“Sebelum memulai cerita ringan di bawah ini, izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Adhe (cukup panggil dengan nickname saja), berdomisili di Bandar Lampung, bekerja sebagai “Tukang Buat Akte”, ibu dari 2 anak laki-laki, senang membaca dan juga menulis. Bermula dari perjumpaan dengan Totok dan Dauz, teman lama dari sebuah sekolah menengah di Jakarta, saya diajak serta untuk menjadi kontributor blog ini. Karena hobi saya sama dengan mereka, menulis dan menjeprat-jepret dengan kamera ponsel, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dan mengawalinya dengan tulisan yang berjudul ‘Belajar dari Kebun Jeruk’. Selamat membaca.”
Panas di penghujung bulan April begitu menyengat ketika saya menapaki jalan tanah yang biasa dilewati gerobak sapi. Hari itu saya membawa tiga puluhan nasi bungkus untuk pekerja di kebun jeruk. Jalan menuju kebun memang tidak selalu mulus. Naik turun, berkelok-kelok. Tidak semua jenis kendaraan bisa melintas masuk ke jalur ini, kecuali truk dan mobil bertipe off-road.
Dengan langkah pelan tetapi pasti, dan bermodalkan jilbab sebagai “payung” pelindung panas, sampai juga saya ke tengah kebun jeruk. Langsung terlihat “pemandangan” para buruh petik yang duduk kelelahan di bawah pohon kelapa. Ya, lokasi kebun jeruk itu bersebelahan sama kebun kelapa. Ada juga yang ngaso di bawah gubuk untuk berteduh.
Kata yang pertama terucap ketika bertemu mereka adalah “Maaf ya, Ibu dan Bapak udah lama nunggu, saya terlambat datang.” Iyalah, mereka memang duduk manis menunggu saya datang. Tentu saja bukan cuma saya yang dinanti-nanti, tetapi bingkisan nasi bungkus yang saya bawa. Saya paham betul mereka belum makan karena menunggu saya. Maafkan, seharusnya saya cepat-cepat berangkat tadi, tetapi karena masih ada urusan ya gimana lagi? “Nggak apa-apa, Bu. Kami juga masih ngaso kok. Ini juga ada minuman dan buah jeruk,” kata Pak Tukimin, salah seorang dari mereka membuyarkan rasa tidak nyaman saya.
Saya langsung merambah kebun jeruk yang ada di hadapan mata. Wah, banyak banget buahnya, sampai-sampai pohonnya tidak kuasa menahan berat dan agak doyong ke bawah. Aku melihat satu truk Fuso sedang memuat buah jeruk. Hilang sudah rasa penat akibat terik matahari Lampung karena senang melihat jeruk-jeruk bergelayutan di sana-sini.

Saya tidak hanya melihat dan ikut memetik buah jeruk, tetapi juga menjeprat-jepret suasana kebun lewat kamera ponsel. Sempat juga berbincang-bincang dengan pembuat gula aren. Kenapa gula aren? Ya karena ada pondok pemrosesan gula aren di dekat lokasi kebun jeruk. Seorang ibu tekun mengaduk panci besar berisi air dari pohon kelapa aren. Rupanya cara mendapatkan air aren itu dengan meletakkan jerigen di atas pucuk pohon kelapa. Nah, air yang sudah tertampung di dalam jerigen itulah yang kemudian dimasak hingga kalis. Terakhir adonan aren itu dicetak dalam cetakan bambu yang bentuknya mirip cetakan kue putu.
Ketika saya tanya berapa harganya, si Ibu menjelaskan bahwa harganya Rp5.000 rupiah/kilo. Hmmm … lumayan murah. Jika harus bekerja membuat gula aren dalam kondisi udara yang panas dan berpeluh di sekitar tungku pemasak, rasanya nggak kebayang bahwa “kerja keras” seharian itu hanya menghasilkan sekian ribu rupiah. Tetapi itulah kehidupan wong cilik. Mereka tetap bisa mensyukuri apa yang mereka terima dari-Nya. Yah, kita memang harus banyak belajar dari wong cilik untuk menyikapi hidup secara arif dengan kesederhanaan hidup yang mereka lalui.
Si Ibu pembuat gula aren ini, agak malu saat saya potret dia sedang mengaduk air kelapa aren yang sedang mendidih. Dengan santai saya bilang, “Udah, Ibu gak usah malu. Berdiri aja di situ, biarkan saya mengambil foto ibu.” Dia lalu tersenyum geli mungkin sambil berpikir, “Tumben. Kok ibu ini mau memotret orang yang lagi buat gula aren.” Ternyata bukan hanya orang desa yang terbengong-bengong ketika berkunjung ke kota, orang kota pun ketika turun ke desa juga bisa menjadi terkagum-kagum.

Sambil pulang di dalam kendaraan yang “adem”, saya memikirkan kembali betapa kerasnya orang-orang kecil dalam bekerja. Makin sering bersentuhan dengan kehidupan mereka, makin banyak hal bijak yang bisa kita peroleh.
(mataponsel-image captured by Nokia 6120 Classic, with 2MP built-in camera)

Thanks Bro…udah dimuat.