Sebagai orang Indonesia akhir-akhir ini saya sering sedih. Tetapi di sela-sela kesedihan itu terkadang terselip rasa bangga –baik itu karena sesuatu yang memang patut dibanggakan atau karena dipaksakan— melihat kejadian yang ada di negeri ‘ajaib’ ini.
Sesuatu yang masih bisa dibanggakan, maksud saya murni dibanggakan, dari Indonesia mungkin di pentas seni dan olah raga. Walau untuk olah raga juga masih bulutangkis saja. Itupun dominasinya sudah makin memudar digeser negara-negara jiran dan bahkan beberapa negara Eropa seperti Denmark dan Belanda. Di musik mungkin nasib kita lebih baik. Beberapa duta seni masih sering terdengar manggung atau ‘ditanggap’ di manca negara. Meskipun kadang terselip kisah miris bahwa sebagian dari misi tersebut berangkat dengan kerja keras sendiri. Sementara pemerintah malah terkadang justru membuat repot dengan urusan birokrasi seputar fiskal, visa, dan ‘exit-permit’ lainnya.
Nah, kebanggaan lainnya adalah seperti foto di atas. Sekali lagi mohon maaf untuk kamera ponsel saya yang ‘fakir piksel’. Foto di atas itu adalah foto mikrolet yang saya ambil selagi mengemudi Spark saya di sepanjang jalan TB Simatupang. Saya jelaskan saja. Di dalamnya ada beberapa penumpang. Yang membuat saya tertarik adalah, ternyata di bagian tengah kabin penumpang ada sebuah kotak besar. Saya yakin cukup besar untuk membuat pemiliknya kerepotan memasukkannya ke dalam mikrolet.
Setelah saya amati, ternyata itu adalah sebuah mesin cuci! Sepertinya pemilik mesin cuci ini habis menyervis mesinnya. Mungkin itu mesin cuci murah meriah, yang nyaris seluruh komponennya dari plastik. Biasanya umurnya hanya bertahan 3 bulan. Setelahnya pasti Anda harus ketemu tukang servis. Percaya deh, saya punya satu seperti itu di rumah dan sudah membuktikan sendiri.
Nah, ini yang membuat saya bangga. Jika pemilik mesin cuci ini ada di negara lain yang lebih maju saya yakin kejadian ini tidak bakal terjadi. Soalnya, pasti peraturan melarang penumpang membawa barang ke dalam kabin karena akan mengganggu kenyamanan penumpang lainnya. Mungkin juga karena dia sudah punya mobil atau mampu membayar sewa truk untuk mengantarnya.
Tapi untunglah ia warga Indonesia. Bangsa yang toleransinya tinggi. Begitu tingginya, hingga saya sendiri pernah mengalami hal seperti ini. Bedanya cuma barang bawaannya. Saat itu penumpang di mikrolet saya membawa kambing hidup dan duduk persis di sebelah saya. Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana mungkin. Tapi saya berani sumpah, it really happened! Walhasil, saya harus menahan napas kira-kira 20 hingga 30 menit hingga akhirnya tiba di terminal dan turun dengan badan bau ‘prengus’ kambing!
Hidup Indonesia! Negeri serba bisa!
(mataponsel–image captured by Nokia 7610 with 1 MP built-in camera)

Wah itu benar sekali….sayapun pernah mengalaminya ketika saya berlibur di kota kecil naik delman/doka/ bendi setahu saya kalau kita sudah naik ya tidak ada orang lain yang naik seperti taksi, namun rupanya tidak berlaku didaerah ini…..ketika saya dan teman sedang menikmati pemandangan kota kecil nan sejuk dari atas delman tiba-tiba delman yang kami tumpangi diberhentikan oleh seorang ibu yang membawa beberapa itik untuk dijual ke pasar…….rupanya delman disini seperti angkutan umum, siapa saya bisa naik asalkan masih mampu menampung….jadilah delman yang saya tumpangi penuh dengan itik dan tukang kerupuk yang membawa tempat kaleng kerupuknya….saya sih cuma kasihan dengan kudanya…..dikasih makan apa ya kok bisa kuat begitu….tapi inilah negeri kita…….
gw mau minta tolong klo km ada artikel atau tulisan yang berhubungan dengan mikrolet. gw lg butuh bngt untuk bahan skripsi, gw butuh sejarah dan data2 tentang sesuatu yang berhubungan dengan mikrolet. tolong bantuin ya…
Ya nich mahal