Kecintaan dan kesetiaan pada profesinya ibarat “komitmen” dengan harga mati bagi seorang Mbah Harjo. Sosok nenek yang bersahaja dan rendah hati berusia 70 tahun ini, telah bergulat dengan kacang kedelai sampai menjadi tempe lebih dari separuh umurnya. Ini merupakan bukti keseriusan seorang bakul tempe sejati.
Di akhir tahun 60-an beliau bertransmigrasi dari Jogjakarta ke Sumatera Selatan tepatnya ke Kabupaten Sekayu. Pada masa itu masih banyak hutan belukar di sana. Mengikuti suami tercinta Pak Harjo, sambil membesarkan anak-anak mereka, pasangan bapak dan ibu Harjo ini membuka kebun di antara belantara hutan yang lebat, sambil meneruskan kebiasaan mereka di Jogjakarta sebelumnya, yaitu membuat tempe.
Tempe, adalah makanan pokok buat sebagian besar orang Indonesia, tanpa memandang suku, agama dan budaya. Tempe menjadi makanan yang penuh gizi dan enak dengan harga yang cukup terjangkau oleh wong cilik. Jadi, membuat dan menjual penganan tempe ini tidak akan pernah rugi, kecuali kalo stok kacang kedelai “hilang” dari pasaran (seperti pernah terjadi di tahun 2009 lalu). Sudah bisa dipastikan jika hal itu dibiarkan berlarut-larut akan membuat profesi seperti Mbah Harjo akan gulung tikar.
Perkenalanku dengan mbah Harjo, terjadi karena aku pernah mondok di rumahnya selama kurang lebih 3 bulan dalam rangka KKN (kuliah kerja nyata) FH-UNSRI tahun 1992 dari bulan Agustus sampai Oktober, di Desa Toman, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Sekayu. Ramah dan baik hati, begitulah kesanku terhadap pasangan bakul tempe ini. Kami yang numpang berteduh di rumahnya selama 3 bulan tidak dikenai ongkos satu sen pun. Termasuk untuk bayar listrik yang saat itu memakai jasa iuran genset. Bahkan pernah saat saya bersepeda menyusuri jalan-jalan di Desa Toman, dicegat oleh Mbah Harjo, hanya untuk diberi sekantong tempe. Terharu dibuatnya.
Kini setelah lewat dari 18 tahun, saya terkenang kembali dengan sosok mbah Harjo. Di penghujung tahun 2010 lalu, tepatnya tanggal 31 Des 2010, aku bisa berjumpa kembali dengan beliau. Pak Harjo sudah 9 tahun yang lalu meninggal dunia. Tinggal bu Harjo yang masih sempat aku temui. Di usia 70 tahun, beliau masih terlihat sehat walau sudah sepuh dan berjalannya agak lemah. Jangan salah, beliau masih lincah mengayuh sepeda tuanya yang berusia lebih dari 30 tahun untuk menjajakan tempe ke pasar desa.
Beliau cukup surprised menyambut kedatanganku. Aku memastikan apakah beliau lupa dengan diriku, ternyata beliau masih cukup ingat saat kusebut kami adalah mahasiswa rombongan KKN-Unsri yang meminjam rumah beliau selama 3 bulan secara gratis. Wajah beliau tersenyum saat ingatannya kembali flashback ke 18 tahun yang lampau dan meluncurlah kata-kata “Ngape, ika dak nginep di sika?” ‘kenapa kamu tidak nginep disini?’ Walau beliau wong jowo asli, bahasa sehari-hari yang dipakai beliau tetaplah bahasa Sekayu dengan logat jawa tentunya.
Aku tersenyum, menjelaskan bahwa waktuku cukup sempit, kami harus segera pulang ke Palembang, lalu lanjut ke Lampung. Walau hanya 30 menit pertemuan kami, sudah cukup rasanya melepas kerinduan pada bu Harjo. Sebelum pulang aku meminta beliau untuk berpose di samping sepeda tuanya. Beliau memberitahuku bahwa profilenya pernah masuk koran Sriwijaya Post, dengan tema “pedagang tempe”. Ternyata sosok mbah Harjo sudah dikenal di wilayah Sumatera bagian selatan.

(mataponsel–image captured by BB Javelin Curve, 2 MP)

Thanks Bro…sudah bantuin upload.
Ini bukti kebahagiaan dari seseorang yang mencintai pekerjaannya. She looks peaceful and warm. Thanks for sharing, Bu Haji!
Sama_2 bro…. Kebahagiaan bekerja itu bisa tercermin dari senyum di wajahnya ya… So sweet… Thanks bro 4 ur comment.