Bunga Trotoar

Bungaku bunga liar
Bungaku bunga trotoar…

Ini artikel mirip dengan artikel yang ditulis Totok. Bedanya kalau Totok memakai syair dari lagu Koes Plus, saya mengutip dari lagunya Iwan Fals dengan judul yang sama: Bunga Trotoar.

Bedanya lagi, artikelnya Totok itu informatif, menambah wawasan dan memberi penerangan. Nah, artikel saya ini seperti inquiry, haus jawaban, dan jelasnya butuh penerangan. Alih-alih bikin Anda senang membacanya mungkin malah justru gregetan. Tapi saya tetap ambil resiko itu.

Masalahnya adalah ini pertanyaan yang sudah ada sejak saya berusia 7 tahun. Waktu itu saya masih tinggal di daerah yang namanya Kampung Ambon, Rawamangun. Dan kalau weekend, saya, kakak dan teman-teman suka jalan-jalan atau jogging. Biasanya kita menuju area pacuan kuda di daerah Pulomas. Nah, di sepanjang jalan menuju Pulomas itu saya sering melihat bunga-bunga liar di tepi jalan. Tangkainya panjang, kuntumnya mungil, dengan 5-6 kelopak berwarna putih dan bagian tengah menguning.

Kakak saya kerap memetik bunga-bunga ini lantas dirangkai menjadi garland atau ‘mahkota bunga’ yang cantik. Kadang ia juga merangkainya menjadi gelang. Lucunya waktu saya tanya apa nama bunga itu, kakak saya cuma bilang,”Edelweis”. Belakangan saya tahu, ternyata itu bukan Edelweiss karena bunga itu hanya tumbuh di dataran tinggi. Untuk sementara waktu saya memberinya nama ‘Edelweiss Kampung’.

Bertahun-tahun kemudian, pada beberapa kesempatan, setiap kali melihat bunga itu, saya selalu menanyakan namanya kepada siapa saja. Anehnya sampai kini belum pernah ada yang bisa menjawab dengan pasti. Jawaban biasanya selalu diembel-embeli kalimat, “Kayaknya sih anu deh..”, atau “Kalo nggak salah…” dan nama-nama yang disebutkan juga nama yang jenis bunganya sudah saya tahu.

Hingga beberapa hari lalu, saya tengah terjebak macet di perempatan Lebak Bulus-Pondok Indah. Melihat ke luar mobil, padangan mata saya tertumbuk pada segerombolan ‘Edelweiss Kampung’ yang bermekaran di trotoar memberi warna semarak bagi pejalan kaki. Pemandangan indah ini menebar kesegaran di mata saya yang  sudah jenuh melihat ribuan punggung pengendara motor sepanjang hari.

Edelweiss

Saat itulah saya terhenyak. Puluhan tahun setelah mengenal bunga elok tersebut, saya masih belum tahu namanya…

Ada yang bisa menolong saya?


(mataponsel–image captured by Nokia 6300 with 2 MP built-in camera)

Advertisements

Author: Tahmid Firdaus

Just a regular guy, trying to reveal the multi-layered secrets of life lying scattered before his paths. A simple guy who learns to write and writes to learn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s