入試

入試 (dibaca nyushi) bukan berarti ‘makan sushi’, seperti pada kata ngopi atau nyate. Itu adalah singkatan dari nyugaku shiken atau ujian masuk perguruan tinggi. Jika di Indonesia, SMPT (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi)–sebelumnya dulu bernama Proyek Perintis I s.d. IV, Sipenmaru dan kemudian UMPTN–diselenggarakan pada bulan Juni, di Jepang ujian masuk diadakan pada bulan kedua tahun masehi. Meskipun beberapa universitas kecil menyelenggarakan ujian masuk dua kali setahun dan tiap kali beberapa gelombang, universitas Jepang umumnya menyelenggarakan ujian masuk pada bulan Februari atau, paling lambat, Maret karena awal tahun ajaran baru untuk semua tingkatan adalah bulan April.

08022008.jpgJadi, tidak heran apabila dalam minggu-minggu ini banyak sekali universitas di Jepang yang menyelenggarakan nyushi, termasuk  Universitas Bunkyo di dekat rumah saya. Sudah menjadi kebiasaan di Jepang, pada perhelatan resmi seperti misalnya penyelenggaraan ujian masuk, konser musik, atau apa saja yang melibatkan banyak peserta, selalu ada panitia yang berdiri di tempat-tempat strategis sembari membawa papan petunjuk kegiatan. Nah, dalam foto di sebelah kanan ini, seorang mahasiswa Universitas Bunkyo berdiri di depan pintu keluar masuk stasiun kereta di dekat rumah saya. Kira-kira 50 meter ke arah terminal bus (catatan–untuk ke Universitas Bunkyo harus menyambung naik bus kira-kira 25 menit) berdiri lagi seorang mahasiswa lain membawa papan yang sama.

Mereka berdiri tegak dan diam meskipun hujan dan badai terjadi. Dalam sebuah kesempatan beberapa bulan silam ketika mengikuti ujian TOEFL di Harajuku, Tokyo, panitianya tetap berdiri di tepian jalan strategis meskipun hujan deras. Tentu saja memakai payung dan jas hujan. Namun, saya kagum karena dedikasi mereka kepada para peserta, seperti saya, luar biasa. Kebiasaan atau cara seperti ini mungkin sulit dijumpai di Indonesia. Biasanya di Indonesia, papan petunjuk cukup ditempelkan di pohon, tiang listrik, warung rokok dan lain-lain. Entah si peserta melihatnya atau tidak, atau papan petunjuknya jatuh atau tertiup angin (karena biasanya terbuat dari kertas manila) yang penting si empunya perhelatan sudah “berbaik hati” mau memberikan petunjuk jalan. Di Jepang, si pemegang papan petunjuk selain berfungsi menjadi kapstok, juga bisa menjadi juru penerang kalau-kalau ada peserta yang kesasar.  


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s