering berhubungan dengan masyarakat melalui aktivitas sosial, politik dan lain-lainnya. Nama dan sepak-terjang mereka paling tidak sudah dikenal oleh konstituennya. Jadi, mungkin sulit ditemukan caleg karbitan di Jepang yang–misalnya–selama ini berdagang kain dan membuka toko kelontong, namun ketika giliran musim nyaleg tiba, lalu coba-coba mengadu nasib dengan ikut undian pileg (pemilihan legislatif).  Nah, jadi sudah betul-betul kenalkah Anda dengan caleg pilihan Anda? Ingat, waktu pergi ke TPS sudah makin dekat lho!


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

1 thought on “Poster Caleg Jepang”

  1. Ternyata…emang poster caleg itu ada dimana-mana, cuma tampilannya aja yg beda, hehe..(my 1st comment on Ur Blog)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s