Tidak banyak orang mengetahui bahwa jejak hubungan antara Jepang dan Indonesia sudah dimulai sebelum abad ke-18 ketika Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) menguasai Indonesia. Batavia, bukan Tumasik atau Singapura, menjadi kota pelabuhan paling jaya di kawasan Asia Timur kala itu. Tiap kapal yang akan berangkat dari dan ke Timur Jauh, misalnya China, Jepang, Makao, dan lain-lain biasanya berlabuh di Batavia. Sejalan dengan hal itu, hubungan tidak langsung antara Jepang dan Indonesia pun terjadi. Tidak sedikit barang-barang asal Indonesia yang ikut dalam kargo kapal VOC yang berisi barang komoditas asal Eropa dan akan dibongkar turun di Pelabuhan Nagasaki, Jepang.
Jauh sebelum negara Indonesia berdiri, orang-orang Jepang–terutama sekitar Nagasaki–sudah mengenal Jawa atau Jayakarta (nama sebelum Batavia). Mereka menyukai produk impor asal Jayakarta pada masa itu. Apakah itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah kentang. Jenis kentang asal Jawa ini memang berbeda dengan potato yang biasa dibuat french fries atau fried potato.
Begitu populernya kentang asal Jayakarta ini, oleh orang Jepang, komoditas pertanian ini kemudian diberi nama jayagaruta imo (ubi jayakarta). Karena orang Jepang suka menyingkat sebuah konsep yang panjang menjadi 4 (empat) suku kata; akhirnya, kentang ini populer dengan nama jagaimo (lihat tulisan katakana pada foto di atas: ジャガイモ). Begitu populernya jagaimo ini, banyak makanan–baik yang tradisional maupun makanan kemasan modern–yang menggunakan bahan ini, yakni jagabata (jagaimo with butter), jagariko, jagabee, dan lain-lain. Nah, ternyata kentang lokal kita justru naik derajatnya di negara lain. Jadi, jangan terpukau dengan segala sesuatu yang berasal di luar negeri, sementara hasil bumi (baca: budaya juga) kita malah dimanfaatkan orang lain. Ada pepatah menarik yang cocok untuk menutup posting ini: Mengharap burung terbang tinggi, punai di tangan pun dilepaskan.
(mataponsel–image captured by Nokia N73 with 3.15 MP built-in camera and Carl Zeiss optical lens)
