千の風邪になって

Watashi no ohaka no maede nakanaide kudasai. Soko ni watashi wa imasen. Nemutte nanka imasen. Sen no kaze ni, sen no kaze ni natte. Ano ooki no sora wo fuki watatteimasu. (Akikawa Masafumi, 2006).

Lagu ini sangat terkenal di Jepang sepanjang tahun 2007. Bahkan, sampai saat ini pun, lagu ini masih mudah kita temukan dalam sebuah acara yang disiarkan televisi atau radio. Lagu ini menjadi sangat populer karena cukup mendalamnya isi lagu tersebut untuk ukuran orang Jepang. Mengapa begitu mendalam? Ya karena isi lagu ini menceritakan dan mengingatkan kita tentang kematian.

Coba simak lirik yang saya kutip di awal posting ini. Saya mencoba melakukan terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia. ‘Janganlah menangis di depan makam saya. Karena saya tidak ada di sana. Sedang tidur pun saya tidak. Saya berubah menjadi ribuan angin. Meniup awan besar yang ada di atas sana.’

Entah mengapa, dalam banyak legenda oriental, ruh orang yang meninggal dunia kalau tidak menjadi angin, pasti menjadi bintang. Pokoknya sesuatu yang berhubungan dengan langit. Dalam sebuah film Korea yang diberi judul Inggris “Windstruck”, si tokoh juga digambarkan berubah menjadi angin. Film itu hanya sebagai cerminan bagaimana pemahaman tradisional masyarakat Asia Timur tentang konsep kematian.

Mengapa saya membicarakan kematian dalam posting kali ini, ya karena beberapa hari silam saya menghadiri sebuah upacara pemakaman Jepang yang agung. Mungkin dalam posting berikutnya saya akan membahasnya. Kali ini saya hanya ingin membicarakan apa yang ada dalam kiriman foto saya kali ini: situs makam Jepang.

makam1.jpg

Kuburan atau kompleks makam Jepang biasanya merupakan tempat yang khusus seperti layaknya pemakaman di negeri lain. Namun, seperti di Indonesia, di desa Jepang kadang-kadang kita menjumpai kuburan yang tersebar secara sporadis. Makam Jepang biasanya tidak besar. Tidak sebesar situs makam di Indonesia yang biasanya berukuran 1 x 2 meter. Di Jepang, barangkali ukurannya hanya setengahnya. Yang khas adalah patok batu pualam yang bertuliskan nama si ahli kubur. Patok itu terpancang tegak. Di kakinya terdapat wadah untuk meletakkan bunga dan dupa. Lalu, di bawah patok itu juga terletak sebuah ruang berbentuk bak berukuran kira-kira 40 x 40 cm. Ruang itu adalah tempat untuk menyimpan abu si ahli kubur. Semuanya diletakkan di sana.

Dalam kepercayaan Jepang, tidak baik jika menyimpan sisa abu orang yang meninggal di dalam rumah karena itu akan mengotori rumah. Selain itu, ada pula perbedaan cara menyimpan abu di antara Jepang Barat (Kansai) dan Jepang Timur (Kanto). Yang saya jelaskan pada bagian akhir dari paragraf sebelumnya adalah cara Kanto. Sementara itu, pada cara Kansai, abu jenazah tidak semuanya disimpan di dalam wadah atau bak di kuburan. Namun, hanya 20% yang disimpan dan itu pun abu dari wilayah leher dan kepala jenazah. Sisanya yang berjumlah kira-kira 80% dikuburkan di makam yang sama, namun langsung dicampurkan dengan tanah. Jadi, abunya akan cepat hancur dan bersatu dengan tanah.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

3 thoughts on “千の風邪になって”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s