Pesan Dari ‘Oom Uruk’

Anda pasti pernah melihat orang-orang seperti di foto yang saya perlihatkan ini. Maaf kalau gambarnya kurang jelas. Maklum, ini saya ambil sambil menyetir di sore hari yang redup. Tambah lagi, kamera ponsel saya sendiri yang sudah masuk generasi ‘sepuh’. Jadi, sekali lagi, harap maklum.

Daripada berpanjang-panjang menebak, saya jelaskan saja. Ini adalah foto
orang yang kurang waras, alias ‘sedeng’, ‘sinting’, dan sederet sebutan lain yang cenderung miring untuk mereka yang memang sudah ‘miring’ pikirannya. Anak-anak saya suka memanggilnya dengan ‘Oom Uruk’. Uruk itu asal kata dari ‘Uruk Hai’ prajurit raksasa berwajah monster dalam Trilogi J.R.R Tolkiens ‘Lord of The Rings’ yang masyhur itu. Daerah ‘jajahan’ Oom Uruk ini di sekitar perumahan kami hingga ke Mal Margo City yang ketaknya hanya satu kilo dari tempat kami mukim.

Di Indonesia, keberadaan Oom Uruk dan kawan-kawannya bisa dibilang ‘ngenes’. Kebanyakan dari mereka kurang (mungkin lebih tepatnya ‘tidak’) mendapat perhatian yang layak dari pemerintah. Masyarakat sendiri menyikapi mereka seperti, maaf, ‘sampah’. Mungkin Totok juga harus menulis tentang nasib mereka di negara maju seperti Jepang.

Saya termasuk yang berpikir kurang lebih sama dengan umum. Hingga suatu hari saya membaca tulisan Cak Nun alias Emha Ainun Najib tentang orang gila ini. Menurutnya orang gila itu bisa jadi orang yang dimuliakan di akhirat nanti. Pasalnya? Dalam pandangan Islam, mereka tidak terikat lagi dengan aturan dan kewajiban agama karena ketidakmampuannya berfikir lurus. Mereka tidak bertanggung jawab atas semua tindakannya. Karena itu, Allah pun ‘memensiundinikan’ malaikat pencatat amal baik dan buruk mereka.

Cak Nun melanjutkan bahwa di akhirat nanti, amalan mereka akan dihisab sampai saat malaikat pencatat amal dipensiunkan tadi. Waktu hidup selebihnya dianggap ‘netral’ dan bonus saja. Nah, jika amal baiknya lebih berat, maka mereka pun masuk dalam golongan orang-orang yang dimuliakan syurgalah tempatnya.

Jadi, berbaik-baiklah dengan Oom Uruk dan kawan-kawannya. Di balik nasibnya sekarang, siapa yang tahu kalau di akhirat nanti ia adalah ahli syurga yang derajatnya jauh lebih mulia dari kita semua?


(mataponsel–image captured by Nokia 7610 with 1 MP built-in camera)

Advertisements

Author: Tahmid Firdaus

Just a regular guy, trying to reveal the multi-layered secrets of life lying scattered before his paths. A simple guy who learns to write and writes to learn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s