Berkunjung ke Atap Negeri Sakura (2)

Perjalanan panjang ke batas langit pun dimulai ketika kami mulai melewati Pos Keenam. Pos keenam ada di ketinggian sekitar 2400 meter dpl. Jalanan mulai menanjak meskipun belum terlampau terjal. Namun, vegetasi di sekeliling jalur pendakian pun mulai jarang. Hanya tumbuhan pendek, seperti rumput dan belukar saja, yang mendominasi. Sementara itu, tanahnya yang semula berwarna hitam menjadi sedikit demi sedikit merah bata berbatu-batu.

Jalur pendakian dari pos keenam ke pos ketujuh cukup lebar. Kira-kira lebarnya sekitar 3 sampai dengan 4 meter. Karena nyaris tidak adanya vegetasi, jika cuaca cerah, kita bisa melihat jalur pendakian menuju ke atas yang berjarak cukup jauh. Kadang-kadang pos atau kamp peristirahatan di tepi jalur pendakian terlihat dari bawah tempat kita mendaki. Terlihat betapa tingginya tempat yang akan kita tuju. Sampai pos ketujuh waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Jadi, jarak tempuh antara pos kelima sampai ke pos ketujuh sekitar 2 jam.

Dari pos ketujuh ke pos kedelapan, perjuangan berat pun dimulai. Selain jaraknya cukup jauh, jalur pendakiannya pun makin terjal. Dari pos ketujuh menuju ke pos delapan, posisi jalur pendakian pun sudah berada di atas batas awan. Ketinggiannya pun sudah berada antara 2700 sampai dengan 3200 mdpl.  Jadi, suhu pun mulai turun, sehingga saya yang semula hanya mengenakan kaos lengan pendek merasa perlu memakai jaket pelapis. Suhu di sekitarnya pada waktu itu pun kira-kira sudah berada di bawah lima belas derajat celsius.

Mendekati pos ke delapan, oksigen pun makin menipis. Banyak di antara pendaki yang memakai spray oksigen untuk membantu napas yang kadang-kadang tersengal. Karena tidak membawa semprotan oksigen, saya pun terpaksa harus membantu pernapasan melalui mulut karena sebagian hidung saya sedang pilek. Rasanya kadang-kadang sesak napas karena terlalu sedikitnya oksigen yang bisa kita hirup. Sekitar pukul delapan kita baru sampai di penginapan di hachigoume atau pos kedelapan. Penginapan itu terletak pada posisi kira-kira 3200 mdpl. Sekilas dari luar, penginapan itu nyaris seperti bangunan berbentuk barak yang panjangnya 50 meter dan lebarnya 10 meter. Siapa sangka bahwa ruang di dalamnya bisa menampung sekitar 1000 orang. Lalu, masih ada sebuah ruang ukuran 8 x 10 meter untuk menampung 40 orang menyantap makanan karena selain berfungsi sebagai penginapan, bangunan bernama Hakuunsou (白雲荘) itu juga berfungsi sebagai rumah makan dan warung barang-barang keperluan pendaki. Pada tengah malam, ruang untuk makan pun disulap menjadi tempat tidur.

Setelah makan malam sekitar jam sembilan, kami mendapat kesempatan tidur di lantai dua. Di semua tempat di “hotel” itu, tempat tidur menyerupai rak bertingkat dua. Malam itu, kami tidur di rak paling bawah; untuk masuk pun kami harus menundukkan kepala, berjongkok, lalu merangkak karena ruang antara rak bawah dan atas hanya sekitar 70 cm. Tiap rak terbagi lagi atas beberapa slot dan tiap slot harus dijejali empat orang. Jadi, kami tidur pun harus berdempet-dempetan; nyaris tidak ada ruang untuk bergerak. Dalam suasana normal, pasti kami sulit tidur dalam kondisi seperti itu. Namun, karena lelah setelah mendaki selama 7 jam, tak terasa kami pun terlelap menikmati waktu istirahat yang disediakan.

Kira-kira pukul dua belas kami dibangunkan. Ternyata kami harus segera berangkat lagi ke puncak. Setelah berkemas-kemas, kami segera meninggalkan penginapan. Betapa terkejutnya kami karena sudah ada ribuan pendaki menuju ke puncak malam itu. Senter yang mereka pegang ketika mendaki membuat iring-iringan pendaki itu mirip sekali ular naga berkelap-kelip merayapi punggung gunung. Suhu dingin pun mulai menusuk sehingga kami harus mengenakan jaket tebal penahan dingin. Ketika mulai merayapi dinding Gunung Fuji menuju ke puncak, langkah kami sering kali harus terhenti karena terlalu padatnya jalan menuju ke puncak. Selain itu, tekstur jalur pendakian yang semula tanah berbatu-batu, kini nyaris didominasi oleh batu cadas. Jadi, kadang-kadang kami pun harus memanjat batu-batu terjal, sehingga dibutuhkan kehati-hatian yang ekstra, apalagi waktu itu matahari belum terbit.

Sekitar pukul setengah empat, ufuk timur pun mulai memerah. Namun, sang surya baru betul-betul menampakkan diri sekitar pukul setengah lima. Hampir semua orang menghentikan langkah menjelang detik-detik terbitnya matahari. Sinar pertamanya yang menyilaukan mata membuat banyak orang Jepang berteriak 眩しい (mabushii) atau ‘silau’. Datangnya sinar matahari membuat suhu di sekitar kami sedikit demi sedikit mulai merambat naik. Kemudian, kami semua meneruskan perjalanan ke atap negeri. Setelah melewati batu-batuan cadas yang terjal di jalur pendakian, sekitar pukul setengah tujuh pagi kami menginjakkan kaki di Puncak Fuji (富士山頂) di ketinggian 3776 mdpl. Dari tempat penginapan kami, dibutuhkan sekitar enam jam untuk mencapai puncak. Perjalanan melelahkan, tetapi sekaligus menyenangkan karena kami bisa menyaksikan jutaan awan putih yang bergulung-gulung di bawah kami. Biasanya gulungan awan-awan itu berada di atas kami. Ya, kami memang sedang berada di atap negeri Sakura.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

6 thoughts on “Berkunjung ke Atap Negeri Sakura (2)”

  1. Wah, makasih sudah mampir di blog saya dan teman saya ini, Mas. Yah, sudah lama saya enggak jalan-jalan memang. Nah, ini kebetulan ada yang ngajak naik Gunung Fuji, ya masak saya tolak? Maklum hobi saya dulu naik gunung. Lumayan buat obat stres, Mas.

  2. ii na..
    keren bangett..liat awan putih dari atas.
    tapi klo rame kyk gitu..jadi kurang seru tuh. Sense nya mendaki gunung jadi berkurang.
    Sampe ke saljunya gak pak? atau klo musim panas gak ada salju yah..

  3. sugoiiiiii….
    keren abizzzz

    jadi keinget filmnya doraemon yg sering ngajak nobita ke atas awan…

    ternyata mirip yakkk…

    hagh..haghh…hagghh

  4. hoiiiiiiiiiiiiiiiiiii sy plg pgn ke jpng tp dana dkit jd mnta tlg krimkan contoh konsep rumah minimalis jpang biar sy bangun di indonsia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s