SML

Ban-spark

Ini foto ban mobil Spark kesayangan saya. Kata ‘kesayangan’ di sini berbanding terbalik dengan harga bensin premium yang jadi bahan bakarnya. Maksudnya, semakin murah bensin, semakin bertambah tingkat sayang itu. Dan saat ini, mungkin tingkatnya telah mencapai titik tertinggi. Dengan harga bensin Rp4500/liter, saya rasa di harga itulah level tertinggi saya. Kalau SBY masih ingin mengambil hati rakyat menjelang Pemilu tahun ini, mungkin masih ada peluang untuk Spark saya mendapat cinta yang lebih dalam lagi.

Kembali ke soal ban. Sekilas memang tampak bagus mulus. Lagi-lagi ini karena kamera ponsel saya yang minim piksel. Lupakan saja, yang jelas foto ini menipu. Ban ini tidak bisa saya pakai lagi lantaran sudah pecah. Dengan ‘lubang’ yang rasanya lebih cocok dibilang ‘sobek’, rasanya semua tukang tambal ban tubeless pasti angkat tangan. Sobekan ini bukan di telapak ban melainkan di bagian sisinya. Agar tahu saja, saya punya dua ban dengan kondisi seperti ini. Penyebab sobek itu adalah ‘lubang jahanam’ di hampir seluruh jalan di Jakarta dan sekitarnya.

Lubang yang saya maksud biasanya muncul sehabis musim hujan, lebarnya sekitar 30 cm hingga 1 meter. Lubang ini mirip seperti lubang untuk menanam pohon dengan tepi curam dan kedalaman 10 cm hingga 20cm. Saya sendiri kurang mengerti mengapa bisa timbul lubang seperti itu. Yang jelas lubang semacam ini betul-betul bisa membuat Anda menyumpah serapah saat tidak sengaja melintas di atasnya dengan kecepatan tinggi.

Setelah beberapa kali menerjang lubang seperti ini, muncul benjolan kecil di sisi ban. Tukang tambal ban langganan saya menjelaskan benjolan itu muncul karena steel belt yang melingkari sisi roda sudah remuk atau putus. Ia menambahkan bahwa kondisi ban seperti itu hanya tinggal ‘menunggu umur’ saja. Dan (sialnya) ia benar. Ban Spark benjol itu akhirnya meletus setelah kembali terperosok lubang jahanam untuk kesekian kali. Waktu itu saya meracau mengutuki arsitek teknik pembuat jalan, kendaraan bertonase berat yang suka melintasi jalan itu, dan juga oknum pemerintah daerah yang mengorupsi dana pembangunan jalan. Tetapi caci-maki tinggal caci-maki, tetap saja saya harus membeli ban baru.

Setelah kejadian itu saya mendapat ide untuk membuka SML alias Sekolah Mengemudi Lanjutan. Sekolah ini khusus untuk mereka yang sudah mahir menyetir namun ingin memiliki ketrampilan menghindari lubang-lubang jahanam meski berkendara dengan kecepatan tinggi. Saya belum tahu siapa kira-kira staf pengajar yang akan saya rekrut nantinya. Mungkin Chandra Alim, Rifat Sungkar dan para pereli nasional lainnya.

Ada yang tertarik memodali rencana sekolah saya ini? Halooo?


(mataponsel–image captured by Nokia 7610 with 1 MP built-in camera)

Advertisements

Author: Tahmid Firdaus

Just a regular guy, trying to reveal the multi-layered secrets of life lying scattered before his paths. A simple guy who learns to write and writes to learn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s