Lagi, tentang antrean

Sulit mencari sesuatu yang “menyentuh rasa kemanusiaan” atau berkaitan dengan human interest di Jepang untuk diangkat ke dalam mataponsel. Barangkali, tujuan saya menulis memang agak berbeda dengan rekan saya, Dauz, di sisi Indonesia. Sebenarnya, kami juga ingin mendengarkan kisah lain dari negeri lain atau, juga, wilayah lain di Indonesia. Oleh karena itu, kami mengundang teman-teman pengunjung weblog untuk berbagi cerita. Kali ini saya ingin berbagi rasa keheranan saya ketika berjalan-jalan mengantar salah seorang teman saya, seorang penulis muda terkenal, yang berkunjung ke Jepang atas undangan pemerintah Jepang.

Apa yang membuat saya heran kali ini? Sebenarnya, keheranan ini lebih tepat diartikan sebagai ‘kekaguman’. Ya, kekaguman kepada orang Jepang di dalam urusan mengantre. Ketika saya pergi ke Akihabara kemarin, saya melihat lagi kerumunan orang menyerupai sebuah antrean. Meskipun jumlah manusia di Jepang teramat sangat banyak, kerumunan orang mengantre tetap saja mengundang tanda tanya, bukan hanya bagi saya, melainkan juga bagi orang Jepang sendiri. Seringkali mereka berucap, 「何を待っているの」atau “Pada ngantre apaan sih?” begitu kalau diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia dialek Jakarta. 

antrean.jpg

Biasanya di Jepang, kerumunan antrean orang dalam jumlah mencolok mata terjadi di tempat-tempat tertentu, misalnya halte bus, loket penjualan tiket masuk Tokyo Disneyland, loket penjualan takarakuji, atau gerai pengundian hadiah Summer Big Sale dan sebagainya. Namun, dalam foto di atas, antrean panjang orang tersebut terjadi di depan lift atau elevator. Lha, kok bisa? Ya, bisa aja. Tingginya tingkat individualitas pada masyarakat Jepang membuat mereka menjunjung tinggi hak-hak pribadi. Jadi, selain mengakui hak diri sendiri, namun sekaligus mereka juga menghormati hak orang lain. Jadi, mereka tidak mau mengambil giliran atau hak orang lain sebagaimana mereka tidak ingin giliran atau hak mereka diserobot orang lain.

Namun, saya masih tetap percaya bahwa budaya mengantre tidak berbanding lurus dengan tingkat keindividualan masyarakatnya. Namun, pada dasarnya, semuanya itu berangkat dari kedisiplinan masyarakat. Nah, untuk mendisiplinkan masyarakat ibukota Jakarta, saya kira tidak harus dengan menempatkan penegak disiplin di mana-mana seperti pada zaman orde baru. Kalau kedisiplinan terjadi dalam kerangka demikian, hal itu akan bersifat sementara dan kedisiplinan hanya terjadi karena kepatuhan atau “ketakutan” kepada petugas, bukan karena kesadaran sendiri.

Salah satu strategi yang digunakan oleh bank dengan mengharuskan para nasabah mengambil nomor urut, saya kira bisa juga dimanfaatkan untuk memasyarakatkan disiplin mengantre kepada masyarakat jika bisa diperluas penggunaannya. Cara lain adalah menggunakan papan petunjuk “Antre dimulai dari sini” yang dibawa petugas yang berdiri di ekor antrean. Cara ini bisa efektif karena dalam banyak kasus, orang-orang tidak tahu harus mengantre karena tidak tahu dari mana seharusnya mereka mengantre.       



(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s