Christmas Eve at Omotesando

Meskipun tidak merayakan Natal, karena hari ini cuaca cerah dan suhunya cukup hangat dibandingkan dua hari sebelumnya, saya keluar berjalan-jalan bersama keluarga ke Omotesando, kawasan baru untuk belanja mahal di Tokyo. Jelas, itu bukan kawasan yang tepat untuk orang yang punya ABRT (anggaran belanja rumah tangga) dan PADS (pendapatan asli diri sendiri) terbatas seperti saya. Jadi, akhirnya saya hanya bisa berjalan-jalan menghibur diri dengan melihat-lihat barang branded yang asli; maklum, selama ini saya cuma lihat barang aspal di ITC Cempaka Mas atau Pasar Ular, Semper. Jadi, kalau pulang ke Jakarta nanti, saya bisa sedikit bersombong kepada teman-teman saya yang biasa beredar di ITC Cempaka Mas dan Pasar Ular, bahwa saya pernah lihat tas Louis Vuitton tulen atau gesper Ralph Lauren yang asli (pernah lihat gak, Uz?).  

Setibanya di Omotesando, ternyata yang menarik perhatian saya justru bukan branded bags atau branded watches, melainkan begitu banyaknya pasangan muda, atau biasa disebut カップル (couple) dalam bahasa Jepang. Baru saya ingat bahwa sore ini adalah petang Natal atau Christmas eve. Para pasangan muda itu betul-betul menikmati suasana perayaan Natal yang belakangan ini terlihat cukup gegap gempita di Jepang. Foto di bawah ini bisa memberikan contoh betapa banyak pasangan yang memadu kasih, sambil menikmati suasana pertokoan di musim Christmas yang ramai dengan hiasan dan pohon natal. Kebetulan sekali, di Omotesando Hills, perusahaan kristal Swarovski membuat pohon Natal dari kristal nan indah dan mewah. 

petang-natal-2007.jpg
Lalu, apakah pasangan muda Jepang yang banyak saya lihat itu betul-betul menikmati petang Natal dengan penuh kehangatan dan kekhidmatan seperti kaum Nasrani di seluruh dunia? Barangkali soal kehangatan iya, tetapi soal kekhidmatan, nanti dulu. Seperti yang pernah saya tulis di dalam blog saya yang lain, para pasangan muda menikmati Christmas eve dengan berjalan-jalan menikmati keramaian dan keindahan kota, juga melihat-lihat hiasan pohon Natal yang biasanya ada di tempat-tempat tertentu. Pada saat menjelang malam, mereka pergi ke rumah makan yang bisa memberikan suasana romantis untuk mendapatkan candle light dinner. Pertemuan hari itu, kemudian, diakhiri dengan menginap di hotel cinta atau love hotel. Akhir dari “perayaan” petang Natal itu, saya kira, sudah pasti bisa ditebak, sehingga tidak perlu saya tulis secara tersurat dalam posting ini.

Begitu luasnya penyebaran tradisi dan cara perayaan petang Natal seperti demikian di kalangan anak muda Jepang membuat banyak hotel cinta atau rumah makan tidak ingin menyia-nyiakan peluang bisnis ini. Mereka berlomba-lomba menarik para pasangan agar mau memakai dan menghabiskan waktu di tempat mereka; bahkan, dalam program acara televisi pun, kadang-kadang ditampilkan tayangan yang mempromosikan atau merekomendasikan hotel atau rumah makan untuk bermalam Natal.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s