Mesin Tiket

mesin_ti.jpgSiang ini, setelah selesai shalat Jumat di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), saya berjalan-jalan untuk mencari makan siang. Banyak memang pilihan di sekitar stasiun tempat saya berkeliling mencari santapan siang. Suasananya pun sudah tidak seramai satu atau dua jam sebelumnya karena para pegawai kantor sudah kembali bekerja. Sambil mencari-cari ide mau makan siang apa, saya juga sembari celingukan mencari objek-objek menarik. Maklum, lagi dikejar tenggat waktu untuk segera posting di blog mataponsel yang masih seumur kecambah ini.

Karena sudah cukup lumayan tinggal di Jepang, sulit juga ternyata mencari hal-hal unik yang mungkin menarik bagi siapa pun yang belum pernah tinggal atau datang ke Jepang. Akhirnya, mata saya tertambat pada sebuah mesin di depan warung makan. Ya, itu bukan mesin sembarangan, melainkan mesin penjual tiket. Mesin seperti itu memang cukup banyak ditemukan di warung atau kedai makan masakan Jepang, terutama yang menyajikan menu cepat saji, seperti soba, udon, gyudon atau curry rice. Kita tinggal memilih menu yang kita inginkan, siapkan uangnya–tidak usah takut pakai uang besar karena ada kembaliannya secara otomatis, pencet tombol yang menunjukkan menu yang kita pesan, dan kemudian ambil tiket yang keluar otomatis di bagian loket mesin itu. Jangan langsung mencari tempat duduk karena kita harus menyerahkan tiket itu ke counter pemasak. 

Pelayan di counter itu kemudian akan menerima tiket itu dan menyiapkan pesanan kita dalam tempo kurang dalam 3 menit. Setelah siap, kita bisa membawa makanan pesanan itu ke tempat bumbu dan saos. Silakan pakai sesuai selera. Setelah menambahkan bumbu dan ambil air putih gratis, baru kemudian kita ambil tempat duduk. Uniknya, kadang-kadang kedai soba dan udon malah tidak ada tempat duduk sama sekali. Hanya meja saja. Dalam kesempatan lain, saya akan jepret kedai semacam itu.

Selesai makan, jangan langsung pulang. Kembalikan dulu baki, piring, dan gelas minuman ke tempatnya, serta buang sisa kuah, sumpit kayu, dan sampah lainnya. Setelah itu, baru kita boleh melenggang pulang.

Yang saya jelaskan panjang lebar tadi adalah model untuk warung soba dan udon. Untuk warung gyudon atau japanese curry, jauh lebih mudah karena semua dilayani oleh pelayan. Kita tinggal duduk manis saja. Namun, meskipun tampaknya mudah, bagi mereka yang tidak atau belum bisa membaca kanji, jelas agak repot menggunakan mesin tiket seperti itu. Ketika belum bisa membaca kanji, satu-satunya cara adalah melihat contoh menu di etalase toko atau di dalam poster menu. Cocokkan kanji dan harga pada makanan yang ingin Anda pesan dengan kanji dan harga yang ada di mesin tiket. Selamat mencoba.


(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s