Lagi, tentang Sakura

Sambil menunggu teman saya, Dauz, kontributor mataponsel lain mengirimkan posting terbarunya, saya mencoba mengetengahkan topik tentang Sakura kembali. Ada beberapa sebab. Pertama, stok foto sakura di ponsel saya cukup banyak menghabiskan byte. Kedua, musim bunga sakura baru saja akan mulai berganti karena sudah cukup banyak bunga sakura yang rontok di sekitar Tokyo dan Yokohama, habitat saya. Ketiga, ada pertanyaan dari seorang teman peblog tentang keberadaan sakura di Jepang yang menggelitik saya.

Pada musim sakura, sudah jamak bagi orang Jepang untuk berohanami, seperti yang tampak pada gambar di atas yang diambil di Taman Kitanomaru. Mereka sengaja berkumpul dan berpiknik di bawah atau sekitar pohon sakura untuk menikmati keindahannya sambil makan dan minum, termasuk minum minuman keras. Mengenai minuman keras ini, tidak semua pengelola taman kota memperbolehkan pengunjung taman dan penikmat sakura membawa minuman beralkohol, misalnya taman Shinjuku Gyoen.  Yang melakukan ohanami sambil makan dan minum di bawah pohon ternyata bukan hanya keluarga atau pasangan sejoli, melainkan juga sejawat yang bekerja di kantor yang sama. Karena lokasi di bawah pohon adalah lokasi favorit,  biasanya di taman-taman yang terkenal untuk ohanami sambil berpesta, misalnya Ueno atau Yoyogi, staf yang paling muda dan paling bawah posisinya yang diminta untuk mencari dan menjaga lokasi. Biasanya mereka datang dua , tiga jam, bahkan kadang-kadang lebih dari enam jam lebih awal daripada waktu pesta hanami.

Pertanyaan teman saya yang menggelitik adalah: mengapa pohon sakura yang, menurut sebuah sumber, akarnya potensial merusak struktur bangunan dan hanya berbunga kurang lebih 14 hari saja sepanjang tahun tetap ditanam dan, bahkan dirawat serta diperlakukan khusus oleh pemerintah Jepang? Saya tanyakan hal tersebut kepada beberapa orang Jepang dan mereka menjawabnya dengan serempak: sakura adalah salah satu identitas Jepang saat ini, sehingga sulit membayangkan Jepang tanpa sakura. Ya, barangkali, jika sudah berkaitan dengan persoalan identitas, kelihatannya semuanya menjadi agak sulit diukur dengan faktor produktivitas atau keekonomisan semata. Itu barangkali yang juga menjawab mengapa banyak orang Indonesia pulang mudik pada saat lebaran atau tahun baru, padahal soal pulang kan bisa kapan saja, bahkan ongkosnya pun dijamin lebih murah. Jadi, kadang-kadang masalah budaya memang agak sulit untuk dikalkulasikan secara matematis.    


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

 

Advertisements

8 thoughts on “Lagi, tentang Sakura”

  1. Wah, agak sulit menentukan apakah identitas Indonesia karena negara bangsa kita ini sebenarnya sebuah bangunan artifisial dari keragaman yang hanya dibangun berdasarkan kesamaan pengalaman: sama-sama dijajah. Jadi, agak sulit menentukan identitasnya. Itu juga persoalan sebenarnya bagi Malaysia, Filipina, dan banyak negeri-negeri lainnya. Kembali lagi, menurut Mas Fithra, apa identitas bangsa Indonesia?

  2. Kalau menurut saya, kesatuan artifisial itu ibarat sebuah komunitas imajiner. memang benar sekali, bahwa Indonesia terbentuk dari rasa dan semangat penderitaan yang sama. Bahkan, Jika tidak dijajah belanda, mungkin wilayah Indonesia tidak seperti yang kita diami sekarang ini. Adalah belanda yang sebenarnya membentuk Indonesia.

    Coba kita pikir, kenapa orang melayu di sumatra menganggap saudara serumpunnya di negeri jiran malaysia sebagai orang asing sementara menganggap orang ambon, yang secara natural sangat berbeda, sebagai sesama Indonesia?

    Sebuah bentukan Imajiner yang pada gilirannya menghasilkan masyarakat yang imajiner pula. Sebuah masyarakat tanpa identitas, yang berimplikasi luas secara sosial politik.

    akhirnya, bangsa yang tidak memeliki basis kesaman berfikir ini, akan dengan mudahnya tercerai berai. terdisintegrasi dan sibuk atas urusannya sendiri yang pada akhirnya memarginalkan segala potensi.

    Sungguh, sebenarnya identitas itu teramat penting. Identitas bangsa Indonesia adalah bangsa tanpa identitas

  3. suka sangat dapat tengo bunga sakura.tapi sebenarnya bunga sakura berasal dari mana ye?nak tahu jugak.kot kot bila bila bleh gi sana,boleh tengok bunga yang macam ni.ada bau tak bunga ni?

  4. Terima kasih sudah berkunjung ke mataponsel. Saya tak tahu pasti darimana bunga sakura datang, kemungkinan besar dari China. Kita boleh tengok bunga ini di Jepang pada akhir bulan March atau awal bulan April. Tidak ada bau pada bunga Sakura.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s