Masih ada kereta yang akan lewat

Kalau membaca judul itu, kita yang pernah menjadi remaja di tahun 1980-an pasti akan teringat sebuah film nasional yang diadaptasi dari novel karya Mira W (1982). Posting kali ini kira-kira sama maksudnya dengan judul novel tersebut.

Dalam posting sebelumnya, saya pernah beberapa kali menyinggung soal kereta listrik di wilayah Tokyo. Dan hampir semuanya bersinggungan dengan ラッシュアワー atau rush hour–jam saat kereta listrik penuh sesak–pada pagi hari. Jika penuh sesak, kepadatannya bahkan melebihi keberjubelan kereta jabotek. Aksi dorong-mendorongnya luar biasa karena saya sudah beberapa kali berada dalam situasi tersebut. Saya pernah terdesak ke tiang penyangga rak besi yang letaknya ada di kanan kiri pintu gerbong; dan hasilnya bahu saya sakit.

Situasi krodit itu dapat dilihat pada gambar yang saya kirimkan pada posting kali ini. Terlihat bahwa hampir di tiap pintu gerbong terdapat petugas stasiun. Mereka membantu memasukkan (atau lebih tepat “mendorong”) penumpang agar pintu gerbong bisa ditutup. Meskipun tidak perlu khawatir karena kecil kemungkinan ponsel atau dompet kita berpindah tangan–sebab nyaris sulit menemukan pencopet di Jepang, situasi seperti itu tentu saja bisa menjadi neraka bagi penumpang wanita. Mereka adalah yang paling rentan karena kadang-kadang di antara penumpang ada pelaku セクハラ (sexual harassment). Akibatnya, operator kereta api merasa perlu untuk menyediakan gerbong khusus wanita. Mengenai gerbong ini, saya akan bicarakan pada kesempatan lain.

rush-hour.jpg

Meskipun sesaknya kereta listrik di Tokyo bisa menjadi objek wisata, hal ini jika dibiarkan akan membuat kenyamanan penumpang benar-benar terganggu. Saat ini, pada jalur-jalur padat, operator menyediakan rangkaian kereta dengan jumlah minimal 10 gerbong dan jarak tiap rangkaian adalah 3 menit. Namun, tetap saja itu sekarang tidak cukup karena makin lama makin sesak.

Arus urbanisasi ke Tokyo dan sekitarnya cukup deras seperti sungai Ciliwung di kala meluap. Jadi, pemerintah Jepang memang harus mencermati fenomena ラッシュアワー ini karena makin lama jumlah penumpang yang tak terangkut makin banyak. Barangkali kereta doubledecker bisa menjadi solusi karena biaya pengadaannya lebih murah daripada membuat rel baru. Kalau hal ini tidak segera diantisipasi, sepuluh tahun lagi ungkapan “Masih ada kereta yang akan lewat” menjadi klise. Sebab, meskipun berapa kali kereta lewat, penumpang yang tidak naik di stasiun keberangkatan tetap saja tidak bisa terangkut.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

4 thoughts on “Masih ada kereta yang akan lewat”

  1. Waktu aku tinggal di Hiyoshi juga punya pengalaman terhimpit di kereta seperti cerita di atas. Untuk yang melihatnya dari luar mungkin pemandangan yang unik, tapi untuk penumpangnya benar2 sumpek. Sekilas teringat kembali masa2 naik Deborah jurusan Lebak Bulus-Depok, saat itu kaki hampir2 tidak menyentuh “tanah” karena badan dihimpit dari segala penjuru. Busway Transjakarta juga sama parahnya.
    Tapi satu hal yang bisa dibedakan antara “pemaksaan masuk” di Tokyo dan Jakarta, dari yang aku lihat dan rasakan.
    Biasanya setelah satu “kloter” berhasil dipaksakan masuk, di Tokyo tidak ada penumpang yang tertinggal atau menunggu lebih dari 3 menit untuk kereta yang berikutnya. Seperti foto di atas, penumpang yang tidak bisa masuk terpaksa menunggu lagi, dengan antri. Kalo Transjakarta? Hmmm… jangan tanya deh… menunggu sampe lebih dari 30 menit itu bukan keharusan yang jarang terjadi, tapi sering!

  2. Soal Transjakarta kayaknya bener, deh. Saya juga pernah enggak terangkut nyaris satu jam. Kelihatannya perlu terobosan baru untuk angkutan transjakarta di Jakarta. Katanya bus gandeng mau dioperasikan. Kalau cuma satu atau dua bus gandeng mungkin tidak akan banyak membantu selama Pemerintah belum membangun moda angkutan massal yang lain.

  3. Saya jadi inget ketika pergi shalat Iedul Adha di mesjid Turki Tokyo….hehehehe..bareng mas Abaz dan yang lainnya. Mas Abaz sampai ga bisa nafas karena terhimpit penumpang lain yg berjejal…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s