“Potong kambing sapi, masak di kuali…”

kambing.jpgKalau Totok mengutip larik lagu ‘Menanam Jagung’ untuk postingnya yang lalu, saya juga nggak mau kalah. Judul posting saya ini ‘memermak’ (ini betul kan, Tok?) sebaris lirik dari lagu ‘Potong Bebek Angsa’. Sebelumnya, beribu maaf untuk penciptanya dan beribu maaf lagi karena saya tidak tahu siapa orangnya!

Bicara soal pemanfaatan lahan, sebenarnya kita nggak kalah sama Jepang. Foto di atas menjadi buktinya. Bedanya, di Jepang yang sigap dengan peraturan untuk mengantisipasi munculnya lahan-lahan kosong tidak produktif adalah pemerintah, di Indonesia justru rakyat yang punya ide kreatif itu.

Definisi ‘lahan kosong’di Jepang juga sepertinya tidak ‘seluas’ pemahaman orang Indonesia. Di sana, lahan kosong adalah tanah luas yang tidak digunakan oleh empunya tanah—‘idle’ istilah kerennya. Di sini, lahan kosong dipahami selain dalam definisi tanah ‘idle’ tadi, juga sebagai lahan sempit—mencakup trotoar, taman kelurahan, pojok masjid, tikungan jalan, area parkir, halaman nganggur dan lain-lain—yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan termasuk aktivitas niaga.

Seperti menjelang Idul Adha ini, ‘lahan-lahan kosong’ tadi beralih fungsi menjadi ‘cattle market’ yang menguntungkan. Pedagang-pedagang sapi dan kambing kurban di sepanjang jalan raya menuju kampus UI Depok ini kebanyakan datang dari luar daerah, bahkan luar provinsi. Saya sempat dengar ada yang datang dari sebuah kota kecil di Jawa Timur!

Bicara soal keuntungan, pemanfaatan lahan untuk kegiatan ini jelas menguntungkan semua pihak. Pertama, tentu pedagang itu sendiri. Kedua, pemda (atau ‘aparat’ pemda?) yang pastinya menerima ‘rental fee’ dari pedagang. Ketiga, pekurban (istilah ini betul kan, Tok?) yang tidak perlu repot mencari hewan kurban. Keempat, buat warga setempat yang berjiwa preman, bisa mengutip uang parkir. Kelima, Pemilik truk yang disewa untuk mengantar hewan kurban. Keenam, pedagang atau pemilik warung di sekitar area penjualan. Banyak kan?

Dan kalau Anda menduga keberadaan penjual hewan kurban ini merusak lahan yang tadinya hijau, itu salah sama sekali! Memang betul kondisi lahan rusak dan becek setelah aktivitas perdagangan ini. Tapi percayalah, beberapa bulan berselang, rumput-rumput akan segera tumbuh lebat menghijau akibat ‘pupuk alami’ warisan hewan ternak tersebut. Kalau perlu bukti saya bisa muat fotonya beberapa bulan lagi setelah Idul Adha.

Nah, gimana Tok. Apa pemerintah Jepang bisa menyamai ‘kreativitas’ kita dalam soal pemanfaatan lahan kosong ini?


(mataponsel–image captured by Nokia 7610 with 1 MP built-in camera)

Advertisements

Author: Tahmid Firdaus

Just a regular guy, trying to reveal the multi-layered secrets of life lying scattered before his paths. A simple guy who learns to write and writes to learn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s