Suasana di atas kapal yang awalnya agak tenang, mulai terlihat gaduh. Aku perhatikan setiap penumpang hilir mudik mondar mandir mencari konsumsi makan siang. Para petugas seksi konsumsi dari satu rombongan tampak kerepotan membagikan jatah konsumsi agar jangan sampai salah memberi orang di luar rombongan mereka. Aku yang juga mendapat kartu konsumsi, awalnya tenang-tenang aja. Lagipula, sudah berbekal nasi juga, jadi tak terlalu risau urusan makan.
Namun, ketika melihat ada seorang ibu membawa beberapa kartu konsumsi yang warnanya sama dengan kartuku, melintas di depanku lalu turun ke arah lambung kapal, itu menimbulkan rasa penasaranku. Jadi, ingin ikut antri dan melihat apa jenis makanannya. Aku dengar jatah konsumsinya dari “Puti Minang” satu restoran padang yang cukup terkenal di kotaku, Lampung. Singkat cerita, meskipun bukan dari “Puti Minang”, aku sudah mendapatkan jatahku berupa sekotak nasi padang. Aku langsung naik kembali ke dek kapal, menempati posisi duduk di tempat semula. Kulihat ada 2 orang gadis berjilbab yang juga memegang nasi kotak, tetapi agak berbeda. Aku perhatikan menunya agak berbeda, sepertinya menu dari “Puti Minang”. Memang lebih mantap.
Ada satu kejadian tidak enak dalam perjalanan ke Krakatau tahun lalu, gara-gara kecerobohanku sendiri. Saat pergi ke toilet, sehabis makan siang, kamera digital yang ada di pinggangku sempat tercemplung di air. Walau memakai sarung camera, tetap aja airnya tembus. Membuatnya mogok dan tak bisa dipakai. Sedih banget, padahal si Krakatau Hitam Manis sudah di depan mata. Berbekal kamera ponsel, aku berhasil mengabadikannya seperti yang ada di bawah ini.

(mataponsel–image captured by BB Bold 9000 2MP with 2 MP built-in camera)
