Ke Gunung Aja!

Dari segi topografis, daratan Jepang memang diwarnai dengan dataran di beberapa wilayah dekat pesisir dan dengan lebih banyak pegunungan di wilayah yang lebih dalam. Oleh karena itu, lahan untuk mendirikan bangunan tempat tinggal menjadi lebih terbatas. Akibat situasi yang terbatas secara spasial itu, masyarakat Jepang terbiasa hidup di tempat yang sempit. Kesempitan itu tampak pada bangunan tempat tinggal mereka yang irit dan saling berimpit antara satu bangunan dengan bangunan lain.

Jadi, bagi masyarakat Jepang, terutama yang besar di perkotaan, berimpitan merupakan hal biasa. Akibatnya, berimpitan dalam transportasi umum, misalnya kereta, juga merupakan sesuatu yang wajar saja. Keterbatasan ruang dalam sarana umum itu akhirnya menciptakan adab umum yang mengharuskan tiap orang menghormati hak “ruang” orang lain. 

Mengenai crowded-nya kereta api di Tokyo dan sekitarnya pada jam-jam sibuk sudah pernah saya bahas pada artikel-artikel sebelumnya. Artikel kali ini saya buat karena saya tergelitik oleh iklan yang ada di stasiun subway Metro Tokyo yang beberapa kali saya lihat ketika saya pergi ke Tokyo tengah minggu ini. Iklan layanan masyarakat itu saya jepret dan muatnaikkan pada kiriman kali ini.

Dalam iklan yang saya muat di samping kiri ini, terlihat gambar seorang pemuda yang membawa banyak barang dan memanggul ransel di dalam kereta listrik. Pada iklan itu, terdapat tulisan 山でやろう。atau ‘Please do it on the Mountain’. Dalam adab naik angkutan umum di Jepang, kita tidak boleh semaunya menenteng bawaan kita tanpa memperhatikan kenyamanan penumpang lain. Jadi, jika membawa kereta bayi (baby stroller), kita harus melipatnya pada waktu kereta penuh. Jika kita membawa ransel, kita tidak boleh memanggulnya di punggung, melainkan harus menyimpannya di rak barang di atas tempat duduk, atau meletakkannya di depan dada kita. Jadi, dengan demikian, penumpang lain tidak akan terganggu. Maklum saja, pada jam-jam tertentu penumpang kereta harus berimpitan dan kadang-kadang tidak ada ruang cukup antarpenumpang. Jadi, sebaiknya kita menggunakan space sesuai dengan kebutuhan kita saja; tidak mengambil hak orang lain. Begitu kira-kira adab sopan santun berkereta di Jepang. Jadi, bagi mereka yang tidak mau tahu atau ingin melanggar adab sopan santun naik kereta listrik itu, pilihannya sudah jelas: ke gunung aja!


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s