Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam

Tentu ada yang bertanya-tanya mengapa saya mengutip lagu anak-anak tempo doeloe dan mengirimkan foto tanaman hortikultura meranggas di dalam posting kali ini? Sebenarnya, dalam posting kali ini saya ingin menyoroti masalah penggunaan lahan atau tanah di Jepang. Jadi, rasa-rasanya lagu “Menanam Jagung” cocok sebagai theme song dalam posting ini.

hortikultura.jpgKalau kita perhatikan gambar di dalam foto di sebelah ini, tampak bahwa tanaman hortikultura kaki–sejenis buah kesemek–itu dibiarkan meranggas oleh si empunya. Buahnya pun dibiarkan begitu saja tetap bertengger di atas pohon. Ketika foto ini saya ambil dua minggu lalu, buahnya yang kuning masih banyak tampak bergelayutan di  dahannya. Namun, kemarin sore ketika saya melewati jalan yang sama, saya melihat buah kaki itu kebanyakan sudah tinggal separuh karena disantap oleh sekawanan burung jalak.

Tanaman buah yang dibiarkan begitu saja buahnya tanpa dipetik maupun dipungut merupakan hal yang biasa saya lihat di Jepang, khususnya di lahan yang tidak diperuntukkan bagi usaha pertanian. Hal itu tentu membingungkan saya karena kadang-kadang saya melihat buah apel, pir atau jeruk berjatuhan begitu saja di tanah tanpa dipungut atau dimakan–suatu hal yang sangat jarang terjadi di Indonesia.  

Dulu saya sering berpikir mengapa pemilik lahan itu sia-sia saja menanami tanahnya dengan pohon buah, tetapi jarang sekali memetik hasilnya? Usut punya usut, ternyata pajak atas tanah terbengkalai alias tidak dimanfaatkan sangat mencekik leher di Jepang. Oleh sebab itu, banyak pemilik tanah kosong tidak ingin tercekik lehernya, lalu menanami tanaman apa saja di lahan mereka. Kadang-kadang, mereka menerima titipan tanaman. Dengan demikian, tanah mereka dapat berubah status dari “tanah kosong” menjadi “tanah produktif” sehingga nilai pajaknya pun berubah. Yang termasuk tanah produktif adalah tanah yang di atasnya ditanami tumbuhan maupun didirikan bangunan.

Ada pelajaran menarik yang bisa diambil dalam kasus ini. Pemerintah Jepang tampaknya tidak membiarkan sejengkal tanah pun di negara mereka terbengkalai atau tidak terurus. Jadi, pemerintah menggalakkan warganya untuk menanami apa saja di atas tanah yang kosong; bahkan, bukan isapan jempol bahwa petani juga mendapat bantuan dana dari pemerintah. Barangkali, cara seperti ini lebih efektif untuk menggalakkan penghijauan kembali dibandingkan acara simbolis penanaman sejuta pohon yang biasanya hanya bergaung  beberapa hari menjelang dan sesudah seremoninya saja.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

3 thoughts on “Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam”

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
    Produk ini dikenalkan oleh pemerintah saat itu sejak tahun 1969 karena berdasarkan penelitin bahwa tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan pemerintah tersebut. Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an pada saat Indonesia swasembada pangan. Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia.
    Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak bijaksana dan tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) pada tanaman padi yang sedang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam budidayanya.
    Petani kita karena sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.
    Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI.
    SIAPA YANG AKAN MEMULAI?
    KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
    KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    GUNAKAN NASA UNTUK BERTANI PADI DAN BERBAGAI KOMODITI.
    HASILNYA TETAP ORGANIK.
    KUALITAS DAN KUANTITAS SERTA PENGHASILAN PETANI MENINGKAT, RAKYAT MENJADI SEHAT, NEGARA MENJADI KUAT.
    omyosa, 08159927152
    papa_260001527@yahoo.co.id

  2. saya kira yg demikian sangat benar dan sesuai dengan ilmunya Fautsman tentang nilai harapan lahan, jadi mestinya tanah/lahan2 yg tdk produktiflah yang musti dikenai pajak yg tinggi… kapan Indonesia tercinta ini bisa?

  3. Nah…cocok nih ide diterapkan di Indonesia. UUPA (undang-undang pokok agraria) sudah mengatur mengenai tanah2 absentee, bahwa tanah tidak boleh ‘ditelantar’kan oleh ‘pemilik’nya. Tapi pada kenyataannya semua ‘omong kosong’. Hanya peraturan di atas kertas.

    Berhubung soal ‘tanah’ ini kerjaan gue tiap hari, kadang gue gemess aja, kalo lihat tanah orang kosong gak di manfaatkan, padahal yg gak punya tanah pada ‘bermimpi’ punya sedikit tanah, syukur bisa punya banyak.
    Giliran tanah kosong yang gak dimangaatkan itu, ‘diduduki’ oleh orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya, baru deh ribut2..ujung2nya ‘Perkara di Pengadilan’. haiya…..panjang urusannya..dan makan biaya yg besar.

    Kita pake prinsip ‘agama’ aja, kalo kita ngaku punya agama lho!, bahwa sesuatu ‘Yang dititipkan atau diamanatkan oleh-NYA’ buat kita, harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Jujur aja…gue termasuk yang punya prinsip..tanah tidak boleh ditelantarkan, hukumnya bukan hanya dosa di dunia, dosa di akhirat juga, karena punya titipan tapi gak bisa ‘berbagi’ manfaat buat ‘orang lain’.
    Kalo kita gak mampu urus tanah kita, biarkan ada ‘Petani Penggarap’ yang mengelolanya biar bermanfaat. Kita sebagai pemilik tanah juga akan aman bahwa tanah kita ada yg jagain sekaligus memberi manfaat buat yg menunggu tanah itu, jadi bisa bercocok taman, dan menuai panen dari tanah ‘titipan’ tersebut.
    Gue lebih suka bilang tanah ‘titipan’, walau status di sertipikat memang nama kita, tapi esensinya itu tetaplah ‘titipan’NYA.

    InsyaAllah….jika kita bisa memegang amanatNYA dengan bijak, banyak do’a2 yang ‘mengalir’ dari para wong cilik yang bisa ikut memetik manfaat dari tanah tersebut. amien….

    Bros…sorry nulis commentnya panjang amir…jadi tambah ‘semangat’ mau sumbang artikel tentang ‘macam2 cerita’ dariku….hehehe….kapan ya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s