Maaf, sedang keluar

Beberapa hari silam saya pergi mengantarkan istri melakukan medical check-up ulang ke sebuah rumah sakit di bilangan Ichigaya, Tokyo. Alhamdulillah, ternyata tidak ada yang mengkhawatirkan. Namun, inti posting kali ini bukan tentang berita tersebut, melainkan apa yang terpapar pada foto kiriman kali ini.

Jika melihat foto di atas, terpampang sebuah papan petunjuk. Bukan petunjuk arah, atau petunjuk “jenis kelamin” toilet, melainkan sebuah petunjuk kegiatan si pemilik ruang di seberang pintu sana. Pemilik ruang di sana adalah direktur (所長; baca: syochou) rumah sakit tempat saya berkunjung kemarin. Jika kita perhatikan dengan saksama, papan petunjuk kegiatan itu tidak hanya berisi informasi bahwa sang Direktur sedang “ada” atau “tidak ada” di dalam ruangan (seperti kebanyakan papan petunjuk keberadaan para pejabat publik di Indonesia). Akan tetapi, isiannya lebih terperinci karena menunjukkan sedekat mungkin kegiatan apa dan konsekuensinya bagi mereka yang memerlukan untuk bertemu dengan sang Direktur.

Coba kita lihat satu per satu keterangan di papan petunjuk itu dari mulai sisi sebelah kiri. Paling kiri adalah zaishitsu (在室) yang berarti ‘ada di ruangan’. Di sebelahnya, ada keterangan kaigichuu (会議中) yang kurang lebih berarti ‘sedang rapat’. Berikutnya adalah keterangan bahwa sang Direktur sedang memeriksa pasien atau shinsatsuchuu (診察中). Maklum saja, direktur ini adalah direktur rumah sakit yang lazimnya juga seorang dokter. Kemudian, di posisi tengah terdapat keterangan gaisyutsu (外出) yang berarti ‘keluar (dari area rumah sakit)’. Di sebelahnya lagi, tertera tulisan gaisyutsu dan modoru (外出・戻る) yang kurang lebih berarti ‘sedang keluar, tetapi akan kembali’. Berikutnya tertulis keterangan raikyakuchuu (来客中) atau ‘sedang kedatangan tamu’. Terakhir, tertulis keterangan syuccyou (出張) atau berarti ‘sedang dinas ke luar kota/negeri’. Jadi, jika melihat foto di atas, direktur rumah sakit itu sedang keluar alias tidak ada di area rumah sakit.

Ada dua hal yang menarik perhatian saya dalam perkara papan petunjuk keberadaan atau kegiatan ini. Pertama, informasi kegiatan dibuat sedetail mungkin. Jadi, intinya adalah pejabat publik diharapkan untuk secara terbuka menyebutkan semua kegiatan yang dilakukannya pada waktu jam kerja. Jadi, makin kecil kemungkinannya untuk mangkir apabila semua jenis kegiatan sang pejabat publik “dibeberkan” di depan pintu ruangannya. Beban sang sekretaris untuk berbohong kepada tamu pun berkurang. Yang kedua adalah adanya pembedaan di antara kondisi “keluar” dan “keluar, tetapi kembali”. Jelas ini menafikan pemeo di antara pekerja bahwa jika ada keperluan di luar tempat bekerja, tidak perlu lagi kembali ke kantor (atau, dalam hal ini, rumah sakit). Ketika masih bekerja di Jakarta, saya sering menemukan kejadian demikian. Jika seseorang pegawai sudah keluar kantor, sering sekali tidak pernah kembali lagi kecuali, tentu saja, kalau tas atau barang-barang miliknya masih tertinggal di kantor. Jujur saja, saya dan teman-teman dulu sering menganggapnya aturan tidak tertulis. Ya, gak, Uz?


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

1 thought on “Maaf, sedang keluar”

  1. Hehehe, gue sih gak terlalu inget, Tok. Soalnya dari pertama kerja, gw di advertising agency. Jadi kalo habis keluar meeting sama klien, kalo deadline-nya besok yang tetep balik ke kantor. Nggak peduliketinggalan tas atau enggak di kantor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s