Sakura (桜) atau cherry blossoms (Prunus serullata) adalah bunga yang sangat identik dengan negara Jepang. Oleh karenanya, negeri di sebelah timur Korea dan Daratan Cina ini sering pula dirujuk dengan “Negeri Sakura”. Meskipun sebenarnya cherry blossoms sebenarnya juga bisa kita nikmati di negara lain, misalnya Korea, Cina, bahkan Amerika Serikat dan Selandia Baru.  Khusus untuk pohon sakura yang tumbuh di Amerika Serikat dan Selandia Baru, kemungkinan besar semuanya berasal dari bibit pohon yang diberikan Jepang sebagai tanda persahabatan.

Pada masa Perang Dunia II, kadang-kadang sakura ditanam oleh balatentara kekaisaran Jepang di wilayah pendudukan. Akibatnya, penanaman sakura bisa juga diartikan sebagai tanda atau simbol kekuasaan kekaisaran Jepang atas sebuah wilayah. Demi alasan itu pulalah, pohon sakura yang tumbuh di sekitar istana Gyeongbok, Seoul pun ditebang untuk merayakan 50 tahun bebasnya Korea dari kolonialisasi Jepang.

Sebelumnya saya berpikir bahwa nama sakura itu berasal dari kata saku (咲く) yang berarti ‘mekar’. Namun, ternyata ada banyak sekali versi arti kata sakura tersebut. Salah satunya, menurut sebuah sumber, sakura berasal dari kata sa ‘dewa pertanian’ dan kura ‘kahyangan’. Entahlah mana yang benar.

Jika tulip yang termasyhur di Belanda sebenarnya berasal dari Turki, sakura juga sebenarnya tidak berasal dari Jepang. Pohon sakura sejatinya berasal dari dataran tinggi Himalaya. Pada zaman Heian (794-1191) para bangsawan Jepang mengagungkan dan mengadopsi nyaris semua yang berasal dari Cina, termasuk praktik merayakan dan menikmati mekarnya bunga pada musim tertentu. Praktik inilah yang kemudian dinamai hanami (花見) yang berasal dari dua kata yakni hana ‘bunga’ dan mi(ru) ‘melihat’. Pada masa Heian inilah praktik hanami diyakini mulai dipopulerkan oleh kalangan istana. Pada masa itu, kalangan istana, seniman, dan para aristokrat lain berkumpul dan berpesta di bawah pohon sakura.

Sejak zaman Heian, karena keindahan bunganya, pohon sakura pun mulai ditanam dan dibudidayakan. Paling tidak, pohon sakura ditanam pertama kali untuk tujuan keindahan lanskap pada tahun 794 di lahan milik istana di Kyoto yang kini dikenal sebagai salah satu spot paling baik untuk melihat sakura di Jepang: Taman Maruyama. Di sekitar Tokyo dan Yokohama, juga ada banyak lokasi tempat sakura ditanam dan dipelihara untuk dinikmati keindahannya pada musim hanami. Tempat-tempat populer itu antara lain adalah Taman Ueno, Taman Yoyogi, Taman Shinjuku-Gyoen, Taman Yamashita, bantaran sungai antara Stasiun Iidabashi dan Yotsuya, bantaran sungai Sumida atau Meguro. Namun, menurut beberapa media yang terbit di Tokyo, tempat hanami terbaik adalah chidorigafuji, khususnya di jalan setapak di tepian danaunya. Kami sudah membuktikannya kemarin. Keindahan panorama di Chidorigafuji mungkin bisa dilihat pada gambar yang ada pada posting kali ini. Jadi, jika musim hanami tiba, cobalah datang ke Chidorigafuji, Chiyoda-ku, Tokyo. Lokasinya mudah ditemukan; tak jauh dari stasiun kereta bawah tanah Kudanshita.

sakura.jpg     


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

One thought on “桜”

  1. Saya setuju pak totok, terlepas dari originalitasnya, keindahan sakura memang sangat identik dengan Jepang.

    Akan tetapi masih ada yang mengganjal di pikiran saya pak, sakura itu mekar hanya satu tahun sekali dimana periode mekarnya pun terbatas, kira2 hanya 10 hari.

    Lantas, apa gunanya menanam pohon itu? mengapa tidak menanam pohon2 lain yang lebih produktif dan menghasilkan? argumen ke-tidakekonomis-an ini memang sempat juga di bantah oleh salah seorang kolega saya. Beliau beralasan dengan ditanamnya pohon sakura, banyak lapangan2 kerja baru di objek2 wisata tempat pohon sakura itu ditanam. Akan tetapi argumen itu sepertinya obsolit, karena sepanjang jalan saya menikmati keindahan sakura, yang tempo hari kita jalani bersama teman2 yang lain, hanya segelintir orang saja yang memanfaatkan momen tersebut dengan berdagang dan berjualan.

    ketidak ekonomisan dari sakura juga didukung oleh fakta bahwa pohon sakura itu merusak, akar2nya bisa menghancurkan fasilitas dan infrastruktur publik

    Pemerintah jepang sepertinya menghambur2kan uang nya, tidak ada unsur investasi disana. Akan tetapi jika sakura ditanam untuk unsur keindahan an sich, mungkin saya dapat menerima.

    Jika benar demikian, maka sungguh tindakan pemda DKI memangkas pohon2 di jalur hijau, dalam rangka pelebaran jalan, merupakan sebuah tindakan tercela. Mungkin ada baiknya mereka berguru di Jepang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s