Balada Bajaj Shanti-Shinta

Bajaj ngebul

Pertama-tama, maaf buat sobatku Totok. Saya akui kalau menulis (terutama kalau tidak dapat bayaran) memang sulit ya! Hehehe… Tulisan ini cuma sekedar menunjukkan saya masih kontributor mataponsel dan bukan jaminan saya mulai bisa menulis secara teratur lagi. Tapi saya yakin, tulisan Totok memang jauh lebih bermanfaat untuk dibaca tinimbang artikel saya yang kebanyakan ketus, nyinyir atau bahasa Si Dulnya; ngesianin.

Lihat foto di atas? Foto itu sudah saya ambil dan simpan cukup lama di ponsel kuna saya. Mudah-mudahan pembaca masih bisa menangkap kepulan asap yang aslinya cukup tebal keluar dari knalpot sarana transportasi Jakarta yang khas ini.

Setiap melihat bajaj, saya selalu teringat satu atau tepatnya dua teman semasa SMA dulu (tahun 1985-1988). Totok juga pasti kenal mereka. Namanya Shanti dan Shinta. Ya, benar. Mereka kembar identik. Kenapa teringat mereka? Jawabnya karena keduanya memang berutang banyak dengan kendaraan antik yang satu ini. Bukan karena mereka sering naik bajaj semasa hidupnya. Tapi justru lebih dari itu. Orang tua mereka pernah punya usaha jasa bajaj. Tidak heran kita sering memanggil keduanya dengan sebut ‘Shanti atau Shinta Bajaj’!

Yang saya ingat di tahun terakhir SMA, saya dan teman-teman beberapa kali membaca tentang rencana penertiban Pemda Jakarta atas kendaraan ini. Alasannya apalagi kalau bukan polusi udara dan suara yang ditimbulkan ‘becak gemetar’ (istilah istri saya akibat efek yang dia rasakan acap usai menumpang kendaraan ini). Waktu itu kita sering mengolok-olok Shinta dan Shanti untuk menyarankan orang tuanya segera melego bajaj-bajaj sebelum kendaraan itu benar-benar dilarang beroperasi di seluruh wilayah Ibu Kota. Tapi keduanya selalu menanggapi dengan seyum cuek saja. HIngga beberapa tahun setelah kita lulus dan kuliah. Bila ada berita tentang bajaj, pasti kita segera teringat Shinta-Shanti dan bertanya-tanya sendiri masih adakah bajaj-bajaj mereka?

Hingga pada suatu hari saya bertemu Shanti, yang nyaris tidak saya kenali akibat hidupnya yang sangat makmur sepertinya, di food court di Plasa Senayan. Kami bercakap-cakap banyak, dan tentu saja saya menyempatkan untuk bertanya soal bisnis bajaj orang tuanya. Menurutnya, bisnisnya sudah tidak ada lagi. Bukan karena takut akan peraturan Pemda, tetapi karena ayahnya, yang juga dosen perguruan tinggi swasta terkenal di Jakarta, meninggal dunia dan tidak ada yang mau melanjutkan bisnis itu. Shinta-Shanti sendiri adalah anak ‘dua mata wayang’ dalam keluarga.

Pemda Jakarta memang sulit untuk tegas dengan kebijakannya. Tapi bagi sebagian masyarakat, dalam kasus ini para supir bajaj, hal itu justru menguntungkan. Mereka masih bisa dengan bebasnya beroperasi di Jakarta hingga saat ini. Beberapa program pengganti bajaj, seperti Kancil yang disitir lebih ramah lingkungan, ternyata membubung seperti kepulan tebal asap bajaj dan hilang dihembus angin.

Saya cuma membayangkan, seandainya ayah teman saya itu masih hidup, mungkin saja foto bajaj di atas itu adalah salah satu armada miliknya!


(mataponsel–image captured by Nokia 7610 with 1 MP built-in camera)

Advertisements

Author: Tahmid Firdaus

Just a regular guy, trying to reveal the multi-layered secrets of life lying scattered before his paths. A simple guy who learns to write and writes to learn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s