Otaku

otaku.jpg Coba perhatikan foto di sebelah kiri ini. Situasi seperti yang tergambar pada foto itu mungkin sulit dicari tandingannya di negeri lain, terutama di Indonesia. Ada dua orang dewasa sedang asyik masyuk bermain game box di sebuah department store elektronik besar “Yodobashi” di Yokohama; diperhatikan anak kecil. Foto ini saya ambil diam-diam dari jarak 7-8 meter karena takut objek foto tahu dan melabrak saya. Namun, saya tak yakin mereka peduli kepada saya. Mengapa? Ya, karena mereka otaku.

Apa itu otaku? Menurut wikipedia, otaku (お宅) berasal dari istilah dalam bahasa Jepang untuk ‘rumah ‘atau ‘keluarga’ (awalan honorifik o- digunakan kalau sebutan itu dikenakan kepada orang lain, dan bukan kepada diri sendiri).  Bentuk slang modernnya yang dituliskan dalam huruf hiragana (おたく) atau katakana (ヲタク) muncul pada era 1980-an. Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh pelawak dan penulis esai Akio Nakamori dalam serialnya Penyelidikan Otaku (お宅の研究) yang dicetak dalam majalah Manga Burikko. Dalam serial ini, Akio mengamati perilaku para pecandu game dan penggila komputer atau nerd.  Istilah tersebut kemudian digunakan secara umum sekitar 1989 dan mungkin dipopulerkan oleh terbitan Nakamori yang berjudul “Generasi M–Kami dan Tuan Miyazaki” (Mの世代-ぼくらとミヤザキ君).

Dalam slang Jepang modern, istilah otaku merujuk kepada penggemar tema, topik, atau hobi yang khusus. Yang umumnya dikenal adalah manga otaku (pecandu komik), anime otaku (pecandu kartun Jepang), pasokon otaku (pecandu komputer),  gemu otaku (pecandu game) dan wota (diucapkan ‘ota’, yang sebelum dikenal dengan “idol otaku”). Ada pula tetsudo otaku atau denshamania (pehobi kereta) atau gunji otaku (penggemar atribut kemiliteran). Meskipun demikian, istilah otaku dapat digunakan pula dengan kombinasi kata-kata hobi lainnya, misalnya musik, memasak, memancing, dan lain-lain.

Dahulu, otaku umumnya laki-laki. Namun, dalam perkembangannya ada pula otaku perempuan. Jika otaku umumnya merujuk pada laki-laki, istilah fujoshi lebih banyak digunakan untuk perempuan. Namun, istilah fujoshi tidak selamanya mengacu kepada otaku, melainkan juga kepada mereka (perempuan) yang punya minat khusus. Bagi otaku (laki-laki) kawasan pertokoan elektronik, komik dan game Akihabara menjadi kiblat dan habitat mereka, sementara fujoshi lebih memilih Nakano Broadway sebagai kiblat mereka. Ada pula fujoshi yang menjadikan harajuku-yang didominasi pertokoan yang menjual busana atau fashion khas-sebagai “mekah” bagi komunitas mereka. Karena cukup banyak fenomena otaku, tidak terhitung banyaknya komik yang mengangkat kisah otaku atau fujoshi. Salah satu yang sempat populer dalam beberapa waktu lalu adalah Densha Otoko (Laki-laki Kereta) yang diangkat ke layar lebar, dan kemudian dilanjutkan dalam bentuk drama seri tv.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

5 thoughts on “Otaku”

  1. sedikit koreksi pak

    otaku dalam konteks ini dengan katakana ditulis ヲタク

    tidak semua cewek yang suka otaku termasuk fujoshi, hanya punya interes tertentu dan mekah mereka di nakano broadway bukan harajuku

    kalau gothic loli baru di harajuku

    o iya, saya bukan otaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s