25 Desember di Jepang

Hari ini adalah 25 Desember. Sebelum datang ke Jepang, saya tidak tahu bahwa 25 Desember bukan tanggal merah di Jepang. Padahal, di banyak negara lain, bahkan di negeri-negeri Islam, seperti Syria, Irak, Malaysia, Mesir, dan lain-lain tanggal tersebut masuk kategori hari libur. Dari hal itu saja, kita sudah dapat mengetahui bagaimana sikap orang Jepang tentang Christmas. Tidak banyak orang Jepang, saya kira, yang tahu atau peduli bahwa pada tanggal itu salah satu nabi besar–dipercayai sebagai Jesus Kristus oleh penganut Kristen dan sebagai Isa al-Masih oleh penganut Islam–lahir di dunia. Di Jepang, saya cukup yakin bahwa Sinterklas, Santa Klauss atau Saint Nicholas lebih ngetop daripada Jesus atau Isa al-Masih. 

Ngomong-ngomong soal Sinterklas, banyak kenalan saya, orang Jepang, yang bertanya kepada saya apakah saya akan berlaku sebagai Sinterklas kepada anak-anak saya dalam perayaan Christmas kali ini? Jika tidak mengenal betul kondisi dan tradisi di Jepang, tentu saja kita akan terkaget-kaget mendengar pertanyaan serupa ini. Kekagetan yang sama, saya yakin juga akan dialami orang Jepang ketika kita menjelaskan kepada mereka bahwa–paling tidak untuk orang Indonesia–tidak semuanya kami merayakan Christmas dan, kalaupun merayakannya, tidak semua ingin berlaku sebagai Santa-san bagi anak-anak kami .

Apa yang dimaksud dengan “berlaku sebagai Santa-san”? Maksudnya adalah memberikan hadiah atau purezento (プレゼント) kepada anak-anak, baik anak sendiri maupun anak orang lain. Begitu populernya sinterklas di Jepang belakangan ini tampak dari banyaknya promosi atau iklan yang menggunakan figur sang Santa atau bagian darinya, misalnya sepatu, baju, topi dan rusanya. Ya, Santa-san memang identik dengan hadiah; dan orang Jepang pada umumnya suka dengan hadiah. Jadi, demam Sinterklas wajar saja kalau cepat mewabah di kalangan anak-anak Jepang.  

fitra1.jpgBegitu populernya sang Santa, bisa juga dilihat pada gambar yang dikirimkan oleh Saudara Fithra Faisal, seorang pengunjung mataponsel. Fithra menjepret fenomena Santamania di Jepang lewat kamera ponselnya. Silakan lihat gambar di samping ini. Pada gambar itu tampak seekor anjing yang didandani oleh tuannya dengan pakaian ala Sinterklas berwarna merah. Sekilas hanya tampak lucu. Namun, sebenarnya, hal itu juga menunjukkan betapa kuatnya demam Sinterklas di semua kalangan di Jepang. Sinterklas identik dengan hadiah; dan, bagi orang Jepang, kelihatannya, hadiah identik dengan satu hal yang menjadi tujuan hidup: kebahagiaan. Nah, orang yang jarang mendapatkan hadiah seperti saya tentu saja termasuk kategori orang yang tidak mendapatkan kebahagiaan.  


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens, taken and submitted by Fithra Faisal)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s