Christmas comes earlier in Japan

Judul berita itu saya baca di sebuah koran berbahasa Inggris untuk komunitas Amerika di Jepang. Sebelum datang ke Jepang, mungkin judul itu akan membuat kita lagi-lagi mengernyitkan dahi. Meskipun saya bukan penganut nasrani, sedikit banyak saya tahu tentang kebiasaan dan perilaku penganut agama tersebut karena seperti banyak kita orang Indonesia, saya hidup di sebuah negara tempat warga negaranya nyaris mustahil untuk tidak mengenal apa itu agama. Jadi, selain yang kita anut, sedikit banyak kita mengetahui “isi” agama lain.

Kembali ke Jepang, di negara tempat warga negaranya nyaris menggunakan agama hanya seperti sebuah kultur, tanpa pemahaman religius, natal yang datang kepagian tentu saja bukan hal yang aneh. Di Jepang, suasana christmas biasanya mulai terasa pada akhir Oktober. Pada saat itu, hiasan pertokoan yang sebelumnya nyaris didominasi oleh dedaunan momiji atau maple yang berwarna jingga kemerahan sebagai tanda menyambut musim gugur, mulai tergantikan oleh pernak-pernik lampu dan pohon natal. Dan uniknya, hiasan ala Natal itu akan dikemasi pada sekitar tanggal 23–24 Desember, justru beberapa hari menjelang Natal itu sendiri. Alhasil, pada tanggal 25 Desember hiasan di tempat publik sudah berganti dengan pernak-pernik tradisional dalam menyambut tahun baru, seperti kadomatsu (semacam hiasan terbuat dari tiga buah bambu yang disusun dengan daun cemara) dan shimekazari (hiasan berupa tali temali yang disusun dengan daun pakis, jeruk, dan lain-lain).

Lalu, bagaimana dengan gereja pada hari menjelang dan saat Natal? Menurut teman saya seorang Jepang dan pendeta Kristen, gereja pun sepi pengunjung karena hanya sisi kemeriahan Natal saja yang diadopsi. Lebih daripada itu, justru yang agak menyimpang pada Petang Natal atau Christmas Eve di Jepang adalah adanya tradisi di kalangan para kaum muda perkotaan, terutama di wilayah Tokyo. v9030104.jpgKaum muda melakukan kencan dengan kekasih atau pasangan mereka. Pada malam itu, mereka berjalan-jalan keliling melihat keindahan lampu-lampu illumination atau hiasan pohon Natal yang masih tersisa; memesan candle-light dinner di restoran mewah, dan mengakhiri malam itu dengan “tidur bersama” di sebuah love hotel yang romantis. Di sebuah acara televisi, bahkan, saya pernah melihat ada program acara “unik” yang menyiarkan ranking hotel tempat bermadu asmara itu, lengkap dengan tayangan segala fasilitasnya, pada beberapa hari menjelang Natal. Jadi, tampak bahwa sisi kemeriahan, kehangatan, dan kebersamaan dari Natal saja yang sampai di Jepang.

Tidak sampainya pemahaman yang baik tentang Natal juga terlihat pada foto di sebelah kiri ini. Di negara lain, bahkan di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, Sinterklas umumnya bersosok bapak tua berjenggot putih dan berbusana ala kurcaci berwarna merah. Di Jepang, sosok itu tidak dipentingkan, yang penting hanya bajunya atau hanya “kulit”-nya. Itu tidak mengherankan karena hal yang sama terjadi pada agama lain, bahkan yang sudah masuk lebih dahulu.


(mataponsel–image captured by SHARP 903SH with 3.12 MP built-in camera lens)

Advertisements

1 thought on “Christmas comes earlier in Japan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s