Mengadu Peruntungan

takarakuji.jpgPerhatikan foto di samping ini. Deretan orang-orang ini bukan sedang mengantre makanan atau tiket kereta api. Mereka adalah bagian dari sekian banyak orang Jepang yang gandrung dengan undian atau lotere. Biasanya, pada akhir pekan, para pengadu nasib seperti ini mulai berburu lotere yang dijual di kios-kios penjual seperti yang ada di dalam foto. Siapa tahu mereka bisa mengantungi hadiah utama.

Lotere mempunyai sejarah panjang di Jepang. Paling tidak, bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa lotere pertama di Jepang diselenggarakan pada tahun 1630-an. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Lotere berkali-kali dilarang atau dibatasi peredarannya. Bahkan, sejak 1842 sampai 1945, lotere sama sekali dilarang di bumi Jepang. Setelah Perang Dunia II, pemerintah Jepang mulai menjual lotere yang diberi nama “takarakuji” atau lotere keberuntungan.

Dari satu jenis lotere pada 1945, kini terdapat puluhan jenis lotere yang ditawarkan di Jepang. Meskipun demikian,  secara garis besar, lotere dapat dibedakan atas lotere tradisional takarakuji dan lotere konvensional loto. Yang pertama hampir sama dengan SDSB atau porkas zaman dahulu. Tiap peminat harus membeli tiket yang sudah mempunyai nomor undian tertentu. Kemudian, tiap satu atau dua bulan sekali dilakukan pengundian. Ketika itu, siapa yang mempunyai nomor tiket sama dengan nomor hasil undian akan mendapatkan hadiah utama sebesar 300 juta yen atau setaraf dengan nilai 24 miliar rupiah. Di luar pemenang utama, masih ada pemenang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Lotere yang kedua, loto, memungkinkan peminatnya menuliskan sendiri nomor yang diinginkannya. Jika kemudian nomornya cocok dengan hasil pengundian, dia akan menang. Namun, jika dalam sebuah putaran tidak ada pemenangnya, uang hadiah akan dilipatgandakan pada putaran berikutnya. Jika yang menang lebih daripada satu, uang hadiahnya harus dibagi sesuai dengan jumlah pemenang. Yang menggiurkan para pencandunya adalah kalau sampai beberapa putaran tidak ada pemenang, jumlah nilai hadiahnya berlipat-lipat hingga puluhan miliar rupiah. Pantas saja saya sering melihat orang-orang rela mengantre panjang hanya untuk membeli tiket takarakuji atau loto. Nah, siapa mau ikutan mengadu untung?


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s