Ke…mbali

Lebih dari sebulan Mataponsel tidak disesuaikinikan alias updating. Yah, karena ada masalah pelik yang harus saya selesaikan dan menyita waktu cukup banyak. Jadi, jangankan untuk memikirkan penelitian saya, untuk menulis kisah-kisah ringan lewat mataponsel pun jadi agak sulit. Namun, setelah sebulan lewat, kini saya mencoba menulis lagi.

Ada kata yang sangat tepat untuk mengambarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini. Apa kata itu? Kata tersebut adalah kembali. Yah, setelah tidak ada tulisan baru, kini mataponsel telah hadir kembali. Mataponsel yang sempat mati suri karena saya tinggalkan, sementara penulis tandem saya juga masih belum bisa mengaktualisasikan diri melalui tulisan-tulisannya yang humanis, telah kembali. Semuanya antara lain karena internet di rumah saya juga mulai tersambung kembali sore ini.

Sementara itu, pada awal minggu ini, bulan penuh berkah dan pahala, yakni Ramadhan, pun juga kembali menghampiri kita. Semua ibadah di bulan ini bagi umat Muslim sangat berarti untuk kembali ke fitrah mereka sebagai hamba Allah.

Nah, secara kebetulan juga, akhir pekan lalu saya pun kembali ke Indonesia. Serba kebetulan memang. Yang lebih kebetulan lagi adalah saya naik pesawat yang singgah ke Bali. Dalam bahasa Jawa, bunyi /b/ pada Bali kadang-kadang diucapkan kandhel atau tebal sehingga terdengar seperti mBali. Bagi orang Jawa seperti saya, ketika mengucapkan “ke Bali”, akan terdengar seperti “kembali” (dari frase ke mBali). Jadi, lagi-lagi kata “kembali” mewarnai tulisan kali ini; meskipun yang terakhir ini terkesan maksa.

Ada yang menarik perhatian saya ketika singgah ke mBali di Bandara Ngurah Rai dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Salah satu ruang transit di Terminal Keberangkatan Luar Negeri Bandara Internasional Ngurah Rai disulap sedemikian rupa sehingga nyaris mirip salah satu sudut pertokoan dalam Bandara Changi, Singapura. Jika tidak percaya, silakan lihat hasil jepretan kamera ponsel saya. Deretan pertokoan yang menjual parfum, tas, minuman keras, dan barang-barang merk internasional berlokasi di dalam plaza yang berlantai keramik mewah, berukuran lebar, dan disusun diagonal. Semuanya menampilkan wajah pertokoan bandara bertaraf internasional. Wajar saja kalau banyak wisatawan asing yang datang ke pertokoan itu. Dulu pertokoan bandara di Ngurah Rai sama sekali sepi pengunjung karena mungkin tidak mempunyai daya tarik. Bangga saya melihat perubahan signifikan di Bali. Mudah-mudahan hal yang sama merembet ke tempat lain, terutama Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Saya senang melihat Indonesia perlahan-lahan menuju ke arah perbaikan.


 (mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s