Negeri Ajaib Bernama Indonesia

Menjadi orang yang dikenal bisa memotret dan juga lumayan memegang kamera video ternyata ada tidak enaknya juga. Enaknya, bisa makan enak gratis di hotel atau restoran kelas atas. Tidak enaknya terkadang harus rela dimintai tolong teman untuk urusan dokumentasi.

Seperti suatu hari saya dengan sedikit terpaksa harus memenuhi permintaan teman untuk merekam acara yang dihadirinya untuk dijadikan dokumentasi kantornya. Padahal sebelum acara itu, saya sudah mondar-mandir untuk urusan kerja saya sendiri. Tapi, yah inilah arti persahabatan.

Ternyata acaranya adalah acara pembagian penghargaan kepada perusahaan-perusahaan tambang terkemuka di Indonesia oleh sebuah majalah yang berisikan isu-isu seputar industri pertambangan nasional.

Acara yang dihelat di Shangri La hotel ini benar-benar gebyar. Ada tari, musik dan nyanyi dari artis Ibu Kota. Bahkan, seperti masih kurang hiburan, sebelum acara dimulai ada Gala Dinner yang juga disajikan dengan atraksi. Seluruh waiter, yang jumlahnya mungkin sekitar 40-50 orang berbaris-baris membawa mulai dari appetizer hingga dessert kepada para tamu yang duduk mengelilingi meja bundar. Untuk makan pembukanya, saya perhatikan ada irisan tipis-tipis daging, sepertinya lamb, disiram saus kecoklatan dan dua tangkup roti kecil; artistik sekali.

Untuk makan utamanya para tamu dibawakan daging cube roll yang juga bersimbah saus coklat dan garnish yang sangat menggugah selera. Sepanjang makan malam itu mereka dihibur suara merdu dari 4 penyanyi dengan formasi ala The Manhattan Transfer yang baru-baru ini tampil memukau di ajang Java Jazz. Penyanyi ini mengiringi tamu makan hingga selesai.

Menjelang usai makan, para waiter kembali membawa piring-piring kotor ke dapur. Saya sempat melihat banyak daging cube roll atau irisan lamb yang tersisa. Bahkan ada yang hanya di’colek’ sedikit saja oleh tamu. Saya yakin untuk hotel berbintang lima ini, menu seperti itu harganya nyaris mendekati Rp100.000 per porsi. Dan berkali-kali saya melihat sisa daging tak termakan itu dibawa kembali, karena posisi saya persis di dekat pintu yang mengarah ke dapur. Dari beberapa teman, saya mendengar bahwa sisa makanan hotel menurut peraturan biasanya harus dibuang. Saya menerka-nerka, berapa kiranya harga makanan yang terbuang malam itu jika dirupiahkan.

Singkat cerita saya pulang sebelum acara selesai. Dengan pikiran dan badan yang penat, saya masih terbayang-bayang sisa daging nan lezat yang tidak dimakan oleh tamu undangan malam itu. Keluar dari hotel, saya menghentikan mobil di persimpangan hanya beberapa ratus meter dari hotel karena lampu lalu lintas menyala merah. Sekilas mata saya menangkap bayangan dua anak peminta-minta di bawah lampu traffic light dalam gerimis. Yang satu menengadahkan tangan, yang lainnya berbaring membelakangi pengendara mobil dan motor yang melintas. Mungkin ia kecapaian, mungkin juga lemas kelaparan.

Seketika bayangan daging-daging sisa di hotel kembali memenuhi kepala saya. Hanya saja, kali ini dibarengi rasa tercekat dan miris yang amat sangat…

*(Saya sengaja menayangkan foto seperti di atas. Saya rasa Anda bakal kehilangan selera melihat gambar sebenarnya setelah membaca artikel ini)


(mataponsel–image captured by Nokia 7610 with 1 MP built-in camera)

Advertisements

Author: Tahmid Firdaus

Just a regular guy, trying to reveal the multi-layered secrets of life lying scattered before his paths. A simple guy who learns to write and writes to learn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s