Ke Museum, Yuk!

Akhir pekan begini, ke mana ya enaknya? Pertanyaan itu sering berseliweran di benak kepala keluarga kalau sudah menjelang akhir pekan; terutama ketika anak-anaknya, juga istrinya “merengek” minta diajak keluar.

Sejak masih tinggal di Jakarta, saya terbiasa mengajak anak saya berkunjung ke museum. Bukannya saya sok, melainkan pada kenyataannya kita memang bisa banyak belajar dari museum tanpa harus duduk di dalam kelas. Dari museum kita bisa belajar banyak; tidak hanya anak-anak, melainkan juga orang tua. Dari museum kita bisa belajar tentang sejarah, bahkan tentang masa depan, hanya dari koleksi yang diperlihatkan. Dari museum pula kita bisa tahu tentang bagaimana mengatur sesuatu untuk ditampilkan agar menarik. Juga, dari museum pula kita bisa belajar tentang norma dan perilaku masyarakat. Misalnya, dari antre tidaknya pengunjung ketika menyaksikan sebuah koleksi khusus atau pertunjukan khusus. Juga dari antusiasme masyarakat terhadap museum itu sendiri.

Bagi saya yang rada dangkal ini, yang menarik ketika berkunjung ke museum justru adalah museum shop-nya. Saya suka sekali melihat merchandise atau pernak-pernik khas museum, apalagi museum yang terkenal. Misalnya, ketika berkunjung ke the British National Museum di London, saya membeli pensil berbentuk mumi. Ketika berkunjung ke Museum Nasional Seoul, saya membeli kaos. Semuanya dalam rangka memenuhi kehausan sisi hedonis saya sebagai anggota masyarakat konsumtif dan kapitalis. Namun, lepas dari itu, keberadaan museum shop ternyata justru menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung. Hal ini patut dicontoh pula oleh museum-museum di Indonesia, khususnya yang belum memiliki museum shop. Asalkan, jangan terlalu mahal harga barang-barangnya sehingga bisa terjangkau oleh orang-orang seperti saya yang koceknya tidak terlalu dalam.

Minggu lalu, saya mengajak keluarga saya ke Museum Kereta Api di Omiya, Saitama. Museum ini masih baru dan menempati sebuah bekas bengkel kereta api. Display-nya cukup menarik, juga wahana yang ada di sana. Koleksi kereta apinya pun cukup banyak dan merepresentasikan Jepang sebagai salah satu negara kereta modern.

bali.jpgSaya belum pernah datang ke Museum Transportasi di TMII dan Museum Kereta Api di Ambarawa. Jadi, tidak bisa membandingkannya. Namun, yang penting bagi saya adalah ya itu tadi, kita ternyata tidak hanya belajar tentang masa lalu, tetapi juga masa depan dari museum. Satu hal yang berlawanan dengan yang dipahami sebagian besar masyarakat Indonesia bahwa barang museum adalah barang lama dan usang. Makanya, ada istilah untuk mereka atau sesuatu yang sudah out of date, yakni “dimuseumkan saja!” Dari situ juga kita bisa belajar tentang bagaimana masyarakat kita.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)        

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s