Ada Afrika di Yokohama

Lama absen menyesuaikinikan mataponsel karena beberapa masalah yang mesti saya hadapi. Baru sekarang saya sempat menulis lagi. Sejak awal bulan hingga akhir bulan Mei ini, di kawasan Minatomirai–atau bandar masa depan–digelar Pesta Afrika, sebuah perhelatan yang sebelumnya biasanya dilakukan tiap tahun di Taman Hibiya, Tokyo. Ajang Festival Afrika kali ini ditaja oleh Kementerian Luar Negeri Jepang dan Pemerintah Kota Yokohama, serta didukung oleh 33 kedutaan besar Afrika di Jepang. Festival ini digelar di Minatomirai, Yokohama bersamaan dengan Konferensi International Tokyo mengenai Pembangunan Afrika yang juga diselenggarakan di kota pelabuhan Yokohama.

Citra tentang Afrika di Jepang memang tidak berbeda dengan di negara-negara lain, termasuk Indonesia: miskin, rawan pangan, penuh konflik, dan segala macam citra miring lainnya. Bahkan di Indonesia, para pendatang dari Benua Afrika dianggap berkaitan erat dengan peredaran obat bius dan obat-obatan terlarang lainnya. Citra gelap itu tentu saja menutupi kebudayaan Afrika yang warna-warni, dekat dengan alam, dan memiliki kearifan tersendiri. Meskipun belum pernah menginjakkan kaki di bumi Afrika, saya bisa melihat pesona Afrika itu melalui festival yang digelar di Minatomirai kemarin. Tidak hanya saya, tetapi banyak juga pengunjung lainnya yang mulai melihat daya tarik Afrika dari sudut lain. Di dalam festival yang juga diikuti oleh puluhan LSM internasional itu tidak hanya menggelar gerai informasi seputar Afrika, namun juga oleh-oleh, makanan, pakaian, alat musik dan segala pernak-pernik Afrika. Ada pula dua panggung besar tempat para musisi Afrika dan Jepang menunjukkan kemampuan mereka dalam rangka memperkenalkan kebudayaan Afrika dan juga mempererat hubungan di antara Jepang dan negara-negara Afrika. Dan yang lebih penting lagi adalah mengubah citra negatif Afrika pada masyarakat dunia, terutama masyarakat Jepang, yang selama ini hanya mendapatkan info Afrika dari siaran televisi.

Ya, harus kita sadari bahwa citra yang terbentuk lewat tabung ajaib bernama televisi memang telah melalui proses tertentu yang sedikit banyak dipengaruhi oleh sudut pandang dan ideologi si pembuat. Jadi, begitu kita bersentuhan langsung dengan “manusia”-nya atau masyarakatnya, ada nilai-nilai lain yang selama ini tak nampak, mulai bermunculan. Itulah, saya kira tepat betul apa yang terkandung dalam peribahasa, “Tak kenal maka tak sayang.”


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s