Gerbang Keramat

Dulu ketika pertama kali datang ke Jepang, sulit bagi saya untuk membedakan yang mana jinja (situs keramat Shinto) dan yang mana otera (kuil Buddha). Agak sulit membedakannya secara fisik pada awalnya, kecuali setelah mengenalnya lebih dekat dan lebih lama. Salah satu yang membedakannya, selain tentu saja adanya patung Buddha, jinja berbeda dengan otera karena ia bukan tempat untuk melaksanakan ibadah atau mengkaji ajaran agama, seperti misalnya otera, mesjid, gereja atau sinagog. Namun, di atas itu semua, cirinya yang paling utama adalah adanya torii atau bangunan berbentuk gerbang (biasanya berwarna merah) sebagai jalan masuk ke sebuah jinja dari arah depan.     

Torii pada umumnya berbentuk seperti gerbang atau gawang dengan dua tiang vertikal dan satu tiang horizontal di sisi atas. Biasanya kedua ujung tiang horizontal agak menjulur keluar, melewati batas tiang vertikal penyangganya, seperti gambar di bawah ini. Torii dalam gambar ini adalah salah satu torii terkenal di Jepang yang terletak di depan Heian Jinja, Kyoto. Kebetulan tiang horizontal pada Torii Heian ini berjumlah dua buah.

tori-hean.jpg

Sebuah torii tidak selalu terletak di depan jinja, atau di muka halaman sebuah jinja, tetapi bisa juga terletak pada jalan raya berjarak kurang lebih 500 meter dari depan jinja, seperti pada Torii Heian. Torii juga tidak selalu terletak di darat, ada juga torii terapung (Torii Itsukushima Jinja) yang amat terkenal di Hiroshima. Torii juga tidak selalu berjumlah satu, tetapi bisa juga berlipat-lipat seperti torii di Fushimi Inaritaisha, Kyoto. Kemudian, torii juga tidak selalu terbuat dari kayu. Ada pula torii yang terbuat dari batu, misalnya Ishidorii di Nikko.

Torii menandai pintu masuk ke ruang keramat di Jepang. Melewati bawahnya, bersama dengan mencuci tangan dan mulut dengan air, merupakan salah satu tata cara untuk menyucikan diri sebelum berdoa kepada dewa. Oleh sebab itu, mirip sekali dengan aturan mengunjungi pura di Bali, mereka yang tidak suci dilarang memasuki kompleks jinja. Termasuk di antara mereka yang tidak suci adalah wanita yang sedang haid atau mereka yang kematian keluarganya dalam satu tahun terakhir.

Keberadaan torii di depan jinja di Jepang dapat juga diperbandingkan dengan torana di India dan Nepal, candi bentar di Bali dan di Jawa zaman Majapahit, atau gapura di Jawa pada zaman Islam. Gapura yang berasal dari bahasa Arab ghafaru juga mempunyai fungsi simbolik kurang lebih sama dengan torii. Mereka yang melintas di bawahnya akan mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Namun, sekali lagi, itu simbolik. Kalau tidak, nanti tiap orang akan mudah berbuat dosa karena untuk mendapatkan ampunan cukup melewati bawah gapura. Gitu, gak, Uz?


(mataponsel–image captured by Toshiba 912T with 3.2 MP built-in camera)

Advertisements

4 thoughts on “Gerbang Keramat”

  1. salam kenal.. kalo boleh tau… torii ini apa boleh untuk gerbang lain??? misalnya di depan bangunan pusat kebudayaan jepang..
    thx u..

    1. Torii ini biasanya hanya menandai kehadiran jinja (shrine) semacam kuil Shinto. Jadi agak beda dengan candi bentar di Cirebon atau gapura di Bali dan Jawa Tengah yang kini dipakai sebagai gerbang masuk di depan kantor-kantor pemerintah atau sebuah daerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s